Psikologi Loss Aversion: Kenapa Trader Rela Floating Loss Lama tapi Cepat Ambil Profit?


#Tradingan – #Psikologi Loss Aversion: Kenapa Trader Rela #Floating Loss Lama tapi Cepat Ambil Profit? – Dalam dunia #trading, baik #forex, #saham, maupun #kripto, ada satu pola psikologis yang hampir dialami oleh semua trader: rela menahan posisi rugi (floating loss) dalam waktu lama, tetapi buru-buru menutup posisi ketika sudah mendapatkan sedikit keuntungan. Fenomena ini terlihat sederhana, namun jika ditelusuri lebih dalam, ternyata berkaitan erat dengan konsep psikologi perilaku yang disebut #loss aversion.

Baca Juga: Trader vs Investor: Perbedaan Mindset yang Harus Dipahami

Artikel ini akan membahas apa itu loss aversion, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku trading, mengapa trader sering jatuh ke dalam perangkap ini, serta bagaimana cara mengatasinya agar keputusan trading lebih rasional dan menguntungkan.

Psikologi Loss Aversion: Kenapa Trader Rela Floating Loss Lama tapi Cepat Ambil Profit?

Apa Itu Loss Aversion?

Loss aversion adalah istilah yang diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam Prospect Theory. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih takut kehilangan sesuatu daripada merasa senang mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.

Sebagai contoh, kehilangan Rp1 juta akan menimbulkan rasa sakit psikologis yang lebih besar dibandingkan rasa senang ketika menerima Rp1 juta. Singkatnya, kerugian terasa dua kali lebih menyakitkan dibandingkan keuntungan yang setara.

Dalam konteks trading, loss aversion mendorong trader untuk menghindari rasa sakit akibat kerugian dengan cara yang tidak selalu rasional. Salah satunya adalah menahan posisi rugi terlalu lama karena enggan “mengakui” kerugian tersebut.


Kenapa Trader Rela Floating Loss Lama?

Salah satu ciri khas perilaku trader adalah lebih suka menahan kerugian daripada segera menutup posisi. Ada beberapa alasan psikologis yang menjelaskan fenomena ini:

  1. Hope Bias (Bias Harapan)
    Trader cenderung berharap harga akan berbalik arah, meski tanpa dasar analisis yang jelas. Harapan ini membuat mereka enggan menutup posisi rugi.
  2. Ego dan Enggan Mengakui Kesalahan
    Menutup posisi rugi berarti mengakui keputusan trading yang salah. Bagi banyak trader, hal ini menimbulkan ketidaknyamanan emosional sehingga lebih mudah membiarkan posisi tetap terbuka.
  3. Gambler’s Fallacy
    Banyak trader percaya bahwa setelah serangkaian kerugian, peluang harga berbalik semakin besar. Padahal, pasar tidak bekerja seperti perjudian, sehingga keyakinan ini bisa menyesatkan.
  4. Pain of Realization
    Selama posisi rugi belum ditutup, kerugian dianggap “belum nyata”. Begitu posisi ditutup, barulah kerugian terasa riil dan permanen.

Baca Juga: Teknik Mindfulness untuk Trader agar Tetap Tenang Saat Market Volatile


Kenapa Trader Cepat Ambil Profit?

Ironisnya, perilaku trader justru berbanding terbalik ketika posisi mereka sudah menghasilkan keuntungan. Alih-alih membiarkan profit berkembang, banyak trader buru-buru menutup posisi. Faktor-faktor penyebabnya antara lain:

  1. Takut Profit Hilang
    Ada rasa cemas bahwa keuntungan kecil akan berubah menjadi kerugian jika harga berbalik. Akibatnya, trader segera mengamankan profit meski belum optimal.
  2. Rasa Lega
    Profit, sekecil apapun, memberikan kepuasan psikologis dan rasa berhasil. Penutupan posisi memberi kelegaan instan, walaupun mengorbankan potensi keuntungan lebih besar.
  3. Pengalaman Buruk di Masa Lalu
    Trader yang pernah melihat profit berubah menjadi loss biasanya lebih cepat mengambil keputusan untuk “main aman”.
  4. Overconfidence pada Profit Cepat
    Profit kecil sering dianggap sebagai bukti bahwa strategi berhasil, sehingga trader tergesa-gesa menutup posisi untuk mengukuhkan “kemenangan”.

