Tradingan – #Pasar #aset #kripto kembali menghadapi tekanan setelah #Bitcoin dan #Ethereum mengalami #penurunan #harga. Kondisi tersebut membuat perhatian #trader kembali tertuju pada risiko terulangnya peristiwa 10-10, yaitu #crash besar yang sebelumnya dipicu oleh tingginya penggunaan #leverage di #pasar #derivatif #kripto.
Dalam perdagangan terbaru, Bitcoin (BTC) turun sekitar 1,7% ke kisaran US$84.100, sementara Ethereum (ETH) terkoreksi sekitar 3,5%. Penurunan tersebut juga memicu aksi likuidasi posisi long dalam jumlah besar.

Dalam waktu sekitar satu jam, posisi long senilai US$403,58 juta dilaporkan terlikuidasi. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan penting di kalangan pelaku pasar: apakah pasar kripto saat ini sedang membangun kondisi yang dapat memicu crash seperti 10-10?
Baca: Tokocrypto Mengembangkan Infrastruktur Trading Kripto di Indonesia
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan BeInCrypto di TradingView, memang terdapat sejumlah kesamaan, terutama dari sisi meningkatnya leverage. Namun, kondisi pasar saat ini juga memiliki beberapa perbedaan penting yang membuat risiko crash besar belum sepenuhnya sama dengan periode sebelum 10-10.
Leverage Kripto Kembali Meningkat
Perbandingan dengan peristiwa 10-10 terutama berkaitan dengan pasar derivatif. Crash sebelumnya dipengaruhi oleh tingginya penggunaan uang pinjaman atau leverage yang membuat posisi trader menjadi sangat rentan ketika harga bergerak berlawanan.
Menjelang peristiwa 10-10, open interest atau OI Bitcoin meningkat sekitar 4,1% dalam lima hari. Saat ini, kondisi serupa kembali terlihat dengan open interest Bitcoin naik sekitar 4% dalam satu pekan hingga mencapai 650.480 BTC, berdasarkan data CoinGlass yang dikutip dalam laporan tersebut.
Open interest menggambarkan total nilai kontrak futures yang masih terbuka. Semakin tinggi OI, semakin besar pula posisi yang masih aktif di pasar derivatif.
Namun, peningkatan OI tidak otomatis berarti pasar akan mengalami crash. Faktor lain seperti funding rate, likuiditas dan posisi trader juga perlu diperhatikan.
Kondisi Bitcoin dan Ethereum Tidak Persis Sama
Jika open interest dibandingkan dengan ukuran pasar, situasinya ternyata belum sama dengan sebelum crash.
OI Bitcoin saat ini setara sekitar 3,2% dari kapitalisasi pasarnya, sedangkan sebelum crash angkanya berada di sekitar 3,7%.
Untuk Ethereum, open interest berada di sekitar 10,4% dari kapitalisasi pasar, sedikit di bawah level sebelumnya yang mencapai sekitar 11,3%.
Artinya, meskipun leverage kembali meningkat, struktur pasar belum sepenuhnya menunjukkan kondisi ekstrem seperti sebelum peristiwa 10-10.
Hal menarik lainnya terlihat ketika open interest dihitung berdasarkan jumlah Bitcoin dan bukan hanya nilai dolar.
Sejak 10 Oktober 2025 hingga sebelum penurunan terbaru, OI Bitcoin dalam denominasi dolar memang turun sekitar 38,6%. Namun jika dihitung berdasarkan jumlah BTC, penurunannya hanya sekitar 12,7%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga Bitcoin turut memengaruhi nilai dolar dari open interest.
Dengan kata lain, jika menggunakan ukuran pasar sebagai pembanding, tingkat leverage yang ditanggung pasar saat ini masih cukup besar.
Funding Rate Menjadi Pembeda Penting
Salah satu perbedaan utama antara kondisi pasar sekarang dan periode sebelum 10-10 adalah funding rate.
Funding rate merupakan biaya yang dibayarkan antarposisi trader dalam kontrak perpetual. Secara sederhana, indikator ini dapat memberikan gambaran mengenai seberapa kuat dominasi posisi long atau bullish di pasar.
Sebelum peristiwa 10-10, funding rate Bitcoin dan Ethereum di Binance serta Bybit sempat berada di atas 8% secara tahunan dalam 18 dari 32 hari perdagangan.
Kondisinya berbeda pada periode sekarang. Funding rate hanya melewati angka 8% sebanyak satu kali dalam 28 hari perdagangan dan bahkan sempat berada di wilayah negatif sebanyak tiga kali.
Data Deribit juga memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan. Funding rate harian Bitcoin sebelumnya sempat mencapai 26,9%, sedangkan pada periode terbaru hanya sekitar 7,1%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa trader saat ini tidak terlalu agresif membayar biaya tinggi untuk mempertahankan posisi bullish dengan leverage.
Baca Juga: Perubahan Biaya Trading Tokocrypto dan Dampaknya bagi Trader
Likuiditas USDe Ethena Menyusut
Selain funding rate, kondisi likuiditas juga menjadi faktor penting.
Pasokan USDe milik Ethena dilaporkan mengalami penurunan sekitar 66% menjadi US$4,99 miliar berdasarkan data CoinGecko yang dikutip dalam laporan.
USDe merupakan token dolar yang didukung oleh strategi transaksi derivatif dan hedging. Penurunan pasokannya menjadi bagian dari tren deleveraging yang berlangsung sejak Oktober.
Di satu sisi, open interest kembali bertambah. Namun di sisi lain, trader tidak menunjukkan kecenderungan yang sama untuk membayar biaya tinggi demi mempertahankan posisi long.
Kondisi tersebut dapat mengurangi jumlah posisi yang berpotensi terkena likuidasi secara bersamaan.
Likuidasi Terbaru Belum Menunjukkan Crash Seperti 10-10
Tekanan pasar terbaru memang memicu likuidasi besar, tetapi skalanya masih berbeda jauh dibandingkan peristiwa 10-10.
Dalam periode 24 jam hingga Rabu pagi, posisi long yang terlikuidasi mencapai sekitar US$487,02 juta ketika Bitcoin turun sekitar 1,96%.
Jika dihitung berdasarkan penurunan harga, terdapat sekitar US$248 juta likuidasi untuk setiap penurunan 1% harga Bitcoin.
Sebagai perbandingan, ketika peristiwa 10-10 terjadi, angka tersebut mencapai sekitar US$2,2 miliar untuk setiap penurunan 1% Bitcoin.
Artinya, tekanan likuidasi pada peristiwa 10-10 sekitar sembilan kali lebih besar dibandingkan kondisi terbaru.
Karena skala likuidasinya lebih kecil, penurunan terbaru lebih menyerupai proses reset pasar dibandingkan efek domino yang menyebabkan aksi jual besar-besaran.
Bitcoin Berada di Antara Support dan Resistance
Dalam laporan tersebut, Bitcoin berada di sekitar level US$84.100.
Dua level harga penting yang perlu diperhatikan trader adalah:
- Support: sekitar US$82.300
- Resistance: sekitar US$86.000
Jika Bitcoin mampu kembali menembus US$86.000, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa penurunan sebelumnya hanya merupakan koreksi atau reset pasar.
Sebaliknya, apabila Bitcoin kehilangan support US$82.300, tekanan jual berpotensi meningkat. Risiko tersebut akan semakin besar apabila funding rate kembali naik melewati 8% ketika open interest juga terus bertambah.
Apa yang Harus Diperhatikan Trader?
Ada beberapa indikator yang menjadi perhatian utama dalam menghadapi kondisi pasar seperti sekarang.
Pertama adalah open interest Bitcoin. Kenaikan OI menunjukkan semakin banyak kontrak derivatif yang terbuka. Jika kenaikan tersebut dibarengi dengan leverage tinggi, volatilitas dapat meningkat.
Kedua adalah funding rate. Funding rate yang kembali melonjak dapat menunjukkan bahwa posisi long semakin padat. Jika harga kemudian bergerak turun secara tajam, posisi tersebut berpotensi mengalami likuidasi.
Ketiga adalah level US$82.300 pada Bitcoin. Penembusan support tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya tekanan jual.
Keempat adalah level US$86.000. Jika Bitcoin mampu melewati resistance tersebut, peluang bahwa penurunan sebelumnya hanya merupakan koreksi sementara menjadi lebih besar.
Rapat The Fed Bisa Menjadi Pemicu Berikutnya
Selain faktor internal pasar kripto, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian.
Rapat Federal Reserve atau The Fed pada 27-28 Oktober dipandang sebagai salah satu katalis penting bagi pasar ke depan.
Apabila suku bunga kembali dinaikkan setelah kenaikan pada September, imbal hasil obligasi berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpotensi kembali menguji area US$82.300.
Namun, apabila funding rate tetap berada di bawah 8% ketika pasar menghadapi tekanan tersebut, kemungkinan terjadinya koreksi ekstrem seperti 10-10 dinilai lebih terbatas.
Apakah Crash 10-10 Akan Terulang?
Data saat ini menunjukkan adanya beberapa kesamaan dengan kondisi sebelum crash 10-10, terutama dari meningkatnya open interest dan penggunaan leverage.
Namun, belum semua indikator menunjukkan tingkat risiko yang sama.
Funding rate yang relatif lebih rendah, tingkat likuidasi yang jauh lebih kecil serta perubahan kondisi likuiditas membuat struktur pasar saat ini berbeda dari periode sebelum crash besar tersebut.
Dengan demikian, belum ada kepastian bahwa pasar kripto akan mengulang crash 10-10. Namun, trader tetap perlu memperhatikan kombinasi antara open interest, funding rate, likuidasi, pergerakan Bitcoin dan faktor makroekonomi.
Baca Juga: Bitget Adopsi Kustodi Off-Exchange Sygnum, Aset Kripto Institusional Disimpan di Bank Swiss
Kenaikan leverage sendiri bukan selalu sinyal bahwa crash akan terjadi. Risiko menjadi lebih serius apabila leverage meningkat bersamaan dengan funding rate yang tinggi dan harga Bitcoin mulai kehilangan level support penting.
Bagi investor dan trader, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengelola risiko, terutama ketika menggunakan futures atau instrumen dengan leverage. Pergerakan kecil pada harga aset kripto dapat menghasilkan likuidasi besar ketika posisi yang terbuka terlalu agresif.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Pasar cryptocurrency memiliki volatilitas tinggi dan keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
