Tradingan – #Harga #Bitcoin kembali menjadi perhatian #investor setelah mengalami #penguatan di tengah #perkembangan #kebijakan #moneter #global. Kondisi ini membuat sebagian investor, terutama #pemula, mulai mempertimbangkan untuk masuk ke #aset #kripto tersebut.
Namun, membeli Bitcoin ketika harga sedang tinggi bukan keputusan yang bisa dilakukan hanya karena melihat harga terus bergerak naik. Investor perlu mempertimbangkan kondisi keuangan pribadi, profil risiko, strategi pembelian, hingga kemampuan menghadapi potensi penurunan harga.

Baca: Pajak Marketplace Mulai 1 November 2026, Seller Online Wajib Tahu Aturan PPh 22
Mengutip laporan CNN Indonesia, pada Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 12.06 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.442 atau sekitar Rp1,35 miliar dengan asumsi kurs Rp17.749 per dolar AS. Pada saat itu, harga Bitcoin tercatat naik sekitar 1,05 persen dalam 24 jam. Kapitalisasi pasar Bitcoin berada di kisaran US$1,53 triliun dengan volume perdagangan 24 jam sekitar US$30,34 miliar.
Pergerakan Bitcoin tersebut juga berlangsung setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (16/9).
Kebijakan moneter global menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan aset berisiko, termasuk aset kripto.
Apakah Masih Bisa Investasi Bitcoin Saat Harga Tinggi?
Pertanyaan tersebut menjadi penting bagi investor pemula. Ketika harga Bitcoin mengalami kenaikan, keinginan untuk segera membeli dapat muncul karena khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan.
Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan istilah FOMO atau fear of missing out, yaitu keputusan membeli aset karena takut tertinggal dari kenaikan harga.
Perencana keuangan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC), Aidil Akbar Madjid, mengatakan investor pemula masih dapat mulai berinvestasi Bitcoin meskipun harga sedang naik.
Namun, ia mengingatkan agar investor tidak berusaha menebak waktu terbaik untuk masuk ke pasar.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membeli secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA). Dengan metode tersebut, investor membeli aset dengan nominal tertentu secara berkala, sehingga tidak seluruh dana langsung ditempatkan ketika harga sedang berada pada level tinggi.
Strategi bertahap juga dapat membantu investor mengurangi ketergantungan pada keputusan berdasarkan pergerakan harga dalam satu waktu.
Baca: Kemenkeu Jaga SAL Rp200 Triliun di Perbankan hingga Juli 2027, Ini Penjelasannya
Jangan Terburu-buru Mengejar Harga Bitcoin
Bitcoin dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Harga dapat mengalami kenaikan maupun penurunan secara cepat sehingga investor perlu mempersiapkan kemungkinan terjadinya koreksi.
Bagi investor pemula, risiko terbesar bukan hanya ketika harga turun, tetapi ketika pembelian dilakukan karena ikut-ikutan tanpa memahami risiko.
Karena itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada kondisi keuangan dan tujuan investasi masing-masing, bukan sekadar karena melihat orang lain memperoleh keuntungan.
Investor juga perlu memahami konsep drawdown, yaitu penurunan nilai aset dari titik tertinggi menuju titik terendah dalam suatu periode.
Semakin besar toleransi terhadap penurunan harga, semakin penting pula investor memastikan bahwa dana yang digunakan memang bukan dana untuk kebutuhan sehari-hari.
Gunakan Uang Dingin untuk Investasi Bitcoin
Salah satu prinsip penting sebelum membeli Bitcoin adalah menggunakan uang dingin.
Uang dingin merupakan dana yang tidak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, membayar cicilan, dana pendidikan, kebutuhan keluarga, maupun kebutuhan penting lainnya dalam waktu dekat.
Perencana keuangan juga mengingatkan agar investor tidak menggunakan dana hasil utang untuk membeli aset kripto.
Artinya, seseorang sebaiknya tidak mengambil pinjaman hanya karena berharap harga Bitcoin akan terus naik.
Jika harga kemudian turun tajam, investor bukan hanya menghadapi kerugian dari aset yang dimiliki, tetapi juga tetap harus membayar kewajiban utangnya.
Pastikan Kondisi Keuangan Sudah Sehat
Sebelum mulai membeli Bitcoin, kondisi keuangan pribadi perlu diperiksa terlebih dahulu.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Arus kas bulanan tidak mengalami defisit.
- Kebutuhan pokok sudah terpenuhi.
- Dana darurat tersedia.
- Utang konsumtif berbunga tinggi sudah terkendali atau dilunasi.
- Tujuan investasi sudah jelas.
- Dana investasi tidak diperlukan dalam waktu dekat.
- Investor memahami kemungkinan kehilangan sebagian atau bahkan sebagian besar nilai investasinya.
Dengan fondasi keuangan yang lebih kuat, investor akan memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi volatilitas aset kripto.
Dana Darurat Harus Aman
Dana darurat merupakan salah satu pos yang tidak seharusnya dikorbankan demi membeli Bitcoin.
Kebutuhan dana darurat dapat berbeda-beda berdasarkan kondisi keluarga. Dalam pandangan perencana keuangan yang dikutip dalam laporan tersebut, kebutuhan dana darurat dapat disesuaikan dengan jumlah tanggungan.
Investor lajang tanpa tanggungan dapat menyiapkan dana darurat sekitar tiga bulan kebutuhan hidup. Sementara orang dengan satu tanggungan dapat mempertimbangkan dana darurat sekitar enam bulan.
Adapun mereka yang memiliki dua atau lebih tanggungan dapat mempertimbangkan dana darurat hingga 12 bulan kebutuhan.
Angka tersebut bukan ukuran mutlak untuk semua orang. Kondisi pekerjaan, kestabilan pendapatan, jumlah tanggungan, dan kebutuhan keluarga tetap perlu diperhitungkan.
Sesuaikan Investasi Bitcoin dengan Profil Risiko
Setiap investor memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi kerugian.
Investor dengan profil konservatif tentu memiliki toleransi risiko yang berbeda dengan investor agresif. Karena itu, porsi Bitcoin dalam portofolio tidak seharusnya disamakan untuk semua orang.
Dalam laporan CNN Indonesia, Aidil memberikan ilustrasi alokasi berdasarkan profil risiko, dengan kisaran hingga 3 persen untuk profil konservatif, 5 persen untuk moderat, dan 10 persen untuk agresif. Angka tersebut merupakan pandangan perencana keuangan yang dikutip dalam laporan dan bukan patokan universal bagi seluruh investor.
Yang lebih penting adalah memastikan bahwa apabila Bitcoin mengalami penurunan tajam, kondisi keuangan secara keseluruhan tetap dapat berjalan.
Jangan Menaruh Seluruh Dana di Bitcoin
Diversifikasi menjadi salah satu prinsip penting dalam pengelolaan portofolio.
Investor dapat mempertimbangkan berbagai jenis aset sesuai tujuan dan profil risikonya, seperti saham, obligasi, reksa dana, emas, maupun instrumen lainnya.
Dengan diversifikasi, risiko portofolio tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan satu jenis aset.
Bitcoin dapat menjadi bagian dari portofolio bagi investor yang memahami karakteristik dan risikonya, tetapi keputusan mengenai porsinya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Analisis Teknikal Bisa Menjadi Salah Satu Pertimbangan
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, mengatakan investor dapat menggunakan analisis teknikal untuk melihat kondisi tren harga Bitcoin.
Analisis teknikal dapat digunakan untuk mengamati apakah suatu aset sedang berada dalam tren kenaikan atau terdapat indikasi potensi koreksi.
Namun, analisis teknikal bukan jaminan bahwa harga akan bergerak sesuai perkiraan.
Pasar aset kripto dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sentimen investor, kondisi likuiditas global, kebijakan bank sentral, perkembangan regulasi, hingga kondisi pasar secara keseluruhan.
Karena itu, analisis teknikal sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
Jangan Berutang Demi Membeli Bitcoin
Investor perlu menghindari penggunaan dana pinjaman untuk membeli Bitcoin.
Risikonya menjadi lebih besar karena investor menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu risiko penurunan harga aset dan kewajiban membayar utang.
Jika Bitcoin mengalami koreksi setelah pembelian, investor bisa berada dalam posisi harus menjual aset pada saat yang tidak diinginkan hanya untuk memenuhi kewajiban finansial.
Karena itu, dana investasi sebaiknya berasal dari dana yang memang telah dialokasikan untuk tujuan investasi dan bukan dana kebutuhan hidup.
OJK Mengawasi Perdagangan Aset Kripto di Indonesia
Selain memahami risiko pasar, investor juga perlu memperhatikan aspek legalitas dan perlindungan konsumen.
Pada 2026, pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK dan Bappebti secara resmi mengakhiri masa transisi pengalihan pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital pada Januari 2026.
