Digitalisasi Industri Daur Ulang Plastik Indonesia Diperkuat, Siap Masuk Pasar Karbon


Tradingan – #Industri #daur ulang #plastik di #Indonesia terus #diperkuat melalui #pemanfaatan #teknologi #digital. Langkah ini dinilai penting untuk membangun #sistem pengelolaan #material yang lebih terukur, #transparan, dan dapat ditelusuri dari sumber hingga menjadi bahan baku daur ulang.

Digitalisasi Industri Daur Ulang Plastik Indonesia Diperkuat Siap Masuk Pasar Karbon
Digitalisasi Industri Daur Ulang Plastik Indonesia Diperkuat, Siap Masuk Pasar Karbon

Baca: Menggunakan AI untuk Merangkum Laporan Ekonomi yang Panjang

Indonesia saat ini telah memiliki rantai industri daur ulang plastik yang cukup luas. Ekosistem tersebut melibatkan masyarakat, bank sampah, pengumpul atau collector, perusahaan daur ulang, recycler, hingga industri yang kembali menggunakan material hasil daur ulang.

Namun, perkembangan industri tersebut masih menghadapi tantangan dalam hal pencatatan dan pengelolaan data. Aktivitas mulai dari asal material, proses pengumpulan, pengolahan, hingga dampak lingkungan perlu terdokumentasi secara sistematis agar dapat diukur dan diverifikasi.

Digitalisasi Jadi Kunci Penguatan Industri Daur Ulang

Chairwoman Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim mengatakan, kerja sama yang dilakukan para pihak dalam ekosistem daur ulang akan diarahkan untuk terhubung dengan sistem pencatatan digital dan material traceability.

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan perjalanan material dari satu titik ke titik lainnya terdokumentasi secara lebih sistematis.

Dengan adanya pencatatan digital, proses pengelolaan limbah plastik tidak hanya berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan mendaur ulang. Data dari setiap tahapan juga dapat menjadi bagian penting untuk mengetahui asal material, volume yang dikelola, proses pengolahan, serta dampak lingkungan yang dihasilkan.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas industri daur ulang sekaligus memberikan informasi yang lebih jelas bagi pelaku usaha, industri pengguna bahan baku daur ulang, dan pihak-pihak yang membutuhkan data lingkungan.

ADUPI, IDCTA dan ESGIN Perkuat Sistem Digital

Penguatan digitalisasi industri daur ulang plastik dilakukan melalui kolaborasi ADUPI bersama Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) dan PT ESGIN Global Partners.

Ketiga pihak tersebut mendorong penggunaan sistem material traceability serta Digital Monitoring, Reporting and Verification (Digital MRV).

Kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas data lingkungan dan membantu industri mempersiapkan diri menghadapi perkembangan pasar lingkungan serta pasar karbon.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dalam ASEAN Recycling Summit 2026, yang menjadi bagian dari Indo Waste & Recycling 2026 Expo & Forum di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Apa Itu Digital MRV?

Digital MRV merupakan sistem digital yang digunakan untuk melakukan pemantauan, pelaporan, dan verifikasi data lingkungan.

Dalam industri daur ulang plastik, sistem tersebut dapat membantu mengubah aktivitas yang sebelumnya tersebar di berbagai titik menjadi data yang lebih terstruktur.

Data yang dikumpulkan dapat mencakup proses pengumpulan material, pengolahan, volume material, hingga informasi terkait dampak lingkungan.

Dengan data yang lebih rapi dan dapat diverifikasi, pelaku industri memiliki dasar yang lebih kuat dalam melakukan pengukuran kinerja lingkungan.

Christine Halim mengatakan, data lingkungan yang kredibel juga dapat digunakan untuk menilai kesiapan aktivitas atau proyek menuju plastic credit maupun peluang pasar karbon, selama memenuhi metodologi, standar, dan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Cara Meminta AI Mencari Risiko Tersembunyi dalam Sebuah Proyek Kripto

Siapkan Circular Economy Digital MRV Pilot Project

Sebagai tahap awal penerapan sistem tersebut, ADUPI, IDCTA, dan ESGIN akan menjajaki Circular Economy Digital MRV Pilot Project.

Proyek percontohan ini akan melibatkan perusahaan anggota ADUPI yang berpartisipasi secara sukarela.

Ada sejumlah fondasi yang akan dibangun melalui proyek tersebut, mulai dari baseline assessment, kerangka digital traceability, Digital MRV, hingga environmental impact assessment.

Baseline assessment diperlukan untuk mengetahui kondisi awal suatu aktivitas atau proyek. Sementara itu, digital traceability digunakan untuk membangun sistem pelacakan material secara digital.

