Tradingan – #Kinerja #pasar #saham #Indonesia #masih #belum #mampu #mengejar #laju #penguatan #bursa #Asia #lainnya. Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tertinggal dibandingkan indeks utama di kawasan Asia sepanjang 2026.

Pada penutupan perdagangan Senin, 27 April 2026, IHSG ditutup melemah 0,32% atau turun 22,97 poin ke level 7.106,52. Koreksi ini menegaskan bahwa pasar domestik masih bergerak di bawah tekanan, meski mayoritas bursa saham Asia justru berhasil mencatatkan penguatan signifikan.
Sebaliknya, indeks saham utama Asia menunjukkan performa yang lebih solid. Nikkei 225 Jepang naik 1,38% ke level 60.537, Shanghai Composite China menguat 0,16% ke 4.086, Kospi Korea Selatan melonjak 2,15% ke 6.615, dan Taiex Taiwan melesat 1,76% ke 39.616. Perbedaan performa ini memperlihatkan bahwa investor global masih lebih agresif mengalihkan dana ke pasar yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat.
IHSG Masih Jadi Underperformer di Asia
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan sejumlah bursa Asia seperti Jepang dan Korea Selatan mencerminkan adanya rotasi dana ke pasar yang lebih growth driven, khususnya negara yang memiliki eksposur besar terhadap tema kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor.
Dalam konteks tersebut, IHSG masih tergolong sebagai salah satu indeks dengan performa terlemah di Asia dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Liza, kondisi ini bukan semata disebabkan oleh fundamental domestik, melainkan kombinasi sejumlah tekanan eksternal dan internal.
Baca juga: Manajemen Modal Saat Terjebak Overconfidence Phase dalam Trading
Faktor utama yang masih membebani IHSG antara lain pelemahan rupiah yang bertahan di atas Rp 17.000 per dolar AS, arus keluar dana asing (foreign outflow) yang belum berhenti, serta tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap kenaikan harga energi global.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah, menambahkan bahwa pasar domestik juga masih dibayangi sentimen penting dari rencana pengumuman quarterly rebalancing MSCI pada 12 Mei 2026. Agenda ini dinilai berpotensi memengaruhi arus modal asing dan meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam tren turun jangka menengah dengan tekanan jual yang relatif kuat. Meski begitu, peluang rebound jangka pendek masih terbuka setelah koreksi membawa indeks kembali menguji area Fibonacci retracement 61,8% di kisaran 7.140.
Valuasi IHSG Murah, Tapi Belum Tentu Menarik
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia sebenarnya mulai terlihat murah. Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Dipta Daniswara, mengungkapkan bahwa price to earnings ratio (PER) IHSG saat ini berada di kisaran 16,8 kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya yang berada di rentang 18 kali hingga 19,8 kali.
Secara historis, valuasi tersebut menunjukkan bahwa IHSG saat ini relatif murah. Namun, jika dilihat menggunakan pendekatan price/earnings to growth (PEG), gambaran valuasi menjadi kurang menarik.
Saat ini PEG ratio IHSG berada di kisaran 2,5 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang yang hanya sekitar 0,34 kali, China 0,75 kali, dan Hong Kong 0,82 kali. Ini menunjukkan bahwa meskipun saham Indonesia tampak murah secara PER, valuasinya masih kalah kompetitif jika dibandingkan dengan potensi pertumbuhan laba di negara lain.
Artinya, pasar saham Indonesia bukan mahal, tetapi kalah dari sisi daya tarik pertumbuhan. Inilah yang membuat investor asing masih lebih tertarik ke pasar seperti Jepang dan Korea Selatan yang memiliki narasi pertumbuhan lebih kuat, terutama dari sektor AI dan teknologi.
Fath juga menambahkan bahwa berdasarkan proyeksi tim risetnya, valuasi price to earnings (P/E) Indonesia untuk full year 2026 berada di level 11,8 kali. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan valuasi termurah di kawasan ASEAN.
Meski demikian, valuasi murah saja belum cukup untuk menarik arus modal asing kembali masuk secara agresif. Investor global saat ini masih menunggu perbaikan sentimen makro yang lebih kuat sebelum kembali masuk ke pasar domestik.
Prospek IHSG 2026: Masih Bottoming, Belum Recovery Penuh
Untuk prospek ke depan, Liza menilai IHSG masih berada dalam fase bottoming atau pembentukan dasar. Artinya, pasar memang mulai mendekati area murah, tetapi belum sepenuhnya masuk fase pemulihan.
Secara teknikal, area 6.900 hingga 7.000 menjadi zona support penting yang akan menentukan arah IHSG dalam jangka pendek. Jika level ini mampu bertahan, maka peluang rebound masih terbuka.
