Tradingan – #Pasar #Bitcoin kembali menjadi #perhatian setelah #analis dari #U.S. #Tiger #Securities menyebut #aset #kripto terbesar di dunia tersebut telah memasuki #rezim #bull #market baru. #Perusahaan itu mempertahankan peringkat Beli untuk #Bitcoin dan menetapkan #target #harga #siklus sebesar #US$250.000, yang diperkirakan dapat tercapai pada 2029 atau lebih awal.
Pandangan tersebut disampaikan analis U.S. Tiger Securities, Bo Pei, yang melihat sejumlah indikator mulai menunjukkan perubahan struktur pasar Bitcoin. Analisis tersebut mencakup terbentuknya level terendah yang lebih tinggi, level tertinggi yang lebih tinggi, serta pemulihan harga di atas basis biaya sejumlah kelompok investor.
Menurut laporan Investing.com yang diterbitkan 23 September 2026, perubahan pandangan ini juga menandai pergeseran dari penilaian sebelumnya pada Juli yang masih menggambarkan kondisi Bitcoin sebagai fase akhir pasar bear.

Baca: Cardano Masuk Standar x402, Harga ADA Naik 4% dan Tembus Level Tertinggi 4 Bulan
Bitcoin Dinilai Memasuki Fase Bull Market Baru
Bo Pei menilai pergerakan harga Bitcoin mulai menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan fase pelemahan sebelumnya.
Salah satu indikator yang diperhatikan adalah kemampuan Bitcoin membentuk higher low dan higher high, atau level terendah dan tertinggi yang semakin meningkat. Pola tersebut menjadi salah satu faktor yang digunakan analis untuk menilai apakah tren harga mulai berubah.
Selain itu, Bitcoin juga berhasil kembali berada di atas sejumlah ukuran basis biaya investor. Kondisi tersebut dinilai memperkuat indikasi bahwa tekanan jual mulai mereda dan permintaan kembali meningkat.
Pei juga menyoroti pemulihan pembelian Bitcoin melalui produk exchange-traded fund (ETF). Menurutnya, kembali meningkatnya arus dana ETF menjadi tambahan bukti bahwa permintaan terhadap Bitcoin mulai pulih bersamaan dengan kenaikan harga.
Target Harga Bitcoin US$250.000 pada 2029
U.S. Tiger Securities menetapkan target siklus Bitcoin di level US$250.000. Target tersebut diperkirakan dapat tercapai pada 2029 atau bahkan lebih cepat, berdasarkan asumsi valuasi yang digunakan dalam analisis perusahaan.
Target tersebut bukan berarti harga Bitcoin dipastikan mencapai US$250.000. Angka tersebut merupakan proyeksi analis berdasarkan sejumlah model valuasi dan kondisi pasar yang dapat berubah seiring waktu.
Dalam perhitungannya, target US$250.000 akan memberikan nilai jaringan Bitcoin sekitar US$5,25 triliun apabila menggunakan asumsi pasokan terminal sebanyak 21 juta Bitcoin.
Nilai tersebut setara dengan sekitar 16,9% dari estimasi nilai pasar emas, dan berada di sekitar batas bawah kisaran awal perusahaan sebesar 15% hingga 25%.
Harga Emas Ikut Menjadi Acuan
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam menentukan target Bitcoin tersebut adalah membandingkan kapitalisasi Bitcoin dengan pasar emas.
Pei menyebut kenaikan harga emas sebesar 20% hingga 30% dapat menurunkan rasio nilai Bitcoin terhadap emas yang tersirat dalam target tersebut menjadi sekitar 13% hingga 14,1%.
Dengan demikian, kenaikan nilai pasar emas secara teoritis dapat membantu menopang target Bitcoin tanpa membutuhkan perubahan yang terlalu besar dalam alokasi relatif antara Bitcoin dan emas.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa proyeksi harga Bitcoin tidak hanya didasarkan pada pergerakan grafik harga, tetapi juga mempertimbangkan posisi Bitcoin sebagai aset yang oleh sebagian investor dibandingkan dengan emas sebagai penyimpan nilai.
Arus Dana Bitcoin ETF Mulai Berbalik
Salah satu perkembangan penting yang menjadi perhatian analis adalah perubahan arus dana pada ETF Bitcoin.
Menurut laporan tersebut, ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih sekitar US$4,20 miliar selama periode 17 Agustus hingga 21 September.
Angka tersebut menjadi kontras dengan arus keluar sekitar US$8,42 miliar yang tercatat selama delapan minggu berturut-turut sejak Mei hingga awal Juli.
Lebih lanjut, arus masuk sebesar US$937,3 juta pada 21 September disebut menjadi arus masuk harian terbesar sejak puncak siklus pada Oktober 2025.
Perubahan arus dana tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena ETF memberikan jalur bagi investor untuk mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui produk investasi yang diperdagangkan di pasar keuangan.
Bitcoin Sempat Turun di Bawah Area US$76.000-US$77.000
Dalam pergerakan sebelumnya, Bitcoin sempat mengalami tekanan dan turun di bawah area yang disebut sebagai True Market Mean, yakni sekitar US$76.000 hingga US$77.000.
Namun, Bitcoin tetap berada di atas basis biaya pemegang jangka pendek sebelum akhirnya kembali bergerak naik dan menembus kembali sejumlah tolok ukur tersebut.
Menurut analisis Pei, kemampuan Bitcoin untuk kembali melewati area-area penting tersebut menjadi salah satu bagian dari perubahan struktur pasar yang mendukung pandangan bahwa fase bullish baru sedang berlangsung.
Baca: BitMine Borong 27.562 Ethereum, Kini Pegang 5,98 Juta ETH Senilai US$16,3 Miliar
Bitcoin Kembali Melewati Level Tertinggi Mei
Pergerakan Bitcoin berikutnya juga menjadi perhatian. Pemulihan harga berhasil melewati level tertinggi Bitcoin pada Mei yang berada di sekitar US$82.814.
Dari titik terendah pada Juli, pemulihan tersebut menghasilkan kenaikan sekitar 49,1%, berdasarkan perhitungan yang dikutip dalam laporan Investing.com.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa analis mulai melihat adanya perubahan dari fase pemulihan menuju fase bullish yang lebih luas.
Meski demikian, perkembangan harga Bitcoin tetap dapat berubah dengan cepat karena pasar kripto memiliki volatilitas yang tinggi.
Kebijakan The Fed Tidak Berhasil Mematahkan Tren Bitcoin
Faktor makroekonomi juga menjadi bagian penting dalam analisis U.S. Tiger Securities.
Pei menilai sejumlah hambatan kebijakan yang sebelumnya dikhawatirkan pasar ternyata belum berhasil mematahkan tren kenaikan Bitcoin.
Dua faktor yang disebut adalah perkembangan Clarity Act serta kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin.
Menurut Pei, sebagian dampak dari kedua faktor tersebut sudah diperhitungkan oleh pasar. Bitcoin memang mengalami penurunan selama periode kebijakan tersebut, tetapi penurunannya disebut sekitar 5,9%.
Setelah keputusan The Fed, titik terendah Bitcoin dalam 24 jam hanya sekitar 1% di bawah level sebelum keputusan tersebut.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan analis menilai respons pasar terhadap kebijakan moneter belum cukup untuk membatalkan tesis bullish Bitcoin yang mereka gunakan.
Faktor Fiskal Amerika Serikat Jadi Perhatian
Selain kebijakan suku bunga, kondisi fiskal Amerika Serikat juga menjadi bagian dari tesis jangka panjang yang digunakan Pei.
Menurut analisis tersebut, siklus kenaikan suku bunga yang terbatas, defisit fiskal yang persisten, serta meningkatnya biaya refinancing dapat memperkuat insentif pemerintah untuk mengendalikan biaya pembiayaan dalam jangka panjang.
Dalam perspektif analis tersebut, kondisi tersebut berpotensi mendukung apa yang disebut sebagai premi moneter Bitcoin.
Namun, faktor fiskal dan moneter tetap sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global, kebijakan pemerintah, inflasi, suku bunga, likuiditas pasar, serta sentimen investor.
Pertumbuhan Bitcoin yang Dibutuhkan Lebih Rendah Dibanding Siklus Sebelumnya
Menariknya, analis U.S. Tiger Securities menilai Bitcoin tidak harus mengalami tingkat pertumbuhan setinggi siklus sebelumnya untuk mencapai target US$250.000.
Berdasarkan perhitungan yang dikutip Investing.com, basis biaya Bitcoin perlu berada di kisaran US$147.000 hingga US$167.000 untuk mendukung proyeksi tersebut.
Angka tersebut mengimplikasikan pertumbuhan tahunan sekitar 24% hingga 29% selama tiga tahun.
Laju pertumbuhan itu masih berada di bawah sekitar 39% per tahun yang terlihat setelah sinyal pemulihan pada April 2023.
Artinya, proyeksi tersebut dibangun dengan asumsi bahwa Bitcoin dapat mengalami pertumbuhan yang lebih moderat dibandingkan periode bullish sebelumnya.
Apa Arti Proyeksi Ini bagi Investor Bitcoin?
Pandangan U.S. Tiger Securities menunjukkan bahwa sebagian analis mulai melihat perubahan struktur pasar Bitcoin dari fase koreksi menuju siklus bullish baru.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain:
- Harga membentuk higher low dan higher high.
- Bitcoin kembali berada di atas sejumlah basis biaya investor.
- Arus dana ETF Bitcoin kembali mencatat inflow.
- Harga mampu pulih melewati level tertinggi Mei.
- Permintaan terhadap Bitcoin dinilai mulai kembali.
- Target valuasi jangka panjang dibandingkan dengan kapitalisasi pasar emas.
Namun, seluruh indikator tersebut merupakan bagian dari analisis pasar dan bukan jaminan bahwa Bitcoin pasti mencapai US$250.000 pada 2029.
Harga Bitcoin tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan bank sentral, kondisi likuiditas global, regulasi aset kripto, arus dana institusional, sentimen pasar, kondisi ekonomi, serta perubahan minat investor.
Bitcoin Masih Berada di Pasar yang Sangat Volatil
Bitcoin merupakan aset dengan volatilitas tinggi. Perubahan harga dapat berlangsung cepat dan dipengaruhi oleh berita ekonomi maupun sentimen investor dalam waktu singkat.
Karena itu, target harga jangka panjang seperti US$250.000 sebaiknya dipahami sebagai proyeksi berbasis asumsi tertentu, bukan kepastian harga.
Data harga Bitcoin yang tersedia di Investing.com menunjukkan bahwa aset tersebut masih menjadi mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Pada saat data tersebut diperbarui, Bitcoin berada di sekitar US$85.590 dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,72 triliun.
Perbedaan antara harga pasar saat ini dan target jangka panjang juga menunjukkan bahwa perjalanan menuju target tersebut, apabila terjadi, masih membutuhkan pertumbuhan yang signifikan.
Baca: Harga Timah 2026 Tembus US$51.000, PT Timah Optimistis Naik ke US$55.000 per Ton
Kesimpulan
Analis U.S. Tiger Securities melalui Bo Pei menilai Bitcoin telah memasuki rezim bull market baru setelah sebelumnya berada dalam fase yang lebih lemah.
Perubahan struktur harga, pemulihan di atas basis biaya investor, serta kembali masuknya dana ke ETF Bitcoin menjadi sejumlah faktor yang mendukung pandangan tersebut.
Perusahaan mempertahankan peringkat Beli dan menetapkan target siklus Bitcoin sebesar US$250.000 pada 2029 atau lebih awal.
Target tersebut dibangun melalui perbandingan dengan nilai pasar emas serta analisis basis biaya on-chain. Untuk mencapainya, analis memperkirakan diperlukan pertumbuhan tahunan sekitar 24% hingga 29% selama tiga tahun.
Meski demikian, proyeksi tersebut tetap merupakan pandangan analis. Pergerakan Bitcoin pada akhirnya akan ditentukan oleh kondisi pasar dan berbagai faktor ekonomi, moneter, regulasi, serta arus modal yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
