IHSG Tertekan, Modal Asing Rp10,24 Triliun Cabut: Ini Penyebab dan Prospek Pasar Saham Indonesia


Tradingan – #Pasar #saham #Indonesia menghadapi tekanan cukup besar sepanjang #September #2026. Salah satu perhatian utama datang dari aksi #investor #asing yang melakukan net #sell atau #jual bersih #saham hingga Rp10,24 #triliun.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan arah kebijakan suku bunga global. Arus keluar dana asing ini turut memberikan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kondisi September berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya. Pada Agustus 2026, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun. Namun memasuki September, posisi tersebut berbalik menjadi net sell Rp10,24 triliun.

IHSG Tertekan Modal Asing Rp1024 Triliun Cabut Ini Penyebab dan Prospek Pasar Saham Indonesia
IHSG Tertekan, Modal Asing Rp10,24 Triliun Cabut: Ini Penyebab dan Prospek Pasar Saham Indonesia

Baca: Tokocrypto dan Perkembangan Regulasi Aset Kripto Indonesia

IHSG September 2026 Terkoreksi Hampir 7 Persen

Tekanan dari aksi jual investor asing tercermin pada kinerja IHSG. Pada akhir September 2026, IHSG ditutup di level 6.071,14, atau mengalami koreksi 6,96% secara month-to-month.

Pelemahan tersebut menunjukkan tingginya kehati-hatian pelaku pasar dalam menghadapi ketidakpastian yang terjadi di pasar keuangan global.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saham domestik sepanjang September dipengaruhi oleh meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Sejumlah faktor global yang menjadi perhatian investor antara lain eskalasi tensi geopolitik serta kenaikan suku bunga global. Kondisi tersebut membuat investor semakin selektif dalam menentukan aset dan pasar yang menjadi tujuan investasi.

Kenapa Investor Asing Ramai-Ramai Jual Saham?

Aksi jual investor asing tidak terjadi tanpa alasan. Pasar keuangan global sepanjang 2026 menghadapi berbagai ketidakpastian yang kemudian berdampak terhadap strategi investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

OJK sebelumnya menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG merupakan kombinasi dari faktor global dan domestik. Dari sisi global, pasar dibayangi ketidakpastian geopolitik, gangguan distribusi komoditas, kenaikan harga komoditas, serta tekanan inflasi.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kebijakan suku bunga global yang masih berada pada level tinggi dalam waktu yang relatif lama atau dikenal dengan istilah higher for longer.

Situasi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sekaligus memengaruhi keputusan investor asing dalam mengalokasikan modalnya.

Faktor Domestik Juga Jadi Perhatian Investor

Selain sentimen global, investor juga mencermati perkembangan di dalam negeri.

Menurut OJK, pasar merespons berbagai dinamika kebijakan pemerintah dan implementasinya di lapangan. Investor juga memperhatikan penilaian dari penyedia indeks global.

Berbagai faktor tersebut kemudian ikut membentuk ulang strategi investasi pelaku pasar, baik investor domestik maupun investor asing.

Artinya, pelemahan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Kondisi pasar merupakan hasil interaksi antara sentimen global, perkembangan ekonomi domestik, nilai tukar, suku bunga, fundamental emiten, hingga keputusan investor dalam mengatur kembali portofolionya.

Likuiditas Pasar Modal Indonesia Masih Terjaga

Meskipun pasar saham mengalami tekanan dan dana asing keluar cukup besar, OJK menilai daya tahan serta likuiditas pasar modal domestik masih terjaga.

Salah satu indikatornya terlihat dari rata-rata bid-ask spread pasar saham yang berada di level 1,2% pada September 2026. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,17%.

Bid-ask spread merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat tingkat likuiditas perdagangan suatu aset. Spread yang relatif stabil menunjukkan aktivitas perdagangan masih berlangsung meskipun kondisi pasar sedang bergejolak.

Baca Juga: Bos-Bos Dunia Merapat ke Jakarta Oktober 2026, Ada Apa?

Pasar Obligasi Juga Mengalami Tekanan

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Pasar obligasi Indonesia juga mengalami penyesuaian sepanjang September 2026.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tercatat ditutup pada level 439,05, atau turun 0,23% secara bulanan.

Namun, tekanan keluarnya dana asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih terbatas dibandingkan tekanan yang terjadi pada pasar saham.

Investor asing tercatat melakukan net sell SBN sebesar Rp340 miliar sepanjang September 2026.

Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan aksi jual bersih investor asing di pasar saham yang mencapai Rp10,24 triliun.

Dana Reksa Dana Ikut Mengalami Penyesuaian

Industri pengelolaan investasi juga tidak sepenuhnya terbebas dari tekanan pasar.

OJK mencatat nilai aktiva bersih atau NAB reksa dana pada September 2026 berada di angka Rp637,07 triliun.

Nilai tersebut mengalami penurunan 2,42% secara bulanan.

