#Tradingan – #Order Flow Trading Menggunakan #Footprint Chart dan #Cumulative Volume Delta (#CVD) – Dalam dunia #trading modern, semakin banyak trader yang menyadari bahwa membaca pergerakan harga tidak cukup hanya dengan melihat #candlestick chart atau indikator #teknikal konvensional seperti #RSI, #MACD, atau #Moving Average. Para trader profesional dan institusional kini banyak beralih ke pendekatan yang lebih dalam, yaitu Order Flow Trading — metode #analisis yang berfokus pada bagaimana pesanan (order) dieksekusi di pasar secara real-time.
Baca Juga: Sniper Entry Strategy di Area Premium & Discount Zone
Dua alat utama dalam pendekatan ini adalah Footprint Chart dan Cumulative Volume Delta (CVD). Keduanya memberikan pandangan yang lebih detail tentang keseimbangan kekuatan antara pembeli dan penjual, serta membantu trader memahami apakah pergerakan harga benar-benar didukung oleh volume yang kuat atau tidak.
Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana cara kerja order flow, apa itu Footprint Chart dan CVD, serta bagaimana keduanya digunakan secara bersamaan untuk memperkuat keputusan trading.

1. Pengertian Order Flow Trading
Order Flow Trading adalah metode analisis yang berfokus pada aktivitas aktual dari para pelaku pasar — yaitu transaksi beli dan jual yang benar-benar terjadi. Berbeda dengan analisis teknikal klasik yang hanya menilai hasil akhirnya (seperti bentuk candlestick), order flow berusaha memahami apa yang terjadi di balik pergerakan harga tersebut.
Trader order flow mempelajari bagaimana volume, agresivitas, dan ketidakseimbangan antara pembeli dan penjual membentuk arah pasar.
Contohnya, jika harga naik tetapi volume beli yang agresif justru menurun, maka ada kemungkinan bahwa kenaikan tersebut tidak solid atau bahkan manipulatif. Sebaliknya, jika harga bertahan di level support sementara volume jual yang besar terus diserap, bisa jadi sedang terjadi proses akumulasi oleh pelaku besar (smart money).
Dengan kata lain, order flow memberikan informasi “di balik layar” yang tidak terlihat oleh trader biasa.
2. Apa Itu Footprint Chart
Footprint Chart adalah alat visualisasi dalam analisis order flow yang menampilkan data transaksi secara detail di dalam setiap candlestick atau bar harga. Jika candlestick biasa hanya menampilkan harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah, Footprint Chart menambahkan dimensi baru — yaitu berapa banyak volume yang diperdagangkan di setiap level harga, dan dari sisi mana (beli atau jual).
Contoh sederhananya dapat dilihat pada tabel berikut:
| Level Harga | Volume Beli (Ask) | Volume Jual (Bid) |
|---|---|---|
| 100.50 | 120 | 80 |
| 100.45 | 90 | 150 |
| 100.40 | 70 | 200 |
Dari data tersebut, kita dapat melihat secara jelas di level harga mana pembeli lebih agresif (ask volume tinggi) dan di mana penjual lebih kuat (bid volume tinggi).
Jenis-jenis Footprint Chart
- Bid x Ask Footprint: Menampilkan volume transaksi di sisi bid dan ask untuk setiap level harga.
- Delta Footprint: Menampilkan selisih (delta) antara volume beli dan jual.
- Volume Footprint: Menunjukkan total volume tanpa membedakan sisi beli atau jual.
Dengan Footprint Chart, trader dapat menilai apakah pergerakan harga benar-benar didukung oleh aktivitas beli atau jual yang kuat, atau sekadar terjadi karena likuiditas yang tipis.
Baca Juga: Weekly Bias Mapping: Menentukan Arah Mingguan Menggunakan Multi-Structure View
3. Mengenal Cumulative Volume Delta (CVD)
Cumulative Volume Delta (CVD) adalah indikator yang menjumlahkan selisih antara volume beli dan volume jual dari waktu ke waktu.
Perhitungannya sederhana:
Delta = Volume Beli (Market Buy) – Volume Jual (Market Sell)
Kemudian nilai delta tersebut diakumulasikan secara terus-menerus untuk membentuk grafik CVD.
Cara Membaca CVD
- CVD Naik: Menunjukkan tekanan beli (buy pressure) meningkat. Lebih banyak trader yang melakukan order beli agresif.
- CVD Turun: Menandakan tekanan jual meningkat. Penjual mendominasi pasar.
