
Sejarah penggunaan emas dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno. Beberapa catatan tertulis di Mesir dan Sumeria, dua peradaban yang hidup ribuan tahun yang lalu, telah mengungkapkan penggunaan emas sebagai mata uang dan sebagai bahan perhiasan. Bangsa Mesir Kuno sangat menghormati emas, mereka bahkan meyakini bahwa emas adalah daging dewa matahari Ra. Para firaun juga dikuburkan dengan harta emas yang melimpah untuk mendampingi mereka di kehidupan setelah mati.
Selama zaman kuno, emas digunakan sebagai alat tukar yang diterima di seluruh dunia. Komoditas berharga ini diperdagangkan melalui jalur perdagangan yang membentang dari Timur Tengah hingga Asia dan Eropa. Kekekayaan dan kejayaan beberapa peradaban besar, seperti peradaban Yunani Kuno, Persia Kuno, dan Romawi Kuno, bergantung pada eksploitasi sumber daya emas yang melimpah di wilayah mereka.
Selama Abad Pertengahan, emas tetap menjadi aset yang sangat dihargai. Baik kekayaan gereja maupun kaum bangsawan Eropa terkait erat dengan kepemilikan emas. Pada saat itu, emas digunakan untuk lukisan ikon, hiasan gereja, dan perhiasan kerajaan. Bangsawan mengenakan perhiasan emas yang meriah untuk menunjukkan status sosial mereka, sementara gereja-gereja dipenuhi dengan patung dan aksesori emas yang memperkuat keagungan mereka.
Pada era Kolonial, penjajahan dan penemuan sumber daya tambang baru membuka babak baru dalam sejarah emas. Penjelajahan bangsa Eropa ke Amerika Selatan dan Afrika menghasilkan penemuan besar-besaran tambang emas, yang mendorong kegiatan kolonial serta perdagangan dunia. Permintaan akan emas meningkat pesat, dengan banyak negara Eropa yang gencar mencari sumber daya emas baru untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pada abad ke-19, penemuan emas di California dan Australia memicu “demam emas” massal yang menyebabkan sejumlah besar penambang berbondong-bondong ke wilayah yang baru ditemukan ini. Ribuan orang rela meninggalkan rumah mereka demi mencari kekayaan yang cepat. Demam emas ini mengubah geografi dan ekonomi wilayah-wilayah tersebut, menciptakan kota-kota baru dan memberi dorongan pada pembangunan infrastruktur.
Pada abad ke-20, emas terus menjadi aset yang stabil dalam pasar finansial global. Krisis keuangan seperti Depresi Besar dan terjadinya perang dunia memperkuat nilai emas sebagai tempat berlindung bagi kekayaan. Pada tahun 1971, Amerika Serikat mengakhiri konversi langsung dolar ke emas, yang mengakhiri standar emas dunia. Namun, emas terus menjadi komoditas investasi yang diandalkan dan digunakan sebagai lindung nilai melawan inflasi dan ketidakstabilan ekonomi.
Pada zaman modern ini, emas tetap menjadi simbol status, keindahan, dan kekuasaan. Industri perhiasan menggunakan emas sebagai bahan utama dalam pembuatan perhiasan yang indah, baik untuk keperluan pribadi maupun sebagai hadiah berharga. Emas juga digunakan dalam industri elektronik dan medis, mengingat ketahanan dan sifat konduktifnya. Selain itu, emas menjadi investasi populer dengan pembelian emas batangan, koin emas, dan produk keuangan yang berkaitan dengan emas.
Sejarah emas yang kaya mengungkapkan betapa pentingnya logam mulia ini dalam kehidupan manusia dari waktu ke waktu. Baik itu sebagai mata uang, perhiasan, lindung nilai, atau logam industri, emas telah menjadi bagian integral dari peradaban manusia. Nilainya yang stabil, kemurahan hati, dan keindahannya telah menjadikannya ikon kekayaan dan keindahan sepanjang sejarah.




[…] #emas #batangan #produksi PT #Aneka #Tambang Tbk (#Antam) #kembali #mencatatkan #rekor #tertinggi #sepanjang sejarah, dengan harga jual emas ukuran 1 gram mencapai sekitar Rp2,77 juta – nyaris Rp2,8 juta per gram. […]