Tradingan – #Bitcoin #kembali #menjadi #sorotan #pasar #kripto #setelah #menunjukkan #pemulihan #signifikan #sepanjang #Juli. Mata uang kripto terbesar di dunia ini diperdagangkan di kisaran US$64.600 setelah sebelumnya sempat turun di bawah US$58.000 pada awal bulan. Pergerakan tersebut memunculkan optimisme bahwa Bitcoin memiliki peluang melanjutkan kenaikan hingga mendekati level psikologis US$72.000.

Optimisme tersebut diperkuat oleh aktivitas perdagangan opsi dalam jumlah besar yang dilakukan investor institusional. Strategi yang digunakan mengindikasikan ekspektasi bahwa harga Bitcoin berpotensi naik menuju area US$70.000 hingga US$72.000 menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca: Mengapa Target Profit Terlalu Besar Justru Bisa Merugikan
Investor Institusional Mulai Ambil Posisi
Data pasar menunjukkan adanya transaksi sekitar 20.000 kontrak opsi call Bitcoin dengan harga strike US$70.000 yang dikombinasikan dengan penjualan opsi call di level US$72.000. Nilai nosional strategi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$2,5 miliar.
Strategi ini memberikan keuntungan apabila harga Bitcoin naik secara bertahap hingga mendekati US$72.000, namun membatasi potensi keuntungan apabila harga bergerak lebih tinggi. Besarnya transaksi membuat banyak analis menilai posisi tersebut berasal dari investor institusional, bukan investor ritel.
Keputusan The Fed Jadi Penentu Arah Pasar
Pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan juga dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan pasar berjangka, mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Baca Juga: Kesalahan Menghitung Risk Reward yang Jarang Disadari
Meski data inflasi mulai menunjukkan perlambatan, meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak masih berpotensi memicu tekanan inflasi baru. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Kontroversi Proposal Tata Kelola Bitcoin
Di balik optimisme harga, komunitas Bitcoin juga menghadapi perdebatan terkait usulan Bitcoin Improvement Proposal (BIP) 110. Proposal tersebut mengusulkan pembatasan ukuran data pada transaksi melalui mekanisme soft fork.
Pendukung proposal menilai langkah tersebut dapat mengurangi penyalahgunaan ruang penyimpanan blockchain sekaligus meringankan beban operator node. Namun sejumlah tokoh industri, termasuk Michael Saylor dan Adam Back, mengingatkan bahwa penerapan aturan tanpa dukungan luas berpotensi memecah komunitas serta mengganggu netralitas jaringan Bitcoin.
Konsentrasi Penambangan Jadi Sorotan
Selain isu tata kelola, konsentrasi kekuatan penambangan Bitcoin juga menjadi perhatian.
Beberapa data menunjukkan lebih dari 70 persen kekuatan komputasi (hashrate) jaringan Bitcoin masih dikuasai oleh empat mining pool terbesar. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai tingkat desentralisasi jaringan, yang selama ini menjadi salah satu keunggulan utama Bitcoin.
Koefisien Nakamoto untuk sektor penambangan juga menunjukkan hanya diperlukan tiga pool besar untuk menguasai lebih dari separuh blok yang diproduksi jaringan. Meski demikian, hingga kini jaringan Bitcoin tetap beroperasi secara normal dan para pelaku industri masih terus memperdebatkan solusi terbaik untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi dan desentralisasi.
Pergerakan Altcoin Ikut Menguat
Di tengah penguatan Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga bergerak positif.
Ethereum mencatat kenaikan lebih dari satu persen, diikuti XRP yang ikut menguat. Solana, BNB, Cardano, hingga Dogecoin juga membukukan penguatan meski dalam persentase yang lebih terbatas.
Kondisi tersebut menunjukkan sentimen pasar kripto secara keseluruhan masih cukup positif, meski investor tetap mencermati berbagai faktor makroekonomi dan perkembangan regulasi yang dapat memengaruhi volatilitas aset digital dalam waktu dekat.

[…] Baca: Bitcoin Berpeluang Tembus US$72.000, Investor Waspadai Isu Tata Kelola dan Konsentrasi Penambangan […]