Penurunan NAB menunjukkan adanya penyesuaian nilai aset yang dikelola industri reksa dana di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

IHSG Masih Berpeluang Pulih

Meski kinerja pasar saham sepanjang 2026 masih berada dalam tekanan, OJK tetap melihat adanya peluang pemulihan pasar domestik.

Hasan Fawzi menyebut pembalikan IHSG dari titik terendahnya pada Juni 2026 menjadi salah satu sinyal bahwa ruang pemulihan pasar masih terbuka.

OJK juga menilai penguatan transparansi, tata kelola, serta perlindungan investor menjadi bagian penting untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor.

Kepercayaan tersebut dibutuhkan tidak hanya dari investor asing, tetapi juga investor domestik, baik investor ritel maupun institusi.

IHSG Mulai Bangkit pada Awal Oktober

Tekanan pada September tidak berarti IHSG terus bergerak turun tanpa jeda.

Pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, IHSG justru berhasil ditutup menguat ke level 6.118,86, naik 81,97 poin atau 1,36%. Data perdagangan juga menunjukkan volume transaksi sekitar Rp9,97 triliun.

Pergerakan tersebut menjadi perkembangan yang menarik bagi investor karena menunjukkan pasar mulai mendapatkan momentum positif setelah mengalami tekanan sepanjang September.

Meski demikian, kenaikan dalam satu hari belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa tren pelemahan IHSG telah sepenuhnya berakhir. Investor tetap perlu mencermati perkembangan sentimen global, kondisi rupiah, suku bunga, kebijakan pemerintah, serta kinerja fundamental perusahaan tercatat.

Kinerja IHSG 2026 Masih Menjadi Perhatian

OJK mencatat kinerja IHSG secara year-to-date hingga awal Oktober 2026 masih mengalami tekanan cukup dalam.

Menurut Hasan Fawzi, IHSG sepanjang 2026 melemah hingga 29,24%. Pelemahan tersebut merupakan kombinasi dari faktor global dan domestik.

Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik, distribusi komoditas, kenaikan harga komoditas, inflasi, serta kebijakan suku bunga global menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pasar.

Sementara dari sisi domestik, investor mencermati dinamika kebijakan dan implementasinya, termasuk perkembangan yang berkaitan dengan pasar modal Indonesia.

Apa Artinya Bagi Investor?

Keluarnya dana asing hingga Rp10,24 triliun dari pasar saham Indonesia menjadi sinyal bahwa investor global sedang meningkatkan kewaspadaan.

Namun, aksi jual investor asing tidak secara otomatis berarti seluruh saham Indonesia kehilangan prospek. Investor perlu melihat kondisi masing-masing perusahaan, terutama fundamental, laporan keuangan, prospek bisnis, valuasi, serta kemampuan perusahaan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

Pergerakan IHSG juga tidak hanya ditentukan oleh investor asing. Investor domestik memiliki peran besar dalam menjaga aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Karena itu, kondisi pasar sebaiknya tidak dilihat hanya dari angka net sell asing, tetapi juga dari keseluruhan faktor yang memengaruhi pasar modal.

Investor Perlu Tetap Waspada

Dengan kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian, volatilitas IHSG berpotensi tetap tinggi.

Investor perlu memperhatikan perkembangan suku bunga global, nilai tukar rupiah, inflasi, harga komoditas, kondisi geopolitik, serta kebijakan ekonomi pemerintah.

Di sisi lain, peluang pemulihan tetap terbuka apabila sentimen global membaik dan fundamental emiten Indonesia menunjukkan perkembangan positif.

Bagi investor ritel, kondisi seperti ini juga menjadi pengingat pentingnya menerapkan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan pergerakan IHSG dalam satu atau dua hari.

Baca Juga: Open Standard Luncurkan Stablecoin OUSD, Didukung Visa, Stripe dan Mastercard

Kesimpulan

Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan berat sepanjang September 2026 setelah investor asing mencatatkan net sell Rp10,24 triliun, berbalik dari net buy Rp1,19 triliun pada Agustus.

Tekanan tersebut ikut membuat IHSG September ditutup di level 6.071,14 atau turun 6,96% secara bulanan. Pasar obligasi dan industri reksa dana juga mengalami penyesuaian.

Meski demikian, OJK menilai daya tahan dan likuiditas pasar modal domestik masih terjaga. Bahkan, memasuki Oktober IHSG mulai menunjukkan penguatan dan pada 5 Oktober 2026 ditutup di level 6.118,86.

Ke depan, arah IHSG masih akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, kondisi ekonomi domestik, kebijakan suku bunga, nilai tukar rupiah, serta kinerja fundamental emiten di Bursa Efek Indonesia.

Catatan: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan kondisi keuangan masing-masing investor.

Sumber: detikFinance dan keterangan OJK, diperbarui dengan perkembangan perdagangan IHSG 5 Oktober 2026.

One Reply to “IHSG Tertekan, Modal Asing Rp10,24 Triliun Cabut: Ini Penyebab dan Prospek Pasar Saham Indonesia”

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.

Eksplorasi konten lain dari Tradingan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca