Tradingan – #Harga #Bitcoin (BTC) #menunjukkan #pergerakan #datar #dalam #24 jam #terakhir di #sekitar #level US$68.000, #mencerminkan #ketidakpastian pasar saat ini meskipun ada prediksi bullish signifikan dari platform prediksi pasar Polymarket. Sementara sebagian besar prediksi menyatakan BTC bisa menembus US$75.000, analisis teknikal dan data on-chain justru memperlihatkan kondisi pasar yang masih rentan dan belum sepenuhnya mendukung reli kuat menjelang pekan depan.
Baca juga: Drama Tarif Trump Berlanjut! Putusan SCOTUS Jadi Katalis Baru Penguatan IHSG

Prediction Markets Lebih Pilih US$75.000, tapi Hidden Bearish Divergence Isyaratkan Masalah
Data pasar prediksi memperlihatkan ‘di atas US$75.000’ masih menjadi target favorit untuk bulan Februari meski sentimen terus melemah. Volume Polymarket untuk taruhan ini melebihi US$88 juta, dengan jutaan dolar dalam likuiditas aktif.
Tapi, probabilitas untuk hasil US$75.000 sudah turun lebih dari 50%, menandakan semakin berkurangnya kepercayaan pelaku pasar.
Pada saat yang sama, kemungkinan berikutnya yaitu ‘di bawah US$60.000’ dengan peluang 12%. Posisi ini memperlihatkan perpecahan ekspektasi yang makin besar. Meski banyak trader masih berharap pada kenaikan harga, sebagian besar pasar justru mulai bersiap untuk koreksi harga yang lebih dalam.

Waspada yang terus meningkat ini selaras dengan struktur teknikal Bitcoin saat ini.
Pada grafik harian, Bitcoin membentuk high lebih rendah di antara 15 November hingga 16 Februari. Artinya, harga gagal pulih sepenuhnya saat mencoba reli terakhirnya.
Sementara itu, Relative Strength Index (RSI), yang mengukur kekuatan momentum, justru membentuk high lebih tinggi pada periode yang sama.

Ingin insight token seperti ini? Daftar Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.
Karena Bitcoin sudah berada dalam tren menurun, pola ini membentuk hidden bearish divergence. Pola seperti ini biasanya memberi sinyal bahwa tren turun masih akan berlanjut daripada terjadi pembalikan bullish. Artinya, meski momentum sempat membaik, tekanan jual dalam skala besar tetap bertahan.
sejak divergence ini muncul, harga Bitcoin sudah terkoreksi hampir 6%. Selama sinyal ini masih ada, kesempatan mencapai target US$75.000 dari pasar prediksi pun tetap terbatas.
Holder Jangka Panjang Sudah Memperlambat Penjualan, tapi Belum Mulai Membeli
Aktivitas holder jangka panjang membantu menjelaskan mengapa pasar prediksi tetap optimistis, meski risiko sudah meningkat. Investor tipe ini biasanya memegang Bitcoin lebih dari 1 tahun. Pola beli dan jual mereka sering kali menentukan apakah Bitcoin akan masuk periode reli panjang atau justru koreksi mendalam.
Pada 5 Februari, long-term holder mengurangi kepemilikan sebanyak 244.919 BTC (perubahan 30 hari rolling), menandakan tekanan jual sangat besar. Hingga 21 Februari, angka ini membaik jadi 81.019 BTC. Penurunan tekanan jual sekitar 67%.
Baca juga: Konsep “Price Memory” dalam Chart Trading

Penu runan laju penjualan ini membantu menstabilkan harga Bitcoin dan menjelaskan mengapa sejumlah trader tetap memprediksi peluang naik harga masih ada.
Namun, holder jangka panjang secara keseluruhan masih menjadi net seller. Mereka belum sepenuhnya masuk fase akumulasi. Aktivitas mereka memang sedikit membaik, tapi mereka belum memberikan dukungan beli kuat yang dibutuhkan agar Bitcoin tembus ke harga tertingginya lagi.
Hal ini menciptakan keseimbangan netral. Bitcoin mungkin bisa menghindari penurunan tajam dalam waktu dekat, tapi kekuatan untuk breakout kuat hingga mendekati US$75.000 juga masih belum cukup.
Perilaku Whale Terbagi
Posisi crypto whale semakin mempertegas ketidakpastian yang terjadi.
Crypto whale terbesar, yang memegang antara 100.000 hingga 1 juta BTC, justru menambah kepemilikan dari 676.540 BTC menjadi 690.000 BTC. Artinya, terjadi akumulasi sekitar 13.460 BTC, menandakan aksi beli dengan sikap hati-hati.
Nah, whale ukuran lebih kecil yang memegang antara 10.000 hingga 100.000 BTC justru mengurangi kepemilikan dari 2,27 juta BTC menjadi 2,26 juta BTC. Ini berarti sekitar 10.000 BTC terjual di periode yang sama.
Perilaku berlawanan tersebut memperlihatkan bahwa belum ada keyakinan bersama yang solid, meskipun net balance sedikit condong ke arah akumulasi. Sebagian whale bersiap untuk rebound, sementara lainnya masih cenderung defensif.

Pada saat yang sama, data distribusi cost basis memperlihatkan ada klaster resistance besar di antara US$72.600 dan US$73.200. Sekitar 149.000 BTC terakumulasi di rentang ini. Level-level ini juga terlihat jelas di grafik harga sebagai zona resistance utama tepat di bawah US$75.000.

Ketika Bitcoin mendekati area ini, banyak holder bisa saja memilih menjual untuk keluar pada titik impas. Sementara itu, kekuatan akumulasi whale yang terlihat belum cukup kuat untuk menyerap pasokan tersebut. Tekanan jual ini menciptakan penghalang kuat yang mungkin diremehkan oleh prediksi pasar.
Struktur Harga Bitcoin Menunjukkan BTC Bisa Tetap Terjebak di Antara Level Kunci
Struktur harga Bitcoin sangat sejalan dengan klaster cost basis on-chain ini.
Untuk mencapai target prediksi US$75.000, Bitcoin harus menembus dulu di atas US$72.200. Level ini merupakan resistance teknikal serta dekat dengan salah satu klaster cost basis terbesar di grafik. Untuk menembus zona ini, dibutuhkan reli lebih dari 6% dari level sekarang.
Namun, jika tidak mampu menembus resistance ini, peluang pergerakan harga tetap di rentang yang sama pun makin besar. Pada sisi bawah, ada support kuat di antara US$64.300 dan US$63.800, di mana sekitar 150.000 BTC terakumulasi.
Pada grafik harga Bitcoin, level support kunci yang mirip zona ini ada di US$63.300, di mana jika tembus juga berarti klaster pasokan pun tembus. Bila harga turun di bawah US$63.300, zona US$60.000—yang dipertaruhkan di Polymarket dengan probabilitas 12%—bisa terjadi.

Hasilnya, Bitcoin sekarang terjebak di antara dua zona cost basis utama. Resistance di dekat US$72.200 membatasi kenaikan harga, sementara support di kisaran US$63.300 menahan kemungkinan penurunan tajam secara langsung.
Baca Juga: Mengapa Break Structure Tidak Selalu Valid dalam Trading?

Struktur harga sideways ini mengisyaratkan bahwa pasar prediksi mungkin terlalu optimistis soal kemungkinan breakout ke US$75.000 dan malah tidak memperhitungkan makin besarnya risiko konsolidasi berlanjut atau koreksi harga.
Sumber: id.tradingview.com


