#Tradingan – Mengelola #Risiko pada Market dengan #Spread dan Slippage Tinggi – Dalam aktivitas #trading, baik di #pasar forex, #cryptocurrency, maupun instrumen derivatif lainnya, risiko tidak hanya datang dari arah harga yang salah. Banyak trader mengalami kerugian meskipun #analisisnya benar, namun gagal mengantisipasi faktor teknis seperti spread dan slippage. Kedua faktor ini sering kali meningkat drastis pada kondisi market tertentu dan menjadi penyebab utama rusaknya perhitungan risiko.
Baca Juga: Bybit 2025 Recap: 80 Juta Pengguna, Pencapaian Regulasi & Penguatan Ekosistem Crypto Global
Artikel ini akan membahas secara sistematis bagaimana memahami spread dan slippage, kapan kondisi tersebut berisiko tinggi, serta strategi praktis untuk mengelola risiko agar trading tetap terkontrol dan berkelanjutan.

Memahami Spread dan Slippage dalam Trading
Pengertian Spread
Spread adalah selisih antara harga bid (harga jual) dan ask (harga beli) suatu instrumen. Spread merupakan biaya transaksi utama yang harus ditanggung trader setiap kali membuka posisi.
Semakin besar spread:
- Biaya masuk market semakin mahal
- Posisi langsung berada dalam kondisi minus
- Risk–reward ratio menjadi tidak ideal
Pada kondisi market normal, spread pair mayor atau aset dengan likuiditas tinggi cenderung kecil. Namun saat volatilitas meningkat atau likuiditas menurun, spread dapat melebar beberapa kali lipat.
Pengertian Slippage
Slippage adalah perbedaan antara harga yang diharapkan saat melakukan order dengan harga aktual ketika order dieksekusi. Slippage biasanya terjadi pada:
- Pergerakan harga yang sangat cepat
- Kondisi pasar dengan volume rendah
- Penggunaan market order saat volatilitas tinggi
Slippage dapat bersifat negatif maupun positif, tetapi dalam praktiknya trader lebih sering mengalami slippage negatif yang merugikan.
Kondisi Market yang Memicu Spread dan Slippage Tinggi
Tidak semua waktu trading memiliki tingkat risiko yang sama. Spread dan slippage biasanya meningkat pada kondisi berikut:
- Rilis berita berdampak tinggi
Data ekonomi penting seperti inflasi, suku bunga, NFP, atau keputusan bank sentral sering menyebabkan lonjakan volatilitas dan pelebaran spread. - Pembukaan dan penutupan sesi market
Transisi antar sesi perdagangan atau awal market buka sering diiringi ketidakseimbangan order. - Likuiditas rendah
Pair minor, exotic, atau aset dengan volume kecil sangat rentan terhadap spread lebar dan slippage besar. - Kondisi market ekstrem
Panic selling, FOMO, flash crash, dan manipulasi harga dapat memperparah kualitas eksekusi.
Trader yang tidak menyadari konteks ini cenderung salah menilai risiko meskipun setup teknikal terlihat menarik.
Dampak Spread dan Slippage terhadap Manajemen Risiko
Mengabaikan spread dan slippage dapat menimbulkan berbagai masalah serius, antara lain:
- Stop loss tersentuh lebih cepat dari perhitungan
- Target profit menjadi tidak realistis
- Kerugian membesar tanpa disadari
- Psikologi trading terganggu akibat hasil yang tidak sesuai rencana
Banyak trader pemula menyalahkan strategi atau indikator, padahal akar masalahnya terletak pada eksekusi dan pengelolaan risiko yang lemah.
Baca Juga: Dogecoin (DOGE) Kembali Menjadi Sorotan Trader Setelah Lonjakan Volume dan Breakout Teknikal
Strategi Mengelola Risiko pada Market Berisiko Tinggi
1. Menghindari Waktu Trading Berisiko
Langkah paling efektif dalam manajemen risiko adalah memilih waktu trading yang tepat. Trader profesional tidak merasa perlu selalu berada di market.
Disarankan untuk:
- Menghindari entry tepat saat rilis berita besar
- Menunggu market stabil setelah volatilitas ekstrem
- Menggunakan kalender ekonomi sebagai alat filter utama
Tidak trading juga merupakan keputusan trading yang bijak.
2. Menyesuaikan Ukuran Posisi (Position Sizing)
Jika trader tetap ingin masuk market pada kondisi spread tinggi, ukuran posisi harus disesuaikan.
Prinsip yang perlu diterapkan:
- Mengurangi lot size
- Menurunkan risiko per transaksi
- Fokus menjaga ekuitas, bukan mengejar profit besar
Position sizing yang tepat dapat mencegah kerugian besar meskipun terjadi slippage.
3. Mengutamakan Limit Order
Market order sangat rentan terhadap slippage, terutama saat harga bergerak cepat. Sebagai alternatif, trader dapat menggunakan limit order untuk mengontrol harga masuk.
Keuntungan limit order:
- Harga entry lebih terkontrol
- Risiko slippage lebih kecil
- Perencanaan risiko lebih presisi
Meskipun ada kemungkinan order tidak tereksekusi, hal tersebut lebih aman dibandingkan entry di harga yang tidak sesuai rencana.
4. Menempatkan Stop Loss Secara Realistis
Stop loss yang terlalu sempit mudah tersapu oleh spread dan pergerakan harga acak. Oleh karena itu, penempatan stop loss harus mempertimbangkan kondisi market.
Beberapa prinsip penting:
- Memperhitungkan spread rata-rata
- Menempatkan SL di area struktur harga
- Tidak memaksakan SL kecil demi lot besar
Stop loss bukan sekadar alat pembatas kerugian, tetapi bagian penting dari strategi bertahan.
5. Memilih Instrumen dan Broker yang Tepat
Manajemen risiko juga sangat dipengaruhi oleh kualitas broker atau exchange yang digunakan.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Stabilitas spread
- Kecepatan eksekusi
- Transparansi sistem trading
- Likuiditas instrumen
Instrumen dengan volume besar dan broker terpercaya cenderung memberikan eksekusi yang lebih konsisten.
Penyesuaian Strategi Trading
Tidak semua strategi cocok digunakan pada kondisi spread dan slippage tinggi. Strategi jangka pendek dengan target kecil akan sangat terpengaruh oleh biaya transaksi.
Strategi yang relatif lebih adaptif:
- Swing trading
- Intraday dengan target yang realistis
- Trading berbasis struktur dan momentum
Trader perlu menyesuaikan pendekatan, bukan memaksakan satu strategi di semua kondisi market.
Peran Psikologi dalam Mengelola Risiko
Tekanan psikologis sering membuat trader melanggar aturan sendiri. Rasa takut tertinggal peluang dan keinginan untuk cepat profit sering menjadi pemicu kesalahan.
Trader yang disiplin memahami bahwa:
- Tidak semua peluang harus diambil
- Modal adalah aset utama
- Kesabaran adalah keunggulan kompetitif
Market akan selalu menyediakan peluang baru bagi trader yang bertahan.
Baca Juga: BlackRock Jual Bitcoin dan Ethereum Pertama di 2026: Analisis Dampak Pasar Kripto
Kesimpulan
Mengelola risiko pada market dengan spread dan slippage tinggi menuntut pemahaman teknis, disiplin eksekusi, dan kontrol psikologis yang kuat. Spread dan slippage bukan musuh, tetapi variabel yang harus diperhitungkan secara matang dalam setiap keputusan trading.
Trader yang mampu menjaga modal, menyesuaikan strategi, dan memilih kondisi market yang tepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, konsistensi dan manajemen risiko yang baik jauh lebih penting daripada mencari profit besar dalam waktu singkat.



[…] Baca Juga: Mengelola Risiko pada Market dengan Spread dan Slippage Tinggi […]