Co-Founder Solana Kritik Biaya Robinhood Chain US$0,40, Sebut Terlalu Mahal


Tradingan – #Persaingan #teknologi #blockchain kembali #memanas setelah #Co-Founder #Solana, #Anatoly Yakovenko, mengkritik #biaya #transaksi yang dikenakan di #Robinhood Chain. Yakovenko menilai biaya jaringan tersebut terlalu tinggi dibandingkan biaya transaksi di Solana dan menyebut model keuntungan yang muncul dari kemacetan jaringan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Robinhood Chain diketahui mengenakan biaya transaksi rata-rata sekitar US$0,40 per transaksi. Dengan asumsi kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, angka tersebut setara dengan kurang lebih Rp6.400 per transaksi.

Co Founder Solana Kritik Biaya Robinhood Chain US040 Sebut Terlalu Mahal
Co-Founder Solana Kritik Biaya Robinhood Chain US$0,40, Sebut Terlalu Mahal

Menurut Yakovenko, pekerjaan yang sama dapat diproses melalui jaringan Solana dengan biaya yang hanya sebagian kecil dari satu sen dolar AS. Kritik tersebut muncul ketika aktivitas Robinhood Chain mengalami pertumbuhan sangat cepat.

Baca: Harga Minyak dan Emas Pekan Depan Berpotensi Fluktuatif, Antam Diprediksi Tembus Rp2,754 Juta per Gram

Biaya Robinhood Chain Tembus US$4,22 Juta Sehari

Robinhood Chain resmi meluncur di mainnet pada 1 Juli 2026. Blockchain tersebut menggunakan teknologi Arbitrum, melakukan settlement transaksi ke Ethereum, serta menggunakan Ether (ETH) sebagai aset untuk membayar gas fee.

Pertumbuhan penggunaan jaringan kemudian meningkat tajam. Data yang dikutip dalam laporan terbaru menunjukkan biaya transaksi Robinhood Chain sempat mencapai sekitar US$4,22 juta dalam satu hari, dengan sekitar 10,4 juta transaksi.

Jika biaya tersebut dibagi dengan jumlah transaksi, rata-ratanya berada di kisaran US$0,40 per transaksi.

Robinhood Chain juga tercatat memiliki median fee sekitar US$0,24, yang menjadikannya salah satu jaringan dengan biaya transaksi paling tinggi dibandingkan sejumlah blockchain lain yang menjadi pembanding.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena biaya jaringan pada blockchain umumnya sangat dipengaruhi oleh tingkat permintaan terhadap ruang blok. Ketika aktivitas meningkat dan kapasitas jaringan tertekan, biaya transaksi dapat ikut naik.

Solana Dinilai Jauh Lebih Murah

Yakovenko membandingkan kondisi tersebut dengan Solana.

Pada jaringan Solana, biaya dasar yang disebutkan dalam laporan berada di level 5.000 lamports per tanda tangan. Lamport merupakan unit terkecil dalam ekosistem Solana, dengan 1 SOL setara dengan 1 miliar lamports.

Dengan harga SOL yang berada di sekitar US$102 ketika laporan tersebut dibuat, biaya dasar transaksi Solana masih jauh di bawah satu sen dolar AS.

Perbandingan tersebut menjadi dasar kritik Yakovenko terhadap model biaya Robinhood Chain. Menurutnya, pengguna seharusnya tidak perlu membayar biaya yang relatif besar apabila teknologi blockchain yang digunakan mampu memproses transaksi dengan biaya jauh lebih rendah.

Robinhood Chain Berbasis Teknologi Arbitrum

Robinhood Chain bukanlah blockchain yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan ekosistem lain. Jaringan tersebut dibangun menggunakan teknologi Arbitrum dan berfungsi sebagai jaringan Layer-2 yang melakukan settlement ke Ethereum.

Peluncuran Robinhood Chain menjadi bagian dari strategi Robinhood untuk memperluas layanan keuangan berbasis blockchain, terutama dalam bidang tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA) dan token saham.

Robinhood sendiri menyebut jaringan tersebut sebagai bagian dari upayanya menghubungkan keuangan tradisional dengan decentralized finance (DeFi).

Dalam perkembangan berikutnya, aktivitas Robinhood Chain justru berkembang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Selain tokenisasi saham, jaringan tersebut mulai menjadi tempat berbagai aplikasi dan aktivitas perdagangan aset kripto, termasuk aktivitas memecoin.

Baca: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melonjak 471% Jadi Rp228 Miliar, Saham Bergerak Fluktuatif

Arbitrum Ikut Mendapat Keuntungan

Salah satu bagian penting dalam kontroversi biaya Robinhood Chain adalah skema pembagian pendapatan dengan ekosistem Arbitrum.

Berdasarkan laporan tersebut, Robinhood membayarkan sekitar 10% dari pendapatan bersih sesuai ketentuan lisensi. Dari jumlah tersebut, 8% dialokasikan kepada kas Arbitrum DAO, sementara 2% digunakan untuk Developer Guild.

Model tersebut membuat semakin tingginya aktivitas Robinhood Chain berpotensi memberikan dampak positif terhadap pendapatan ekosistem Arbitrum.

Perkembangan ini juga ikut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor terhadap token ARB. Laporan BeInCrypto pada 5 September 2026 menyebut harga ARB telah naik sekitar 90% dari titik terendah sepanjang masa yang dicapai pada Juni, sementara biaya Robinhood Chain sempat mencapai rekor sekitar US$4,45 juta pada 2 September.

