Tradingan – #Marex Group berencana memperluas #penggunaan #aset #kripto sebagai agunan margin awal untuk #transaksi #derivatif. Perusahaan jasa #keuangan tersebut menargetkan #Bitcoin (BTC) dan #Ethereum (ETH) dapat mulai diterima sebagai agunan pada akhir 2026.

Baca: Standard Chartered Prediksi Harga Kripto Satu Ini Naik Lebih dari 2.000%
Langkah ini menjadi bagian dari ekspansi program aset digital Marex setelah sebelumnya perusahaan memperkenalkan penggunaan USDC, stablecoin yang diterbitkan oleh Circle, sebagai agunan margin awal untuk transaksi derivatif.
Rencana tersebut disampaikan Stephen Hood, Kepala Kliring Marex untuk Amerika, dalam keterangannya kepada Investing.com. Menurut Hood, penerimaan Bitcoin dan Ethereum akan dilakukan secara bertahap dan pada tahap awal kemungkinan masih dibatasi.
“Ya, kami berencana menerima BTC dan ETH pada akhir tahun ini,” ujar Hood.
Ia menjelaskan bahwa perluasan tersebut akan dilakukan secara terbatas sampai Marex memiliki kemampuan untuk menjaminkan aset kripto tersebut kepada bursa maupun lembaga kliring.
Marex Sebelumnya Gunakan USDC sebagai Agunan
Sebelum berencana menerima Bitcoin dan Ethereum, Marex telah lebih dahulu mengembangkan fasilitas penggunaan USDC sebagai margin awal.
Pada pertengahan Juli, perusahaan mengumumkan bahwa klien dapat menyetor USDC sebagai agunan margin awal. Transaksi tersebut disebut sebagai salah satu langkah awal dalam penerapan sistem margin berbasis stablecoin pada pasar derivatif.
Transaksi perdana dilakukan bersama Prime Trading LLC, sementara Coinbase menyediakan sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk layanan kustodi, konversi fiat, serta pelaporan.
Penggunaan USDC dinilai dapat memberikan alternatif bagi pelaku pasar yang membutuhkan mekanisme pengelolaan agunan berbasis aset digital, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada sistem tradisional.
Nilai Transaksi Awal Masih Dibatasi
Marex menerapkan batasan cukup ketat pada transaksi USDC perdana. Menurut Hood, karena transaksi tersebut masih menjadi tahap awal dan berlangsung dalam skala terbatas, nilai transaksi dibatasi hingga sekitar US$10 juta.
Namun, batas tersebut tidak bersifat permanen. Marex memperkirakan kapasitas transaksi dapat meningkat seiring dengan kesiapan sistem dan meningkatnya permintaan dari klien.
Hood menyebut batas tersebut kemungkinan akan mengalami perubahan pada Oktober, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci berapa besar batas baru yang akan diterapkan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Marex masih berada dalam tahap pengembangan infrastruktur dan manajemen risiko sebelum memperluas penggunaan aset digital dalam skala yang lebih besar.
Baca: Mengapa Konsistensi Lebih Penting daripada Profit Besar dalam Trading?
Permintaan Datang dari Berbagai Jenis Klien
Menurut Hood, minat terhadap fasilitas agunan berbasis aset digital tidak hanya berasal dari satu kelompok investor.
Permintaan tersebut datang dari berbagai segmen klien, termasuk hedge fund, market maker, investor tunai obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga entitas keuangan terdesentralisasi atau DeFi.
Keragaman klien tersebut menunjukkan bahwa aset digital mulai mendapatkan perhatian yang lebih besar sebagai bagian dari infrastruktur pasar keuangan, terutama dalam pengelolaan agunan untuk transaksi derivatif.
Bagi institusi keuangan, kemampuan menggunakan aset digital sebagai agunan berpotensi memberikan fleksibilitas tambahan dalam mengelola modal dan posisi perdagangan.
Regulasi AS Membuka Jalan bagi Aset Kripto sebagai Agunan
Ekspansi Marex juga tidak terlepas dari perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat.
Program tersebut mengikuti surat no-action dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) pada Desember 2025. Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi pedagang komisi berjangka atau futures commission merchants untuk menerima aset digital non-sekuritas, termasuk USDC, Bitcoin, dan Ethereum, sebagai agunan margin nasabah untuk produk derivatif yang berada di bawah pengawasan CFTC, dengan tetap memenuhi sejumlah persyaratan.
Perkembangan regulasi ini memberikan dasar yang lebih jelas bagi perusahaan keuangan untuk mengembangkan layanan yang menghubungkan pasar tradisional dengan aset digital.
Manajemen Risiko Menjadi Fokus Utama
Meskipun Marex melihat peluang besar dari penggunaan aset kripto, perusahaan tetap menempatkan manajemen risiko sebagai salah satu prioritas utama.
Hood menjelaskan bahwa Marex telah membangun kerangka kerja yang mencakup tata kelola risiko, kustodi institusional, serta prosedur operasional untuk mengelola aset digital.
Kerangka tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari kriteria kelayakan aset, tata kelola dompet digital, persetujuan transaksi, hingga keamanan siber.
Menurut Marex, agunan dalam bentuk USDC akan dikelola berdasarkan standar risiko perusahaan yang sama dengan standar yang diterapkan pada bisnis pasar tradisional.
Pendekatan tersebut penting mengingat aset kripto memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aset keuangan konvensional, termasuk volatilitas harga, risiko likuiditas, risiko kustodi, serta risiko operasional dan keamanan digital.
Bitcoin dan Ethereum Jadi Target Berikutnya
Setelah menguji penggunaan USDC, Marex kini menargetkan Bitcoin dan Ethereum sebagai aset digital berikutnya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan margin awal.
Namun, penerapannya tidak akan langsung dilakukan dalam skala besar. Marex berencana membatasi penggunaannya terlebih dahulu sembari memastikan sistem kustodi, pengelolaan risiko, dan mekanisme penjaminan kepada bursa maupun lembaga kliring telah siap.
Jika implementasi berjalan sesuai rencana, langkah tersebut dapat menjadi perkembangan penting dalam integrasi aset kripto dengan pasar derivatif tradisional.
Penggunaan Bitcoin dan Ethereum sebagai agunan juga dapat memberikan alternatif baru bagi institusi yang memiliki aset digital dan ingin menggunakannya secara lebih efisien dalam aktivitas perdagangan.
Integrasi Aset Digital dan Keuangan Tradisional
Rencana Marex menunjukkan semakin kuatnya hubungan antara industri aset digital dan pasar keuangan tradisional.
Sebelumnya, aset kripto lebih banyak dipandang sebagai instrumen investasi atau perdagangan spekulatif. Namun, perkembangan infrastruktur dan regulasi membuat penggunaannya mulai berkembang ke berbagai fungsi keuangan, termasuk kustodi, pembayaran, penyelesaian transaksi, serta agunan.
Dengan rencana menerima Bitcoin dan Ethereum sebagai margin awal, Marex berupaya memanfaatkan perkembangan tersebut sekaligus tetap menjaga standar manajemen risiko institusional.
Bagi pasar kripto, langkah ini juga dapat menjadi sinyal bahwa aset digital semakin diperhitungkan dalam infrastruktur pasar keuangan global. Namun, penerapan secara luas tetap akan bergantung pada perkembangan regulasi, kesiapan lembaga kliring, infrastruktur kustodi, likuiditas, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko volatilitas aset kripto.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Kualitas Entry Tanpa Menambah Indikator
Kesimpulan
Marex Group menargetkan Bitcoin dan Ethereum dapat digunakan sebagai agunan margin awal untuk transaksi derivatif pada akhir 2026. Rencana tersebut merupakan kelanjutan dari penggunaan USDC yang sebelumnya telah diperkenalkan perusahaan.
Meskipun potensinya cukup besar, Marex akan menerapkan penggunaan BTC dan ETH secara terbatas pada tahap awal. Perusahaan ingin memastikan seluruh aspek terkait kustodi, manajemen risiko, keamanan siber, dan kemampuan menjaminkan aset kepada bursa serta lembaga kliring telah siap.
Perkembangan ini menjadi salah satu indikasi semakin dekatnya integrasi antara aset kripto dan sistem keuangan tradisional, terutama di sektor perdagangan derivatif.
Catatan: Informasi mengenai harga aset kripto dan pasar keuangan dapat berubah dengan cepat. Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.