Setelah fondasi tersebut terbentuk, ketiga pihak dapat melakukan kajian lebih lanjut mengenai kemungkinan pengembangan proyek menuju plastic credit maupun peluang pasar karbon.

Proyek percontohan tersebut juga diharapkan menjadi proof of concept, yakni pembuktian awal mengenai bagaimana kegiatan daur ulang di lapangan dapat diubah menjadi data lingkungan yang lebih terstruktur, transparan, dan dapat diverifikasi.

Jaringan Industri Daur Ulang Jadi Modal Penting

ADUPI memiliki jaringan yang menghubungkan berbagai pelaku dalam ekosistem industri daur ulang, termasuk perusahaan anggota, recycler, collector, bank sampah, serta pelaku industri terkait lainnya.

Christine mengatakan jaringan tersebut dapat mendukung proses identifikasi perusahaan dan lokasi yang berpotensi menjadi bagian dari proyek percontohan.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting karena sistem traceability tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga data dari setiap mata rantai pengelolaan material.

Semakin lengkap data yang tersedia, semakin mudah pula proses penelusuran material dilakukan.

ESGIN Siapkan Infrastruktur Digital

Vice President Regional Head Indonesia ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, ESGIN akan mendukung pembangunan infrastruktur digital yang diperlukan dalam sistem tersebut.

Dukungan itu mencakup pengembangan Digital MRV, material traceability, digital verification, ESG data management, dashboard, serta digital monitoring.

Kehadiran berbagai sistem tersebut diharapkan dapat membantu pelaku industri memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai aktivitas dan dampak lingkungan yang dihasilkan.

Digitalisasi juga dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelaporan dan memudahkan proses verifikasi data.

IDCTA Fokus pada Kesiapan Pasar Karbon

Sementara itu, Chairman IDCTA Riza Suarga menyebut pihaknya akan memperkuat aspek kesiapan menuju pasar karbon.

Fokus tersebut mencakup carbon accounting, market integrity, pengembangan kapasitas, jaringan pasar, serta kerja sama nasional dan internasional.

Carbon accounting sendiri merupakan proses pencatatan dan penghitungan emisi maupun pengurangan emisi berdasarkan metodologi tertentu.

Adapun market integrity berkaitan dengan upaya menjaga agar perdagangan dan klaim di pasar karbon berjalan berdasarkan data, metodologi, dan aturan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peluang Baru bagi Industri Daur Ulang Plastik

Penguatan digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dapat membuka peluang baru bagi industri daur ulang plastik Indonesia.

Dengan adanya data yang lebih terstruktur dan dapat diverifikasi, pelaku industri berpotensi memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan berbagai skema pembiayaan dan pasar lingkungan.

Namun, peluang menuju plastic credit maupun pasar karbon tetap membutuhkan pemenuhan metodologi, standar, dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, pembangunan sistem digital dan mekanisme verifikasi menjadi salah satu bagian penting sebelum aktivitas daur ulang dapat dikembangkan lebih jauh ke dalam instrumen pasar lingkungan.

Menuju Ekonomi Sirkular yang Lebih Transparan

Digitalisasi industri daur ulang plastik pada akhirnya diarahkan untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.

Dalam konsep ekonomi sirkular, material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi sehingga memiliki nilai ekonomi dan dapat mengurangi kebutuhan terhadap bahan baku baru.

Sistem material traceability dan Digital MRV dapat membantu memastikan proses tersebut memiliki data yang jelas, mulai dari material masuk hingga hasil pengolahan.

Baca Juga: Pajak E-Commerce Ditunda, Purbaya Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen dan Jaga Daya Beli Masyarakat

Dengan semakin terintegrasinya masyarakat, bank sampah, pengumpul, recycler, perusahaan daur ulang, dan industri pengguna material daur ulang, ekosistem pengelolaan plastik di Indonesia diharapkan menjadi lebih efisien dan transparan.

Penguatan digitalisasi ini sekaligus menjadi langkah untuk mempersiapkan industri daur ulang menghadapi tuntutan pasar yang semakin membutuhkan informasi mengenai asal material, dampak lingkungan, serta kredibilitas klaim keberlanjutan.

Dengan demikian, pengembangan sistem digital tidak hanya menjadi upaya memperbaiki pencatatan industri daur ulang plastik, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi sirkular dan pengembangan pasar lingkungan di masa mendatang.

One Reply to “Digitalisasi Industri Daur Ulang Plastik Indonesia Diperkuat, Siap Masuk Pasar Karbon”

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.

Eksplorasi konten lain dari Tradingan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca