Saham TINS dan Harga Timah Hari Ini: Diburu Asing, LME Tembus US$55.425 dan Ekspor ke China Melonjak 136%


Tradingan – #Pergerakan #saham PT #Timah Tbk (#TINS) kembali #menjadi #perhatian #investor #seiring dengan kuatnya #harga #timah #dunia, pemulihan kinerja #operasional #perseroan, serta meningkatnya permintaan dari #China.

Saham TINS sebelumnya sempat menembus level Rp4.020 dan menjadi salah satu saham yang banyak diburu investor asing. Dalam beberapa bulan terakhir, akumulasi pembelian bersih asing terhadap saham emiten produsen timah tersebut mencapai sekitar Rp1,5 triliun.

Sentimen positif semakin kuat setelah harga timah dunia kembali bertahan di sekitar level US$55.000 per metrik ton, sementara pasokan timah Indonesia ke China pada Juli 2026 melonjak lebih dari 136 persen secara bulanan.

Saham TINS dan Harga Timah Hari Ini Diburu Asing LME Tembus US55.425 dan Ekspor ke China Melonjak 136
Saham TINS dan Harga Timah Hari Ini: Diburu Asing, LME Tembus US$55.425 dan Ekspor ke China Melonjak 136%

Baca: Mau Merdeka Finansial? blu by BCA Digital Kenalkan 4 Pilar Utama untuk Kelola Keuangan

Harga Saham TINS Terbaru

Berdasarkan data perdagangan terbaru yang tersedia, saham TINS berada di sekitar Rp4.030 per saham pada 29 Agustus 2026, dengan rentang perdagangan Rp3.970 hingga Rp4.120. Sementara itu, harga penutupan perdagangan 27 Agustus berada di Rp4.080, naik 1,49 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa saham TINS masih berada dalam radar investor setelah mengalami penguatan signifikan sepanjang 2026.

Sebelumnya, saham TINS sempat menjadi salah satu saham yang paling banyak dikoleksi investor asing. Dalam periode tiga bulan, net buy asing pada saham TINS mencapai sekitar Rp1,52 triliun, sementara harga sahamnya meningkat sekitar 15,36 persen.

Akumulasi investor asing menjadi salah satu indikator yang menarik perhatian pasar karena terjadi bersamaan dengan membaiknya fundamental perusahaan dan kenaikan harga komoditas timah.

Target Harga TINS Masih Terbuka

Sejumlah analis masih melihat peluang kenaikan saham TINS seiring dengan membaiknya kinerja perseroan.

BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya menaikkan target harga TINS dari Rp4.500 menjadi Rp4.800 per saham. Revisi tersebut didukung oleh peningkatan laba, pemulihan produksi, serta asumsi harga timah LME yang tetap tinggi.

Di sisi lain, terdapat pandangan analis yang memberikan kisaran target lebih tinggi, yakni sekitar Rp4.700-Rp5.000 per saham. Optimisme tersebut antara lain didasarkan pada pemulihan produksi TINS dan potensi normalisasi pasokan timah melalui penertiban aktivitas pertambangan ilegal.

Target Rp5.500 yang sebelumnya menjadi perhatian investor tentu masih merupakan skenario optimistis dan bukan jaminan harga akan tercapai. Investor tetap perlu memperhatikan harga komoditas, produksi, permintaan global, kondisi pasar saham, serta risiko operasional perusahaan.

Laba TINS Semester I 2026 Melonjak

Fundamental TINS menjadi salah satu alasan utama meningkatnya perhatian pasar.

Pada semester I 2026, pendapatan TINS mencapai sekitar Rp10,42 triliun, melonjak 147 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih impresif lagi, laba bersih perseroan mencapai sekitar Rp2,71 triliun, tumbuh sekitar 805 persen secara tahunan dari sekitar Rp300 miliar pada semester I 2025.

Kinerja tersebut ditopang oleh pemulihan produksi dan penjualan serta kenaikan harga jual rata-rata timah.

Produksi bijih timah TINS mencapai sekitar 12.232 ton Sn, naik sekitar 75 persen secara tahunan. Produksi logam timah mencapai 10.865 metrik ton, sedangkan penjualan logam timah sekitar 10.984 metrik ton atau tumbuh sekitar 85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan kinerja tersebut, harga timah global menjadi faktor yang sangat penting bagi prospek laba perusahaan.

Baca: IHSG Hari Ini 28 Agustus 2026 Ditutup Merah di 6.518, Rupiah Menguat ke Rp17.693 per Dolar AS

Harga Timah Dunia Bertahan di Atas US$55.000

Harga timah dunia kembali menjadi katalis utama bagi sektor pertambangan.

Data pasar LME pada 28 Agustus 2026 menunjukkan harga timah cash settlement berada di US$55.125 per ton, sedangkan kontrak tiga bulan berada di sekitar US$55.425 per ton.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa harga timah masih bertahan di level tinggi setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Pada 27 Agustus, harga timah LME cash settlement berada di US$54.950 per ton dan kontrak tiga bulan sekitar US$55.195 per ton. Sehari sebelumnya, kontrak tiga bulan masih berada di sekitar US$55.500 per ton.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa harga timah masih berada dalam zona yang relatif tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Apa Penyebab Harga Timah Tetap Tinggi?

Salah satu faktor utama adalah persoalan pasokan.

Timah merupakan komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dari negara produsen utama, termasuk Indonesia dan Myanmar.

Ketika pasokan terganggu sementara permintaan industri tetap kuat, harga timah berpotensi mendapatkan dukungan.

Selain itu, permintaan dari industri teknologi, elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, dan berbagai produk berbasis solder turut menjadi faktor yang diperhatikan pasar.

Data LME juga menunjukkan persediaan timah berada pada level relatif rendah. Pada 28 Agustus 2026, stok timah di gudang LME tercatat sekitar 5.550 ton, turun 40 ton dari hari sebelumnya.

Kondisi persediaan yang ketat menjadi salah satu faktor yang membuat pasar tetap memperhatikan kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut.

Ekspor Timah Indonesia ke China Melonjak 136 Persen

Selain harga global, perkembangan perdagangan Indonesia-China juga menjadi perhatian.

Berdasarkan data statistik Bea Cukai China yang dikutip Wow Babel, impor timah olahan China pada Juli 2026 mencapai sekitar 2.269,39 metrik ton, naik 84,75 persen dibandingkan Juni dan meningkat 4,74 persen secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, pasokan timah olahan dari Indonesia mencapai 1.763,7 metrik ton.

Angka tersebut melonjak 136,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 117,03 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya.

Dengan demikian, Indonesia menyumbang sekitar 77,71 persen dari total impor timah olahan China pada periode tersebut.

Data ini memperlihatkan betapa pentingnya Indonesia dalam rantai pasok timah China.

China Menjadi Pasar Penting Timah Indonesia

China merupakan salah satu konsumen timah terbesar dunia. Permintaan dari negara tersebut memiliki pengaruh besar terhadap pasar timah global.

Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai timah yang berasal dari Indonesia dan diekspor ke China disebut mencapai sekitar US$391,41 juta.

Lonjakan impor pada Juli menjadi sinyal bahwa permintaan dari China masih menjadi salah satu faktor pendukung bagi perdagangan timah Indonesia.

Bagi perusahaan seperti TINS, peningkatan permintaan tersebut dapat menjadi peluang selama perseroan mampu menjaga volume produksi dan penjualan.

Kurs Rupiah Menjadi Faktor Tambahan

Pergerakan rupiah juga penting bagi perusahaan komoditas yang memiliki eksposur terhadap transaksi dolar AS.

Pada 29 Agustus 2026 pukul 10.22 WIB, kurs e-Rate BCA mencatat dolar AS pada posisi Rp17.680 untuk beli dan Rp17.780 untuk jual.

Sementara itu, data kurs BI untuk 28 Agustus mencatat kurs tengah USD/IDR sekitar Rp17.762.

Kurs rupiah yang berada di level tinggi terhadap dolar dapat memberikan pengaruh terhadap penerimaan eksportir ketika pendapatan dalam dolar dikonversi ke rupiah. Namun, dampaknya terhadap laba tetap bergantung pada struktur biaya, kewajiban valas, dan kebijakan lindung nilai perusahaan.

Prospek Saham TINS

Jika harga timah tetap bertahan di sekitar US$55.000 per ton, permintaan China terus kuat, dan produksi TINS dapat dipertahankan atau ditingkatkan, prospek fundamental perusahaan masih terlihat positif.

Kinerja semester I 2026 menjadi salah satu bukti bahwa kombinasi antara kenaikan harga jual dan pemulihan produksi dapat memberikan dampak besar terhadap laba perseroan.

Namun, investor tetap perlu berhati-hati.

Harga komoditas bersifat siklikal dan dapat bergerak cepat. Penurunan harga timah, perubahan kebijakan ekspor, kenaikan produksi global, pelemahan permintaan China, penguatan dolar AS, maupun perubahan regulasi pertambangan Indonesia dapat memengaruhi prospek TINS.

Karena itu, target harga Rp4.800 hingga Rp5.000 maupun skenario Rp5.500 sebaiknya dipandang sebagai proyeksi atau skenario analis, bukan kepastian harga saham.

Baca: Apa yang Terjadi Jika AI Trading Agent Salah Membaca Kondisi Market?

Kesimpulan

Saham PT Timah Tbk (TINS) saat ini berada dalam sorotan karena didukung tiga katalis utama, yakni harga timah dunia yang masih tinggi, perbaikan fundamental perseroan, serta kuatnya permintaan China.

Harga timah LME pada 28 Agustus 2026 masih berada di sekitar US$55.125-US$55.425 per ton, sementara impor timah olahan China dari Indonesia pada Juli melonjak 136,43 persen secara bulanan.

Di dalam negeri, laba TINS yang melonjak sekitar 805 persen pada semester I 2026 memperkuat alasan investor mencermati saham ini.

Dengan demikian, TINS masih menjadi salah satu saham komoditas yang menarik untuk dipantau. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, laporan keuangan terbaru, harga timah global, arus dana asing, kondisi IHSG, serta risiko pasar secara keseluruhan.

Catatan: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham TINS.

One Reply to “Saham TINS dan Harga Timah Hari Ini: Diburu Asing, LME Tembus US$55.425 dan Ekspor ke China Melonjak 136%”

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.

Eksplorasi konten lain dari Tradingan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca