#Tradingan – #Analisis Fundamental #Pair Forex: Dampak #Kebijakan Moneter China terhadap #USD Index (#DXY) – Dalam #pasar valuta asing global, hubungan antara kebijakan moneter China dan pergerakan USD Index (DXY) menjadi semakin penting untuk dipahami oleh para trader. Meskipun DXY tidak secara langsung mengukur nilai yuan (CNY), pengaruh ekonomi China terhadap sentimen global, arus modal, dan permintaan aset aman menjadikan setiap langkah kebijakan Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBoC) berpotensi menggerakkan nilai dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Bagaimana Adopsi Institusional Mempengaruhi Struktur Pasar Kripto
Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China memainkan peran sentral dalam perdagangan internasional dan rantai pasok global. Oleh karena itu, setiap perubahan arah kebijakan moneter China dapat menciptakan efek domino terhadap mata uang utama dunia, termasuk dolar AS. Artikel ini akan membahas bagaimana kebijakan moneter China memengaruhi DXY, dan bagaimana implikasinya terhadap pasangan mata uang utama di pasar forex.

Sekilas tentang USD Index (DXY)
USD Index (DXY) adalah indikator yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia: euro (EUR), yen Jepang (JPY), poundsterling (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF).
Meskipun yuan China tidak termasuk dalam komponen DXY, ekonomi China tetap menjadi faktor penting karena besarnya pengaruhnya terhadap perdagangan global dan arus investasi internasional. Perubahan kondisi ekonomi atau kebijakan moneter di China dapat memengaruhi risk appetite (selera risiko) investor global — yang secara tidak langsung berdampak pada permintaan terhadap dolar AS.
Kebijakan Moneter China: Instrumen dan Tujuannya
PBoC mengatur kebijakan moneternya dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi domestik dan mengontrol nilai tukar yuan. Beberapa instrumen utama yang digunakan antara lain:
- Suku Bunga Acuan (Loan Prime Rate/LPR)
Suku bunga pinjaman utama di China, dikenal sebagai LPR, menjadi indikator penting arah kebijakan moneter. Penurunan LPR menandakan kebijakan ekspansif yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, langkah ini sering melemahkan yuan karena menurunkan imbal hasil aset berbasis CNY, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar. - Cadangan Wajib Minimum (Reserve Requirement Ratio/RRR)
Dengan menurunkan RRR, PBoC meningkatkan likuiditas perbankan untuk mendukung aktivitas pinjaman. Namun, peningkatan jumlah uang beredar ini bisa menekan nilai yuan, membuat investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. - Intervensi Nilai Tukar (FX Intervention)
PBoC secara berkala mengintervensi pasar untuk menjaga stabilitas yuan terhadap dolar. Namun, jika bank sentral membiarkan yuan melemah terlalu jauh, pasar akan menilai hal itu sebagai tanda pelemahan ekonomi China — yang biasanya meningkatkan DXY karena meningkatnya minat terhadap aset safe haven.
Mekanisme Pengaruh China terhadap DXY
Hubungan antara kebijakan moneter China dan DXY tidak bersifat langsung, tetapi bekerja melalui beberapa saluran fundamental:
- Arus Modal Internasional:
Ketika suku bunga di China diturunkan, imbal hasil aset lokal menjadi kurang menarik. Investor global cenderung menarik modal dari pasar China dan memindahkannya ke aset berdenominasi dolar AS. Akibatnya, DXY menguat. - Sentimen Risiko Global:
Kebijakan pelonggaran moneter China sering diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa ekonomi sedang melemah. Dalam situasi seperti ini, pasar menjadi lebih berhati-hati, dan dolar AS cenderung menguat sebagai aset aman (safe haven). - Perdagangan dan Komoditas:
China adalah importir besar berbagai komoditas seperti minyak, tembaga, dan bijih besi. Ketika kebijakan moneter longgar mendorong pertumbuhan ekonomi China, permintaan komoditas meningkat, menekan dolar AS karena meningkatnya risk-on sentiment. Sebaliknya, jika kebijakan moneter ketat memperlambat pertumbuhan, harga komoditas turun dan DXY cenderung menguat.