OJK juga telah menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor 3 Tahun 2026 mengenai penyelenggaraan perdagangan aset keuangan digital termasuk aset kripto. Aturan tersebut mulai berlaku pada 1 September 2026.
Data OJK menunjukkan ekosistem perdagangan aset kripto Indonesia terus berkembang. Hingga Juni 2026, terdapat 22,69 juta akun konsumen pedagang aset keuangan digital. Nilai transaksi aset kripto pada bulan tersebut mencapai Rp28,58 triliun.
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berinteraksi dengan aset digital. Namun, pertumbuhan jumlah investor tidak berarti risiko investasinya menjadi lebih rendah.
Pastikan Platform Perdagangan Legal
Sebelum membeli Bitcoin, investor sebaiknya memastikan platform yang digunakan memiliki izin sesuai ketentuan yang berlaku.
OJK secara berkala mempublikasikan informasi mengenai statistik dan perkembangan penyelenggara perdagangan aset keuangan digital termasuk aset kripto.
Langkah ini penting karena maraknya aset digital juga diikuti risiko penipuan, akun palsu, promosi investasi ilegal, dan berbagai modus yang menjanjikan keuntungan cepat.
Investor perlu berhati-hati terhadap pihak yang menawarkan keuntungan tetap atau menjanjikan profit tanpa risiko.
Bagaimana Tanda Investor Sudah Siap Membeli Bitcoin?
Kesiapan investasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah uang yang dimiliki.
Investor juga perlu siap menghadapi kemungkinan harga turun setelah pembelian.
Salah satu indikator sederhana adalah kemampuan untuk tetap menjalankan kebutuhan keuangan sehari-hari meskipun nilai Bitcoin yang dimiliki sedang turun.
Investor juga perlu mampu mengambil keputusan tanpa panik ketika pasar bergerak berlawanan dengan harapan.
Selain itu, investor sebaiknya melakukan riset sendiri dan tidak sekadar mengikuti rekomendasi dari influencer, teman, grup media sosial, maupun orang lain.
Strategi DCA untuk Menghadapi Harga yang Berfluktuasi
Dollar cost averaging atau DCA menjadi salah satu strategi yang disoroti dalam laporan tersebut.
Dengan DCA, investor membeli Bitcoin secara berkala dengan nominal yang telah ditentukan.
Contohnya, investor menetapkan anggaran investasi bulanan tertentu. Dana tersebut digunakan untuk membeli Bitcoin secara berkala tanpa berusaha menebak harga terendah.
Metode tersebut tidak menghilangkan risiko kerugian. Namun, strategi pembelian berkala dapat membantu investor menghindari keputusan memasukkan seluruh dana pada satu titik harga.
Jangan Membeli Bitcoin Hanya Karena Sedang Naik
Kenaikan harga sering kali membuat investor merasa harus segera membeli.
Namun, harga yang sedang naik tidak otomatis berarti harga akan terus naik. Sebaliknya, harga yang tinggi juga tidak otomatis berarti akan langsung turun.
Karena arah pasar tidak dapat dipastikan, investor perlu membuat rencana sebelum melakukan pembelian.
Rencana tersebut dapat mencakup jumlah dana, periode investasi, batas risiko, tujuan investasi, serta kondisi yang membuat investor perlu melakukan evaluasi kembali.
Baca: BEI Siapkan Saham Baru untuk Demutualisasi, Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham
Kesimpulan
Investasi Bitcoin ketika harga sedang tinggi tetap memiliki risiko yang perlu diperhitungkan secara matang.
Hal terpenting bagi investor pemula adalah tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga dan menghindari FOMO. Kondisi keuangan harus sehat, dana darurat harus aman, utang konsumtif perlu terkendali, serta dana investasi sebaiknya berasal dari uang dingin.
Investor juga perlu memahami profil risiko, melakukan diversifikasi, mempertimbangkan strategi pembelian bertahap seperti DCA, serta melakukan riset sebelum mengambil keputusan.
Di Indonesia, investor juga perlu memperhatikan perkembangan regulasi karena aset keuangan digital termasuk aset kripto kini berada dalam kerangka pengaturan dan pengawasan OJK.
Pada akhirnya, keputusan membeli Bitcoin sebaiknya tidak didasarkan pada tekanan untuk mengikuti tren. Investor perlu memahami bahwa Bitcoin merupakan aset dengan volatilitas tinggi dan keputusan investasi harus disesuaikan dengan tujuan serta kemampuan finansial masing-masing.