Sementara itu, target kenaikan jangka menengah berada di kisaran 7.400 hingga 7.600, dengan catatan tekanan eksternal seperti rupiah, harga minyak, dan arus modal asing mulai mereda.
Dari sisi sentimen, peluang stabilisasi rupiah dan valuasi pasar yang semakin menarik dapat menjadi katalis positif. Namun, pasar tetap perlu mewaspadai risiko dari tingginya harga minyak dunia, tekanan inflasi global, serta ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Liza juga menyoroti bahwa saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI kini mulai mendekati area support historis setelah mengalami koreksi cukup dalam. Ini membuka peluang akumulasi bertahap, meski tetap harus dilakukan secara selektif.
Namun, tantangan terbesar IHSG saat ini adalah persoalan momentum. Dibandingkan Jepang dan Korea Selatan yang diuntungkan tema AI dan pertumbuhan laba kuat, IHSG dinilai kalah narasi dan kalah momentum.
Dengan kata lain, masalah utama IHSG bukan sekadar valuasi, melainkan minimnya katalis pertumbuhan jangka pendek yang mampu menarik investor global.
IHSG Bisa ke 10.000, Tapi Ada Syaratnya
Di tengah tekanan jangka pendek, peluang bullish IHSG untuk jangka menengah hingga panjang masih tetap terbuka.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai IHSG masih berpotensi menuju level psikologis 10.000 dalam skenario bullish.
Namun, kenaikan tersebut hanya bisa terjadi jika didukung kombinasi katalis yang kuat, seperti pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil, pelonggaran suku bunga, stabilitas rupiah, serta membaiknya arus modal asing ke pasar Indonesia.
Jika kombinasi faktor tersebut tercapai, IHSG berpeluang keluar dari fase konsolidasi panjang dan memasuki tren penguatan baru.
Strategi Investasi: Tetap Defensif dan Selektif
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, investor disarankan tetap defensif dan tidak terlalu agresif.
Liza menilai strategi terbaik saat ini adalah buy on weakness secara bertahap, khususnya pada saham-saham large caps yang sudah terkoreksi dalam. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dibandingkan melakukan akumulasi agresif di tengah ketidakpastian global.
Fokus utama investor tetap harus tertuju pada stabilisasi makro, terutama pergerakan rupiah dan yield obligasi. Selama dua faktor ini belum membaik, pergerakan IHSG masih akan cenderung volatil.
Sementara itu, Dipta menyarankan investor untuk lebih selektif berbasis sektor. Di tengah tekanan indeks, sektor komoditas dinilai masih memiliki daya tarik karena didukung katalis yang lebih kuat dan masih menjadi sasaran akumulasi investor asing.
Data foreign flow periode 20–24 April 2026 menunjukkan bahwa investor asing masih membukukan net buy pada sejumlah saham komoditas. Ini menandakan bahwa meski indeks melemah, minat asing terhadap sektor dengan prospek kuat masih tetap terjaga.
Sektor yang dinilai menarik untuk dicermati saat ini meliputi nikel, migas, emas, dan CPO.
Rekomendasi Saham Pilihan 2026
Berikut sejumlah saham pilihan yang menarik untuk dicermati di tengah volatilitas IHSG:
Baca Juga: Kenapa Trader Tetap Rugi Walau Sudah Pakai Risk Management
1. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
Rekomendasi: Speculative Buy
Target Price: Rp 8.575 – Rp 8.800
Entry Price: Rp 8.000 – Rp 8.375
Stop Loss: Rp 7.650
2. PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)
Rekomendasi: Speculative Buy
Target Price: Rp 1.820 – Rp 1.870
Entry Price: Rp 1.700 – Rp 1.780
Stop Loss: Rp 1.630
3. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
Rekomendasi: Speculative Buy
Target Price: Rp 1.600 – Rp 1.650
Entry Price: Rp 1.500 – Rp 1.565
Stop Loss: Rp 1.440
Kesimpulan
IHSG memang masih tertinggal dibandingkan bursa Asia lainnya sepanjang 2026. Meski valuasi pasar saham Indonesia mulai terlihat murah, investor global masih menilai pasar domestik kalah menarik dari sisi pertumbuhan dan momentum.
Dalam jangka pendek, IHSG masih rawan bergerak fluktuatif. Namun untuk jangka menengah hingga panjang, peluang penguatan tetap terbuka jika stabilitas makro membaik, rupiah menguat, dan arus modal asing kembali masuk.
Untuk saat ini, strategi terbaik adalah tetap defensif, selektif, dan fokus pada sektor yang masih memiliki katalis kuat, terutama komoditas dan saham-saham large caps yang sudah terkoreksi dalam.