Yakovenko: Pendapatan Bisa Membiayai Biaya Solana

Yakovenko kemudian menyoroti besarnya porsi pendapatan yang diberikan kepada Arbitrum.

Menurutnya, jika dana tersebut digunakan untuk membayar biaya transaksi di Solana, jumlahnya bahkan dapat mencukupi biaya transaksi hingga beberapa kali lipat.

Argumen tersebut menjadi inti kritik Yakovenko: biaya transaksi yang dibayarkan pengguna seharusnya dapat ditekan jika infrastruktur blockchain yang lebih murah digunakan.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh pelaku industri.

Tidak Semua Pihak Setuju dengan Kritik Solana

Co-Founder Gnosis, Martin Köppelmann, memberikan pandangan berbeda. Ia menilai Robinhood merupakan perusahaan yang memang bertujuan menghasilkan keuntungan sehingga tidak tepat jika layanan jaringan tersebut dibandingkan seolah-olah harus diberikan secara gratis.

Perdebatan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal teknologi blockchain, tetapi juga menyangkut model bisnis, struktur biaya, monetisasi jaringan, dan siapa yang menikmati pendapatan dari aktivitas pengguna.

Yakovenko kemudian membandingkan biaya tersebut dengan biaya yang biasanya dikenakan oleh front-end atau aplikasi dalam ekosistem blockchain. Ia menyebut kisaran biaya yang lazim berada di sekitar 50 hingga 80 basis poin.

Aktivitas Robinhood Chain Terus Meningkat

Pertumbuhan Robinhood Chain memang cukup signifikan sejak diluncurkan.

Pada pertengahan Juli, jaringan tersebut sudah mampu memproses sekitar 10,4 juta transaksi dalam sehari. Bahkan, Robinhood kemudian menyatakan dalam laporan kinerja perusahaan bahwa jaringan tersebut telah memproses lebih dari 150 juta transaksi dan mencatat lebih dari US$12 miliar volume DEX setelah peluncuran.

Aktivitas jaringan kemudian semakin beragam. Tidak hanya token saham, aplikasi pihak ketiga dan perdagangan memecoin juga menjadi sumber aktivitas penting.

CoinDesk melaporkan bahwa aplikasi peluncuran memecoin Pons bahkan menghasilkan hampir US$5,95 juta biaya dalam periode 24 jam, sementara Robinhood Chain sendiri mengumpulkan sekitar US$4 juta pada periode yang sama.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa fungsi Robinhood Chain mulai berkembang melampaui tujuan awalnya sebagai infrastruktur untuk tokenisasi aset dan saham.

Biaya Tinggi Jadi Perhatian Investor

Bagi investor dan pengguna kripto, persoalan biaya menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah sebuah blockchain dapat mempertahankan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Biaya transaksi yang tinggi dapat mengurangi efisiensi bagi pengguna, terutama bagi trader yang melakukan transaksi dalam jumlah besar atau dengan nilai transaksi relatif kecil.

Di sisi lain, tingginya biaya juga dapat menjadi indikasi bahwa sebuah jaringan sedang mengalami permintaan yang sangat besar. Bagi operator jaringan dan ekosistem pendukungnya, kondisi tersebut dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan.

Inilah yang membuat perdebatan Robinhood Chain menarik untuk diperhatikan.

Robinhood Chain Sempat Mengalami Gangguan

Selain persoalan biaya, Robinhood Chain juga sempat mengalami gangguan produksi blok pada pekan ini. Meski demikian, menurut laporan yang menjadi sumber pemberitaan, pengguna masih harus membayar biaya transaksi sekitar US$0,40.

Kondisi tersebut semakin memperbesar pertanyaan mengenai keseimbangan antara biaya yang dibayarkan pengguna dan kualitas layanan jaringan.

Pada akhirnya, pengguna menjadi pihak yang membayar biaya transaksi, Ethereum memperoleh biaya settlement, sementara Robinhood dan ekosistem Arbitrum mendapatkan bagian sesuai struktur bisnis yang berlaku.

Persaingan Blockchain Semakin Ketat

Kontroversi antara Solana dan Robinhood Chain memperlihatkan bahwa persaingan blockchain pada 2026 tidak hanya berfokus pada kecepatan transaksi.

Biaya, skalabilitas, tokenisasi aset, DeFi, volume perdagangan, serta kemampuan menghasilkan pendapatan kini menjadi faktor yang sama pentingnya.

Baca: DeFi Development Siapkan Dana US$20 Juta, Saham CHAD Tawarkan Dividen 13% untuk Tambah Koleksi Solana

Robinhood memiliki keunggulan berupa basis pengguna dari perusahaan fintech besar dan fokus pada tokenisasi aset dunia nyata. Sementara itu, Solana tetap menonjolkan biaya transaksi rendah dan throughput tinggi.

Bagi pasar kripto, persaingan tersebut dapat menjadi katalis bagi pengembangan teknologi blockchain yang semakin efisien.

Namun bagi investor, tingginya aktivitas transaksi belum tentu otomatis berarti pertumbuhan fundamental yang berkelanjutan. Komposisi aktivitas, kualitas pengguna, volume perdagangan, pendapatan bersih, dan kemampuan jaringan mempertahankan pengguna tetap perlu diperhatikan.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pengembangan dan penulisan ulang dari informasi sumber untuk kebutuhan pemberitaan dan informasi keuangan. Data pasar kripto dapat berubah sangat cepat. Informasi ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto.

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.

Eksplorasi konten lain dari Tradingan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca