Tradingan – Cara Membandingkan Valuasi Dua #Proyek Kripto dalam Sektor yang Sama – Membandingkan dua proyek #kripto dalam sektor yang sama merupakan salah satu cara untuk melakukan #analisis fundamental sebelum membeli atau memperdagangkan sebuah aset. Dengan perbandingan yang tepat, #trader dapat melihat apakah suatu proyek memiliki valuasi yang relatif rendah, wajar, atau justru terlalu tinggi dibandingkan kompetitornya.
Namun, membandingkan proyek kripto tidak cukup hanya dengan melihat harga token. Token yang harganya lebih murah belum tentu memiliki valuasi yang lebih rendah. Jumlah token yang beredar, total suplai, pendapatan protokol, aktivitas jaringan, jumlah pengguna, hingga potensi dilusi juga perlu diperhatikan.
Baca Juga: Mengapa Revenue Tinggi Belum Tentu Menunjukkan Fundamental yang Sehat?
Sebagai contoh, dua proyek dapat bergerak dalam sektor yang sama tetapi memiliki market cap yang sangat berbeda. Salah satu proyek mungkin mempunyai harga token lebih tinggi, tetapi jumlah token beredarnya jauh lebih sedikit.
Karena itu, diperlukan beberapa metrik agar perbandingan dapat dilakukan secara lebih objektif.

Mengapa Membandingkan Proyek Kripto dalam Sektor yang Sama?
Perbandingan akan lebih relevan jika dua proyek mempunyai fungsi dan model bisnis yang serupa.
Misalnya:
- Dua blockchain Layer-1
- Dua blockchain Layer-2
- Dua protokol DeFi
- Dua proyek oracle
- Dua proyek decentralized exchange
- Dua proyek kripto berbasis AI
Membandingkan proyek yang berada dalam sektor yang sama memungkinkan trader melihat bagaimana pasar memberikan valuasi terhadap proyek dengan karakteristik yang relatif serupa.
Beberapa pertanyaan yang dapat dijawab melalui perbandingan tersebut antara lain:
- Proyek mana yang memiliki valuasi lebih rendah?
- Apakah valuasi yang lebih tinggi didukung oleh fundamental?
- Proyek mana yang mempunyai pertumbuhan pengguna lebih baik?
- Bagaimana kondisi tokenomics masing-masing proyek?
- Apakah masih banyak token yang belum beredar?
- Apakah pertumbuhan ekosistem menciptakan permintaan terhadap token?
1. Jangan Hanya Melihat Harga Token
Harga token merupakan salah satu angka yang paling mudah dilihat, tetapi bukan indikator yang tepat untuk menentukan murah atau mahalnya sebuah proyek.
Misalnya:
Proyek A
- Harga token: US$2
- Circulating supply: 1 miliar token
Proyek B
- Harga token: US$20
- Circulating supply: 100 juta token
Market cap Proyek A:
US$2 × 1 miliar = US$2 miliar
Market cap Proyek B:
US$20 × 100 juta = US$2 miliar
Meskipun harga kedua token berbeda 10 kali lipat, keduanya mempunyai market cap yang sama.
Artinya, harga per token tidak dapat digunakan sebagai dasar utama untuk menentukan proyek mana yang lebih murah.
2. Bandingkan Market Cap
Market capitalization atau market cap merupakan salah satu metrik dasar dalam membandingkan valuasi proyek kripto.
Rumus sederhananya:
Market Cap = Harga Token × Circulating Supply
Misalnya terdapat dua proyek dalam sektor yang sama:
| Metrik | Proyek A | Proyek B |
|---|---|---|
| Harga token | US$5 | US$3 |
| Circulating supply | 500 juta | 2 miliar |
| Market cap | US$2,5 miliar | US$6 miliar |
Dalam contoh tersebut, Proyek A mempunyai harga token lebih tinggi tetapi market cap yang lebih rendah.
Ini menunjukkan bahwa harga token yang lebih rendah tidak selalu berarti valuasinya lebih murah.
Market cap memberikan gambaran yang lebih baik mengenai seberapa besar nilai yang diberikan pasar terhadap token yang saat ini beredar.
3. Periksa Fully Diluted Valuation atau FDV
Selain market cap, trader juga perlu memperhatikan Fully Diluted Valuation (FDV).
FDV menggambarkan valuasi proyek jika seluruh token yang direncanakan sudah beredar.
Rumus sederhananya:
FDV = Harga Token × Total Supply
Contohnya:
Proyek A
- Market cap: US$1 miliar
- FDV: US$1,2 miliar
Proyek B
- Market cap: US$1 miliar
- FDV: US$10 miliar
Meskipun market cap kedua proyek sama, Proyek B memiliki perbedaan yang jauh lebih besar antara market cap dan FDV.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat banyak token yang belum beredar dan berpotensi masuk ke pasar di masa depan.