Hasil akhirnya, banyak trader terjebak pada pola cut profit cepat, tahan loss lama, yang jelas bertentangan dengan prinsip dasar trading: cut loss cepat, biarkan profit berkembang.


Dampak Loss Aversion dalam Trading

Jika pola perilaku ini dibiarkan, ada beberapa dampak serius terhadap performa trading:

  • Kerugian membengkak karena posisi rugi tidak segera ditutup.
  • Profit tidak sebanding dengan risiko, karena keuntungan kecil tidak mampu menutup kerugian besar.
  • Stres emosional meningkat akibat beban floating loss yang berkepanjangan.
  • Pertumbuhan akun stagnan karena strategi tidak seimbang antara risk dan reward.

Dengan kata lain, loss aversion adalah salah satu penyebab utama mengapa banyak trader gagal bertahan lama di pasar finansial.


Cara Mengatasi Loss Aversion

Meskipun loss aversion adalah sifat alami manusia, trader dapat melatih diri untuk mengendalikannya. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:

  1. Disiplin dengan Trading Plan
    Tentukan level entry, take profit, dan stop loss sebelum membuka posisi. Patuhi aturan tersebut tanpa terpengaruh emosi sesaat.
  2. Gunakan Stop Loss
    Jadikan stop loss sebagai alat proteksi, bukan sekadar formalitas. Dengan batas kerugian yang jelas, trader lebih mudah menerima loss kecil.
  3. Batasi Risiko per Transaksi
    Terapkan aturan risiko maksimal, misalnya 1–2% dari total modal per transaksi. Hal ini membantu menjaga kerugian tetap terkendali.
  4. Ubah Pola Pikir Menjadi Probabilitas
    Pahami bahwa trading bukan soal benar atau salah di satu posisi, melainkan soal manajemen probabilitas jangka panjang.
  5. Gunakan Jurnal Trading
    Catat semua transaksi, alasan entry/exit, dan hasilnya. Dengan evaluasi rutin, trader bisa lebih objektif melihat pola kesalahan dan memperbaikinya.
  6. Latih Mindset “Kerugian adalah Biaya”
    Anggap kerugian kecil sebagai bagian normal dari bisnis trading, sama seperti biaya operasional dalam usaha lain.

Baca Juga: EOS Anjlok 10.3%: Analisis Penyebab, Dampak Kapitalisasi Pasar, dan Perbandingan dengan Kripto Lain


Kesimpulan

Fenomena trader yang rela menahan floating loss lama namun cepat mengambil profit kecil adalah cerminan nyata dari loss aversion. Secara psikologis, manusia memang lebih takut rugi daripada senang saat untung. Namun, dalam trading, pola pikir ini bisa sangat merugikan.

Dengan disiplin menjalankan trading plan, menerapkan manajemen risiko yang ketat, serta mengubah pola pikir terhadap kerugian, trader dapat mengendalikan dampak loss aversion. Prinsip yang perlu diingat adalah: potong kerugian dengan cepat, biarkan keuntungan berkembang.

Pada akhirnya, trading yang sukses bukan hanya soal strategi teknikal atau fundamental, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan psikologi diri sendiri. Trader yang mampu menaklukkan loss aversion memiliki peluang lebih besar untuk meraih konsistensi dan profitabilitas jangka panjang.

2 Replies to “Psikologi Loss Aversion: Kenapa Trader Rela Floating Loss Lama tapi Cepat Ambil Profit?”

Tinggalkan Komentar

Bonus & Hadiah

Penawaran Terbaik

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.