Tradingan – PT #Bank #Central Asia Tbk (#BBCA) memastikan kondisi #likuiditas #perusahaan tetap terjaga di tengah dinamika #suku #bunga #pasar #uang #antarbank (#PUAB) yang terus menjadi perhatian pelaku #industri #perbankan.
Pergerakan suku bunga PUAB sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi domestik hingga perkembangan ekonomi global. Menghadapi dinamika tersebut, BCA menyatakan terus melakukan pengelolaan likuiditas secara hati-hati dengan memanfaatkan berbagai instrumen yang tersedia di pasar.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pengelolaan likuiditas bank tidak hanya bergantung pada pasar uang antarbank atau PUAB.

Baca: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melonjak 471% Jadi Rp228 Miliar, Saham Bergerak Fluktuatif
“Sebagai informasi, dalam mengelola likuiditas bank akan memanfaatkan semua instrumen yang ada di pasar, tidak hanya dengan PUAB namun bisa juga dengan instrumen repo,” ujar Hera kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Likuiditas BCA Masih Terjaga
Hera menegaskan bahwa secara umum kondisi likuiditas BCA masih berada dalam kondisi yang baik. Salah satu faktor pendukungnya adalah struktur pendanaan perseroan yang solid, terutama berasal dari dana murah atau Current Account Savings Account (CASA).
Berdasarkan data per Juni 2026, dana giro dan tabungan atau CASA BCA tumbuh 10,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sekitar Rp1.082 triliun.
Dengan pertumbuhan tersebut, porsi CASA BCA mencapai sekitar 85% dari total dana pihak ketiga (DPK). Tingginya porsi dana murah menjadi salah satu kekuatan struktur pendanaan bank karena dapat membantu menopang kebutuhan likuiditas dan efisiensi biaya dana.
Pada periode yang sama, total DPK BCA juga mengalami pertumbuhan. DPK perseroan meningkat 7,9% secara tahunan menjadi Rp1.284 triliun.
BCA Terapkan Manajemen Likuiditas Secara Prudent
Di tengah perubahan kondisi pasar uang dan suku bunga, BCA menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola likuiditas.
Strategi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan manajemen risiko serta menjaga keseimbangan antara ketersediaan dana dengan kebutuhan ekspansi kredit.
Menurut Hera, BCA berkomitmen untuk mempertahankan kecukupan likuiditas sekaligus mendukung pertumbuhan kredit yang sehat.
” BCA berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat,” katanya.
Dinamika Suku Bunga PUAB Jadi Perhatian
Perubahan suku bunga PUAB menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan industri perbankan karena berkaitan dengan kondisi likuiditas dan kebutuhan pendanaan jangka pendek antarbank.
Dalam situasi pasar yang dinamis, bank perlu memiliki strategi pengelolaan dana yang fleksibel. BCA menyatakan tidak hanya mengandalkan satu sumber atau instrumen untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, tetapi juga memanfaatkan instrumen pasar lainnya, termasuk repo.
Langkah tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi instrumen dalam pengelolaan likuiditas perbankan, terutama ketika kondisi pasar uang mengalami perubahan.
DPK dan CASA Jadi Penopang Struktur Pendanaan
Pertumbuhan CASA dan DPK BCA hingga Juni 2026 menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kekuatan struktur pendanaan perseroan.
CASA sebesar Rp1.082 triliun dengan porsi sekitar 85% dari DPK menunjukkan bahwa sebagian besar dana pihak ketiga BCA berasal dari giro dan tabungan. Sementara total DPK mencapai Rp1.284 triliun.
Dengan struktur pendanaan tersebut, BCA menilai kondisi likuiditas masih terjaga dengan baik meskipun pasar menghadapi dinamika suku bunga PUAB.
Bagi investor, perkembangan likuiditas, pertumbuhan DPK, CASA, serta kemampuan bank menjaga ekspansi kredit tetap sehat menjadi sejumlah indikator yang layak diperhatikan dalam mencermati kinerja saham perbankan, termasuk BBCA.
Prospek Likuiditas BCA
Ke depan, perkembangan kondisi ekonomi domestik, kebijakan moneter, pergerakan suku bunga, serta kondisi pasar keuangan global akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi dinamika likuiditas perbankan.
BCA menegaskan akan terus melakukan pengelolaan likuiditas secara prudent dengan memperhatikan prinsip manajemen risiko.
Kondisi tersebut menjadi penting karena bank tidak hanya dituntut menjaga kecukupan likuiditas, tetapi juga harus mampu mendukung pertumbuhan kredit secara sehat dan berkelanjutan.
Dengan pertumbuhan CASA sebesar 10,2% yoy menjadi Rp1.082 triliun dan DPK yang tumbuh 7,9% yoy menjadi Rp1.284 triliun hingga Juni 2026, BCA menyatakan posisi likuiditasnya tetap terjaga di tengah dinamika suku bunga PUAB.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia pada sumber TradingView/Kontan dan ditulis ulang untuk kebutuhan publikasi berita. Angka serta pernyataan utama mengikuti data yang tercantum pada sumber tersebut.