4. Perhatikan Token Unlock
Token unlock merupakan faktor penting ketika membandingkan dua proyek kripto.
Trader perlu melihat:
- Berapa persen token yang sudah beredar?
- Berapa banyak token yang masih terkunci?
- Kapan token akan dibuka?
- Siapa penerima token tersebut?
- Berapa besar token yang akan masuk ke pasar?
- Apakah unlock dilakukan sekaligus atau bertahap?
Jika sebuah proyek mempunyai circulating supply yang relatif kecil tetapi memiliki jumlah token terkunci yang sangat besar, risiko dilusi perlu diperhatikan.
Token yang masuk ke pasar dapat meningkatkan suplai. Apabila permintaan tidak tumbuh sebanding, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga.
5. Bandingkan Market Cap dengan Revenue
Untuk proyek yang menghasilkan pendapatan, revenue dapat menjadi salah satu metrik untuk membandingkan valuasi.
Misalnya:
Proyek A
- Market cap: US$2 miliar
- Revenue tahunan: US$100 juta
Proyek B
- Market cap: US$3 miliar
- Revenue tahunan: US$50 juta
Rasio sederhana yang dapat digunakan:
Market Cap / Revenue
Proyek A:
US$2 miliar ÷ US$100 juta = 20x
Proyek B:
US$3 miliar ÷ US$50 juta = 60x
Dalam contoh tersebut, pasar memberikan valuasi yang lebih tinggi terhadap setiap unit revenue yang dihasilkan Proyek B.
Namun, rasio ini tidak boleh digunakan sendirian. Trader tetap perlu melihat pertumbuhan revenue, kualitas pendapatan, sumber pendapatan, dan keberlanjutan model bisnis.
6. Gunakan TVL untuk Membandingkan Proyek DeFi
Jika proyek yang dibandingkan berada dalam sektor DeFi, Total Value Locked (TVL) dapat menjadi salah satu metrik tambahan.
TVL menunjukkan nilai aset yang terkunci dalam sebuah protokol.
Contohnya:
Proyek A
- Market cap: US$1 miliar
- TVL: US$2 miliar
Proyek B
- Market cap: US$2 miliar
- TVL: US$500 juta
Trader dapat menggunakan perbandingan sederhana:
Market Cap / TVL
Metrik tersebut dapat memberikan gambaran mengenai seberapa besar valuasi token dibandingkan dengan aset yang berada di dalam protokol.
Namun, TVL tidak boleh dianggap sebagai ukuran tunggal untuk menentukan kualitas proyek. Komposisi aset, sumber TVL, insentif, dan keberlanjutan penggunaannya juga perlu diperiksa.
Baca Juga: Cara Menilai Kualitas Pendapatan Sebuah Proyek Kripto
7. Periksa Aktivitas Jaringan
Untuk proyek blockchain, aktivitas jaringan merupakan faktor penting.
Beberapa data yang dapat dibandingkan antara lain:
- Active addresses
- Jumlah transaksi
- Pertumbuhan pengguna
- Alamat baru
- Volume transaksi
- Biaya transaksi
- Fees
- Aktivitas developer
- Jumlah aplikasi dalam ekosistem
Misalnya, dua blockchain mempunyai market cap yang hampir sama, tetapi salah satunya mempunyai pertumbuhan pengguna dan transaksi yang jauh lebih tinggi.
Perbedaan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menilai apakah valuasi kedua proyek memang sebanding.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya angka saat ini, tetapi juga tren pertumbuhannya.
8. Perhatikan Pertumbuhan Ekosistem
Valuasi sebuah proyek tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi saat ini. Pasar juga biasanya memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan di masa depan.
Misalnya:
Proyek A
- Market cap: US$1 miliar
- Pertumbuhan pengguna: 10%
Proyek B
- Market cap: US$3 miliar
- Pertumbuhan pengguna: 150%
Proyek B mempunyai valuasi lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat.
Dalam kondisi tertentu, valuasi yang lebih tinggi dapat dianggap masuk akal jika pertumbuhan tersebut mampu dipertahankan.
Karena itu, trader sebaiknya membandingkan valuasi dengan tingkat pertumbuhan, bukan hanya melihat angka valuasi secara terpisah.
9. Analisis Tokenomics
Tokenomics merupakan bagian penting dalam membandingkan proyek kripto.
Beberapa aspek yang perlu diperiksa:
- Total supply
- Circulating supply
- Maximum supply
- Inflation rate
- Token unlock
- Alokasi token
- Distribusi kepada tim
- Distribusi kepada investor awal
- Insentif ekosistem
- Mekanisme burn
- Utility token
Dua proyek dapat memiliki teknologi yang sama-sama menarik, tetapi tokenomics yang berbeda dapat menghasilkan profil risiko yang berbeda.
Misalnya, proyek dengan suplai token yang terus meningkat perlu mempunyai pertumbuhan permintaan yang cukup untuk mengimbangi pertumbuhan suplai.
10. Periksa Utility Token
Pertanyaan penting dalam analisis fundamental kripto adalah:
Apa manfaat token tersebut bagi ekosistem?
Token dapat mempunyai berbagai fungsi, seperti:
- Governance
- Staking
- Membayar biaya transaksi
- Mendapatkan akses ke layanan tertentu
- Jaminan dalam protokol
- Insentif ekosistem
Namun, keberadaan produk yang populer tidak otomatis berarti tokennya akan mendapatkan manfaat yang sama.
Trader perlu melihat hubungan antara pertumbuhan proyek dan permintaan terhadap token.
Dengan kata lain, jangan hanya bertanya:
“Apakah proyeknya bagus?”
Tetapi juga:
“Apakah pertumbuhan proyek tersebut menciptakan nilai atau permintaan bagi tokennya?”
11. Bandingkan Valuasi dengan Beberapa Kompetitor
Jika memungkinkan, jangan hanya membandingkan dua proyek.
Gunakan beberapa proyek dalam sektor yang sama sebagai pembanding.
Misalnya untuk sektor DeFi, trader dapat membuat daftar:
- Proyek A
- Proyek B
- Proyek C
- Proyek D
- Proyek E
Kemudian membandingkan:
| Metrik | A | B | C | D | E |
|---|---|---|---|---|---|
| Market Cap | |||||
| FDV | |||||
| TVL | |||||
| Revenue | |||||
| Volume | |||||
| Active Users |
Dengan cara ini, trader dapat melihat posisi relatif suatu proyek terhadap keseluruhan sektor.
Perbandingan dengan beberapa kompetitor juga dapat mengurangi risiko membuat kesimpulan hanya berdasarkan satu proyek pembanding.
12. Gunakan Metrik yang Sesuai dengan Sektornya
Tidak semua metrik cocok digunakan untuk setiap proyek kripto.
Untuk proyek DeFi
Beberapa metrik yang dapat diperhatikan:
- Market Cap
- FDV
- TVL
- Revenue
- Fees
- Volume transaksi
- Active users
Untuk Layer-1 dan Layer-2
Beberapa metrik yang dapat diperhatikan:
- Market Cap
- FDV
- Active addresses
- Transaction volume
- Fees
- Revenue
- Developer activity
- Stablecoin activity
- Pertumbuhan ekosistem
Untuk proyek infrastruktur
Beberapa metrik yang dapat diperhatikan:
- Market Cap
- FDV
- Revenue
- Jumlah integrasi
- Jumlah pengguna
- Nilai transaksi yang diproses
- Pertumbuhan penggunaan
Intinya, metrik harus disesuaikan dengan cara proyek tersebut menciptakan nilai.
13. Jangan Menganggap Market Cap Rendah Berarti Murah
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan trader adalah menganggap proyek dengan market cap kecil pasti undervalued.
Padahal, valuasi rendah dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti:
- Pengguna masih sedikit
- Produk belum terbukti
- Revenue rendah
- Pertumbuhan melambat
- Tokenomics kurang menarik
- Persaingan tinggi
- Risiko regulasi
- Teknologi belum matang
- Ekosistem masih kecil
Sebaliknya, proyek dengan market cap besar juga belum tentu overvalued.
Pasar mungkin memberikan valuasi tinggi karena proyek tersebut memiliki:
- Basis pengguna yang besar
- Ekosistem kuat
- Revenue tinggi
- Teknologi yang kompetitif
- Pertumbuhan yang cepat
- Network effect yang kuat
Karena itu, murah secara valuasi tidak selalu berarti murah secara fundamental.
14. Buat Matriks Perbandingan
Agar analisis lebih mudah dilakukan, trader dapat membuat matriks sederhana.
Contohnya:
| Faktor | Proyek A | Proyek B |
|---|---|---|
| Market Cap | 4/5 | 3/5 |
| FDV | 4/5 | 2/5 |
| Tokenomics | 4/5 | 3/5 |
| Revenue | 5/5 | 3/5 |
| Pertumbuhan pengguna | 3/5 | 5/5 |
| Aktivitas jaringan | 4/5 | 4/5 |
| Risiko unlock | 4/5 | 2/5 |
| Utility token | 4/5 | 3/5 |
Sistem penilaian seperti ini bukan metode untuk menentukan harga token secara otomatis.