- CVD Datar: Menunjukkan keseimbangan antara pembeli dan penjual atau pasar dalam kondisi konsolidasi.
Pentingnya Divergensi CVD
Salah satu sinyal paling berguna dari CVD adalah divergence — ketika arah pergerakan harga tidak sejalan dengan arah CVD.
Contoh:
Jika harga naik tetapi CVD tidak ikut naik (bahkan turun), ini menandakan bahwa kenaikan harga tidak didukung oleh pembelian agresif. Biasanya kondisi ini terjadi sebelum reversal atau false breakout.
4. Menggabungkan Footprint Chart dan CVD dalam Analisis
Kombinasi antara Footprint Chart dan CVD memberikan pandangan yang sangat komprehensif terhadap aktivitas pasar. Footprint Chart menunjukkan di mana aktivitas perdagangan terjadi, sedangkan CVD menunjukkan bagaimana arah tekanan volume secara keseluruhan.
Berikut interpretasi umumnya:
| Kondisi Pasar | Footprint Chart | CVD | Makna |
|---|---|---|---|
| Harga naik, delta positif kuat | Dominasi volume beli di level ask | CVD naik tajam | Tren naik solid |
| Harga naik, delta lemah | Aktivitas beli lemah | CVD datar | Potensi false breakout |
| Harga turun, delta negatif kuat | Penjual dominan di bid | CVD turun tajam | Tren turun kuat |
| Harga turun, CVD datar | Tekanan jual melemah | CVD stabil | Potensi akumulasi |
Dengan memahami hubungan ini, trader dapat mengenali apakah suatu pergerakan harga didukung oleh order yang kuat atau sekadar pergerakan teknikal sementara.
5. Strategi Dasar Menggunakan Footprint dan CVD
Berikut langkah-langkah sederhana untuk menggunakan kedua alat ini secara praktis:
- Tentukan area penting pada chart (support, resistance, atau area keseimbangan harga).
- Amati Footprint Chart di area tersebut. Jika terlihat banyak volume jual besar namun harga tidak turun, bisa jadi sedang terjadi absorpsi oleh pembeli besar.
- Periksa grafik CVD untuk konfirmasi:
- Jika CVD perlahan naik meski harga sideways, ada kemungkinan pembeli sedang mengakumulasi posisi.
- Jika harga naik tetapi CVD menurun, waspadai potensi bull trap.
- Gunakan konfirmasi tambahan seperti breakout delta positif di Footprint untuk entry yang lebih presisi.
Strategi ini sangat efektif digunakan pada timeframe intraday atau scalping, di mana pergerakan volume lebih cepat terlihat.
6. Kelebihan dan Kekurangan Order Flow Analysis
Kelebihan:
- Memberikan pandangan yang lebih nyata terhadap dinamika pasar.
- Dapat mendeteksi aksi pelaku besar lebih awal dibanding indikator lagging.
- Memperkuat validasi sinyal entry atau breakout.
Kekurangan:
- Membutuhkan platform berbayar dengan data tick real-time (seperti Sierra Chart, Bookmap, ATAS, atau ExoCharts).
- Kurva belajar cukup tinggi bagi pemula.
- Kurang efektif digunakan pada timeframe tinggi karena data volume yang terlalu padat.
Baca Juga: Volume Divergence Entry: Mendeteksi Ketidakseimbangan Institusional
Kesimpulan
Order Flow Trading memberikan pemahaman mendalam mengenai aliran transaksi aktual yang membentuk pergerakan harga. Dengan memanfaatkan Footprint Chart dan Cumulative Volume Delta (CVD), trader dapat melihat dengan jelas di mana tekanan beli dan jual terjadi, serta mengukur kekuatan di balik setiap gerakan harga.
Pendekatan ini tidak hanya membantu trader mengenali tren yang valid, tetapi juga menghindari jebakan pasar seperti false breakout dan manipulasi harga jangka pendek.
Meskipun membutuhkan waktu untuk mempelajari dan memahami, analisis order flow adalah salah satu pendekatan paling kuat untuk membaca sentimen pasar secara real-time. Dengan kombinasi analisis teknikal dan order flow yang solid, trader dapat meningkatkan akurasi keputusan dan menjadi lebih adaptif terhadap dinamika pasar yang sesungguhnya.




[…] Baca Juga: Order Flow Trading Menggunakan Footprint Chart dan Cumulative Volume Delta (CVD) […]