Bagaimana Data Staking dan Unstaking Menjadi Indikator Tekanan Jual di Market


#Tradingan – Bagaimana Data #Staking dan #Unstaking Menjadi Indikator Tekanan Jual di Market – Dalam #ekosistem kripto yang berkembang pesat, pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor #teknikal dan #fundamental, tetapi juga oleh data #on-chain. Salah satu indikator penting yang sering diabaikan namun memiliki dampak besar terhadap dinamika #pasar adalah aktivitas staking dan unstaking.

Baca Juga: Mengukur “Network Effect” sebagai Dasar Penilaian Nilai Intrinsik Proyek Kripto

Perubahan pada jumlah aset yang di-stake atau di-unstake dapat memberikan gambaran jelas tentang sentimen investor, likuiditas pasar, serta potensi tekanan jual (selling pressure). Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana kedua data tersebut bekerja sebagai indikator penting dalam membaca arah pergerakan pasar kripto.

Bagaimana Data Staking dan Unstaking Menjadi Indikator Tekanan Jual di Market

Apa Itu Staking dan Unstaking?

Untuk memahami pengaruhnya terhadap pasar, kita perlu mengenal terlebih dahulu apa itu staking dan unstaking.

  • Staking adalah proses mengunci aset kripto dalam jaringan blockchain berbasis Proof of Stake (PoS) untuk membantu memvalidasi transaksi dan menjaga keamanan jaringan. Sebagai imbalannya, pengguna yang melakukan staking akan menerima reward berupa token tambahan.
    Contoh populer dari aset yang mendukung staking adalah Ethereum (ETH) setelah transisi ke PoS, Cardano (ADA), Solana (SOL), dan Avalanche (AVAX).
  • Unstaking, di sisi lain, adalah proses menarik kembali aset yang sebelumnya dikunci dalam mekanisme staking agar dapat digunakan kembali — biasanya untuk dijual atau dipindahkan. Setelah proses ini selesai (yang di beberapa jaringan memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu), aset tersebut menjadi likuid dan siap untuk diperjualbelikan di pasar.

Dengan kata lain:

  • Ketika banyak aset di-stake, suplai token yang tersedia untuk dijual di pasar berkurang.
  • Ketika banyak aset di-unstake, suplai token meningkat, menciptakan potensi tekanan jual yang lebih besar.

Mengapa Aktivitas Staking dan Unstaking Penting?

Staking dan unstaking mencerminkan kepercayaan dan niat investor. Ketika investor yakin terhadap prospek jangka panjang sebuah proyek, mereka lebih cenderung mengunci asetnya dalam staking. Ini berarti mereka tidak berencana menjual dalam waktu dekat — dan akibatnya, tekanan jual menurun.

Sebaliknya, ketika banyak investor mulai melakukan unstaking secara bersamaan, hal itu sering kali menandakan adanya perubahan psikologis di pasar. Investor mungkin sedang:

  • Mengantisipasi penurunan harga.
  • Ingin mengambil keuntungan dari kenaikan harga sebelumnya.
  • Merespons berita negatif terkait proyek atau kondisi makroekonomi.

Karena aset yang di-unstake menjadi likuid, peningkatan jumlah unstaking dapat diartikan sebagai kesiapan pasar untuk menjual, dan hal ini biasanya mendahului penurunan harga.

Baca Juga: On-chain Whale Clustering: Cara Mendeteksi Aktivitas Whale Berdasarkan Data Blockchain


Hubungan Antara Data On-Chain dan Tekanan Jual

Data on-chain memungkinkan kita untuk memantau secara transparan berapa banyak aset yang sedang di-stake atau di-unstake. Dari sini, analis dapat memperkirakan arus likuiditas potensial di pasar.

Beberapa pola umum yang sering terjadi antara staking/unstaking dan harga pasar antara lain:

  1. Kenaikan Staking Ratio → Tekanan Jual Rendah
    Ketika proporsi total suplai token yang di-stake meningkat, jumlah token yang tersedia di pasar spot berkurang. Kondisi ini menurunkan tekanan jual dan dapat mendorong kestabilan harga.
  2. Lonjakan Aktivitas Unstaking → Tekanan Jual Meningkat
    Jika banyak investor menarik aset mereka dalam waktu bersamaan, biasanya diikuti oleh peningkatan volume penjualan di bursa.
  3. Net Staking Flow
    Indikator ini menunjukkan selisih antara token yang masuk dan keluar dari staking. Nilai positif berarti arus staking bersih meningkat (sentimen bullish), sementara nilai negatif menunjukkan arus unstaking lebih besar (sentimen bearish).

