#Tradingan – #Analisis Fundamental #Forex: Dampak #De-dollarization terhadap #Major Pair – Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat (#USD) menjadi tulang punggung sistem #keuangan global. Sebagian besar perdagangan internasional, cadangan devisa, hingga transaksi forex melibatkan USD. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang disebut “De-dollarization” — sebuah upaya negara-negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Fundamental Stablecoin Wars: USDT vs USDC vs FDUSD, Mana yang Paling Aman?
Tren ini perlahan mengubah dinamika keuangan dunia dan memberikan dampak langsung terhadap pergerakan major pair seperti EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY, dan USD/CHF. Bagi para trader forex, memahami perubahan fundamental ini sangat penting untuk menyesuaikan strategi dan membaca arah pasar jangka panjang.

Apa Itu De-dollarization?
Secara sederhana, de-dollarization adalah proses di mana negara atau kelompok negara mulai mengurangi penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, serta transaksi lintas batas. Langkah ini dilakukan demi memperkuat kedaulatan ekonomi, menghindari risiko geopolitik, dan mengurangi ketergantungan terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Beberapa faktor utama yang mendorong tren ini antara lain:
- Sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, dan Iran berusaha mencari alternatif transaksi selain USD agar tidak terpengaruh oleh kebijakan sanksi AS. - Kebijakan suku bunga The Fed.
Kenaikan suku bunga agresif menyebabkan fluktuasi nilai tukar dan meningkatkan beban negara berkembang yang berutang dalam dolar. - Meningkatnya perdagangan bilateral non-USD.
Contohnya, Rusia dan Tiongkok kini menggunakan rubel dan yuan dalam transaksi energi, sementara negara-negara BRICS aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota.
Meskipun proses ini tidak akan menggeser dominasi dolar dalam waktu dekat, arah perubahannya sudah terlihat jelas: dunia mulai mencari alternatif terhadap USD.
Dampak De-dollarization terhadap Dolar AS
Pergerakan nilai dolar AS secara fundamental dipengaruhi oleh dua hal utama: permintaan global terhadap USD dan kepercayaan investor terhadap perekonomian Amerika. Ketika semakin banyak negara mengurangi ketergantungan terhadap dolar, maka permintaan alami terhadap USD bisa berkurang.
Beberapa dampak penting yang bisa terjadi:
- Tekanan jangka panjang terhadap nilai dolar.
Jika lebih banyak transaksi global dilakukan dengan mata uang lain, arus permintaan USD akan menurun sehingga nilai tukarnya berpotensi melemah. - Volatilitas di pasar obligasi AS.
Pengurangan kepemilikan surat utang pemerintah AS oleh bank sentral asing, seperti Tiongkok dan Jepang, dapat memicu fluktuasi imbal hasil (yield) dan melemahkan sentimen terhadap dolar. - Perubahan citra USD sebagai safe haven.
Selama ini, dolar dikenal sebagai aset aman saat krisis global. Namun, bila kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi AS menurun, investor bisa beralih ke emas, yen Jepang (JPY), atau franc Swiss (CHF).
Walau demikian, dominasi dolar masih sangat kuat. Sekitar 60% cadangan devisa global masih dalam bentuk USD, dan sebagian besar komoditas internasional — terutama minyak — tetap diperdagangkan menggunakan dolar.
Baca Juga: Bagaimana Data Exchange Inflow/Outflow Mempengaruhi Arah Harga Bitcoin
Dampak De-dollarization terhadap Major Pair
1. EUR/USD
Pasangan ini sering dijadikan acuan utama untuk mengukur kekuatan dolar. Dengan adanya de-dollarization, euro berpotensi memperluas perannya sebagai alternatif mata uang cadangan global. Jika Uni Eropa mampu menjaga stabilitas ekonomi dan menekan inflasi, EUR/USD berpeluang menguat dalam jangka panjang.
Namun, Eropa masih menghadapi tantangan internal seperti perlambatan ekonomi dan ketergantungan energi. Maka, efek penguatan euro terhadap USD cenderung bersifat bertahap.
Proyeksi:
Dalam skenario de-dollarization yang berlanjut, tren jangka panjang EUR/USD berpotensi bullish terhadap USD.
2. GBP/USD
Poundsterling juga memiliki daya tarik sebagai mata uang mayor, terutama karena stabilitas sistem keuangan Inggris. Namun, skala ekonomi Inggris yang lebih kecil dibandingkan AS dan Zona Euro membuat dampak de-dollarization terhadap GBP/USD lebih terbatas.
Jika investor global mulai mendiversifikasi cadangan ke berbagai mata uang mayor, GBP bisa memperoleh dukungan tambahan. Meski begitu, faktor domestik seperti inflasi dan kebijakan suku bunga Bank of England (BoE) tetap menjadi penentu utama.
Proyeksi:
Potensi penguatan GBP/USD bersifat moderat, bergantung pada performa ekonomi Inggris pasca-Brexit.
3. USD/JPY
Yen Jepang dikenal sebagai aset safe haven yang sering menguat ketika terjadi ketidakpastian global. Dalam konteks de-dollarization, JPY berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat jika investor mencari alternatif selain USD.
Namun, kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang masih longgar dapat menahan laju penguatan yen. Selama suku bunga Jepang tetap rendah, tekanan penurunan USD/JPY tidak akan terlalu tajam.
Proyeksi:
USD/JPY berpotensi melemah secara perlahan, tetapi tidak ekstrem selama BoJ mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.
4. USD/CHF
Franc Swiss adalah salah satu mata uang paling stabil di dunia. Ketika kepercayaan terhadap dolar melemah, CHF sering menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai. Kebijakan moneter yang disiplin dari Swiss National Bank (SNB) menambah kepercayaan terhadap franc.
Proyeksi:
Dalam jangka panjang, USD/CHF berpotensi mengalami penurunan bertahap, mencerminkan meningkatnya preferensi terhadap aset non-USD.
Implikasi De-dollarization bagi Trader Forex
Bagi trader, fenomena de-dollarization membuka peluang sekaligus risiko baru.
Beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Diversifikasi pair trading.
Jangan hanya berfokus pada pasangan berbasis USD. Pertimbangkan cross pair seperti EUR/JPY, GBP/CHF, atau AUD/JPY yang mungkin lebih mencerminkan pergeseran kekuatan mata uang global. - Perhatikan faktor geopolitik.
Setiap kesepakatan baru antarnegara untuk menggunakan mata uang lokal (misalnya antara negara BRICS) dapat memicu pergerakan tajam di pasar. - Gunakan pendekatan jangka panjang.
De-dollarization bukan fenomena harian, melainkan tren struktural jangka panjang. Trader posisi dan investor jangka panjang lebih berpeluang memanfaatkan momentum ini.
Baca Juga: Menganalisis Ekosistem Blockchain Berdasarkan Aktivitas Wallet Unik
Kesimpulan
Fenomena de-dollarization menandai perubahan besar dalam lanskap ekonomi global. Meskipun dolar AS masih menjadi mata uang dominan, tren pengurangan ketergantungan terhadapnya mulai memengaruhi dinamika pasar forex, khususnya pada major pair seperti EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY, dan USD/CHF.
Bagi trader, memahami tren fundamental ini adalah kunci untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. De-dollarization bukan sekadar isu geopolitik, melainkan sinyal pergeseran likuiditas global yang berpotensi menciptakan peluang besar bagi mereka yang mampu membaca arah perubahan sejak dini.




[…] Baca Juga: Analisis Fundamental Forex: Dampak De-dollarization terhadap Major Pair […]
[…] Baca Juga: Analisis Fundamental Forex: Dampak De-dollarization terhadap Major Pair […]