Baca Juga: Mengenali Perbedaan Utility Token vs Security Token dari Sudut Pandang Investor
Contoh Kasus: Pelonggaran Moneter PBoC dan DXY
Pada periode 2023–2024, PBoC menurunkan suku bunga pinjaman jangka menengah (MLF) dan LPR untuk mendukung sektor properti dan manufaktur yang lesu. Langkah tersebut menyebabkan yuan melemah terhadap dolar AS. Investor global menilai kebijakan itu sebagai tanda perlambatan ekonomi China, sehingga arus modal global mengalir ke aset berbasis dolar. Akibatnya, DXY mengalami penguatan signifikan.
Namun, dampaknya tidak selalu satu arah. Ketika China kemudian mengumumkan stimulus fiskal besar-besaran dan proyek infrastruktur baru, kepercayaan pasar meningkat. Sentimen risk-on kembali mendominasi, dan dolar AS kehilangan sebagian momentumnya. Ini menunjukkan bahwa efek kebijakan China terhadap DXY sangat bergantung pada persepsi pasar terhadap prospek ekonomi global.
Dampak terhadap Pair Forex Utama
- EUR/USD
Kenaikan DXY akibat pelemahan yuan biasanya menekan EUR/USD karena dolar AS menguat secara luas. Trader dapat memanfaatkan kondisi ini untuk mencari peluang short pada EUR/USD selama tren penguatan dolar masih kuat. - USD/JPY
Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi China, yen Jepang sering mendapat dorongan sebagai aset aman. Namun, jika pasar menilai dolar lebih aman, maka USD/JPY justru naik seiring penguatan DXY. - AUD/USD dan NZD/USD
Australia dan Selandia Baru sangat bergantung pada ekspor ke China. Karena itu, pelonggaran moneter di China biasanya menekan mata uang AUD dan NZD, sehingga memperkuat posisi dolar AS.
Analisis Sentimen dan Strategi Trader
Untuk trader forex, memahami arah kebijakan moneter China bisa menjadi indikator penting dalam menentukan posisi terhadap DXY dan pair utama. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:
- Perhatikan pengumuman LPR dan RRR oleh PBoC.
- Analisis data ekonomi China seperti PMI, inflasi, dan neraca perdagangan untuk mendeteksi sinyal perubahan kebijakan.
- Amati perubahan sentimen global setelah rilis kebijakan, karena efeknya sering kali bergantung pada reaksi investor global, bukan hanya angka nominal kebijakan itu sendiri.
Strategi yang bisa digunakan adalah mengkombinasikan analisis fundamental ini dengan analisis teknikal pada chart DXY dan pair utama seperti EUR/USD atau AUD/USD untuk menemukan area konfirmasi entry yang lebih akurat.
Baca Juga: Analisis Fundamental Kripto Berbasis Revenue Sharing Token (RST)
Kesimpulan
Kebijakan moneter China memainkan peran penting dalam dinamika pasar forex global. Melalui pengaruhnya terhadap arus modal, sentimen risiko, dan permintaan komoditas, setiap langkah PBoC dapat memengaruhi arah USD Index (DXY) secara signifikan.
Bagi trader, memahami hubungan ini bukan sekadar menambah wawasan, melainkan menjadi bagian integral dari analisis fundamental yang komprehensif. Dengan membaca arah kebijakan China, trader dapat memprediksi potensi penguatan atau pelemahan dolar AS, serta menyesuaikan strategi trading agar lebih selaras dengan kondisi pasar global.
Dalam era ekonomi yang semakin saling terhubung, pergerakan antara Beijing dan Washington bukan hanya cerita geopolitik, tetapi juga peta jalan penting bagi siapa pun yang ingin membaca arah besar tren forex dunia.




[…] Baca Juga: Analisis Fundamental Pair Forex: Dampak Kebijakan Moneter China terhadap USD Index (DXY) […]