Contoh Kasus: Ethereum dan Solana

a. Ethereum (ETH)

Sejak Ethereum beralih ke mekanisme Proof of Stake melalui pembaruan The Merge dan Shapella, data dari platform seperti Nansen dan Glassnode menunjukkan bahwa lonjakan permintaan unstaking sering kali diikuti oleh penurunan harga ETH jangka pendek.
Misalnya, setelah pembaruan Shapella yang memungkinkan penarikan dana dari staking pool, banyak validator melakukan unstake untuk mengambil keuntungan. Beberapa di antaranya kemudian menjual ETH mereka, memicu tekanan jual dan volatilitas pasar sementara.

b. Solana (SOL)

Jaringan Solana juga menunjukkan pola serupa. Setiap kali jumlah SOL yang di-unstake meningkat tajam, pasar biasanya bereaksi negatif dalam beberapa hari ke depan. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua unstaking berakhir dengan penjualan. Sebagian investor hanya memindahkan aset ke dompet pribadi untuk penyimpanan jangka panjang.
Oleh karena itu, penting untuk melihat data tambahan seperti pergerakan token ke bursa (exchange inflow) untuk mengonfirmasi apakah unstaking benar-benar berpotensi menjadi tekanan jual nyata.


Psikologi Pasar di Balik Staking dan Unstaking

Aktivitas staking dan unstaking juga mencerminkan psikologi kolektif pelaku pasar.

  • Ketika harga sedang naik dan sentimen positif, investor lebih cenderung mengunci aset karena yakin harga akan terus meningkat.
  • Sebaliknya, ketika muncul ketidakpastian atau kekhawatiran pasar akan jatuh, banyak investor melakukan unstaking agar siap menjual sewaktu-waktu.

Dengan demikian, data staking/unstaking bukan hanya indikator teknikal, tetapi juga indikator psikologis yang merefleksikan tingkat kepercayaan terhadap pasar dan proyek tertentu.


Strategi Trader dan Investor Menggunakan Data Ini

Trader dan investor dapat memanfaatkan data staking dan unstaking untuk berbagai tujuan, seperti:

  1. Mengantisipasi Perubahan Tren Harga
    Ketika volume unstaking meningkat secara signifikan, itu bisa menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual akan meningkat.
  2. Konfirmasi Analisis Teknis
    Jika indikator teknikal seperti RSI atau MACD menunjukkan potensi koreksi dan data unstaking juga meningkat, maka peluang penurunan harga semakin kuat.
  3. Membaca Sentimen Pasar
    Net staking flow yang positif menunjukkan optimisme jangka panjang, sementara nilai negatif menandakan investor mulai kehilangan keyakinan.

Dengan menggabungkan data on-chain ini bersama analisis teknikal dan fundamental, trader dapat mengambil keputusan yang lebih objektif dan akurat.

Baca Juga: Analisis Fundamental Pair Forex: Dampak Kebijakan Moneter China terhadap USD Index (DXY)

Kesimpulan

Data staking dan unstaking merupakan salah satu indikator on-chain yang sangat berguna dalam memahami tekanan jual di pasar kripto.

Ketika jumlah aset yang di-stake meningkat, pasar cenderung lebih stabil karena suplai likuid menurun. Sebaliknya, lonjakan aktivitas unstaking sering kali menandakan potensi tekanan jual, terutama jika diikuti dengan peningkatan volume transfer ke bursa.

Bagi trader dan investor yang cermat, memantau data staking/unstaking dapat memberikan keunggulan kompetitif dalam membaca arah pasar. Dengan memahami bagaimana perilaku investor di balik angka-angka on-chain tersebut, keputusan investasi dapat dibuat dengan lebih matang — bukan berdasarkan emosi, melainkan berdasarkan data dan sinyal yang terukur.

2 Replies to “Bagaimana Data Staking dan Unstaking Menjadi Indikator Tekanan Jual di Market”

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.