Fungsinya adalah membantu trader menyusun analisis secara lebih terstruktur dan mengurangi keputusan yang hanya berdasarkan perasaan atau hype.
15. Pertimbangkan Kondisi Pasar
Valuasi relatif sebuah proyek juga perlu dilihat berdasarkan kondisi pasar secara keseluruhan.
Saat pasar sedang bullish, proyek tertentu dapat memperoleh valuasi tinggi karena investor memperkirakan pertumbuhan yang besar.
Sebaliknya, saat pasar bearish, proyek dengan fundamental yang cukup baik tetap dapat mengalami penurunan valuasi.
Karena itu, terdapat dua hal yang perlu dibedakan:
Valuasi relatif: bagaimana valuasi proyek dibandingkan dengan kompetitornya.
Valuasi absolut: apakah valuasi tersebut masuk akal berdasarkan fundamental dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Sebuah proyek dapat terlihat murah dibandingkan kompetitornya, tetapi seluruh sektor tersebut mungkin sedang mengalami overvaluation.
16. Gunakan Data dengan Periode yang Konsisten
Perbandingan juga harus menggunakan data dengan periode yang sama.
Contohnya, jangan membandingkan:
- Revenue Proyek A selama 30 hari
- Revenue Proyek B selama 12 bulan
Hasilnya tentu tidak akan memberikan perbandingan yang adil.
Jika menggunakan revenue, volume transaksi, fees, atau pertumbuhan pengguna, gunakan periode yang sama dan pahami bagaimana masing-masing data dihitung.
Selain itu, data dari berbagai platform analitik dapat memiliki metode perhitungan yang berbeda. Karena itu, trader sebaiknya memeriksa sumber data sebelum menarik kesimpulan.
Langkah Praktis Membandingkan Dua Proyek Kripto
Secara sederhana, prosesnya dapat dilakukan dengan urutan berikut:
1. Tentukan sektor
Pastikan kedua proyek memiliki fungsi atau model bisnis yang cukup sebanding.
2. Bandingkan market cap
Lihat seberapa besar valuasi pasar terhadap token yang beredar.
3. Periksa FDV
Cari tahu seberapa besar valuasi apabila seluruh token telah beredar.
4. Analisis token unlock
Periksa potensi tambahan suplai yang akan masuk ke pasar.
5. Bandingkan revenue dan fees
Gunakan jika proyek memang mempunyai sumber pendapatan yang relevan.
6. Periksa aktivitas jaringan
Lihat pengguna aktif, transaksi, volume, dan metrik lain yang sesuai.
7. Analisis tokenomics
Periksa distribusi token, inflasi, staking, burn, serta utility.
8. Bandingkan pertumbuhan
Lihat apakah pengguna, revenue, transaksi, atau ekosistem mengalami pertumbuhan.
9. Bandingkan dengan kompetitor lain
Jangan hanya mengandalkan satu proyek sebagai pembanding.
10. Evaluasi risiko
Pertimbangkan risiko teknologi, regulasi, kompetisi, token unlock, likuiditas, dan kondisi pasar.
Baca Juga: Masa Depan Broker: Apakah AI Akan Mengubah Cara Trader Bertransaksi?
Kesimpulan
Membandingkan valuasi dua proyek kripto dalam sektor yang sama membutuhkan lebih dari sekadar melihat harga token.
Beberapa metrik penting yang dapat digunakan antara lain market cap, FDV, circulating supply, token unlock, tokenomics, revenue, TVL, aktivitas jaringan, jumlah pengguna, pertumbuhan ekosistem, dan utility token.
Perbandingan yang baik juga harus mempertimbangkan karakteristik sektor masing-masing. Metrik yang berguna untuk DeFi belum tentu memiliki relevansi yang sama untuk blockchain Layer-1, Layer-2, atau proyek infrastruktur.
Yang paling penting, jangan langsung menganggap proyek dengan market cap rendah sebagai proyek yang murah. Sebaliknya, jangan pula menganggap proyek dengan market cap besar sebagai proyek yang sudah terlalu mahal.
Tujuan utama analisis valuasi adalah mencari tahu apakah valuasi sebuah proyek masuk akal jika dibandingkan dengan fundamental, penggunaan, pertumbuhan, tokenomics, dan potensi risikonya.
Dengan pendekatan tersebut, trader dapat membuat perbandingan yang lebih objektif dan tidak hanya mengambil keputusan berdasarkan harga token, hype, atau popularitas proyek.
