Tradingan – #Goldman #Sachs #memperkirakan #harga #minyak #mentah #Brent masih akan #bergerak di #kisaran USD 80 hingga USD 90 per barel #dalam #waktu dekat. Proyeksi tersebut akan bertahan hingga muncul kepastian mengenai kesepakatan baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, atau apabila terjadi eskalasi besar dalam konflik yang memengaruhi kawasan Timur Tengah.

Menurut analis Goldman Sachs, perkembangan geopolitik saat ini menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia. Ketidakpastian pasokan dari wilayah Timur Tengah masih cukup tinggi sehingga pasar terus memantau setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang terjadi.
Baca: Checklist Sebelum Membuka Posisi Trading: 10 Hal yang Wajib Diperiksa Trader Pemula
Harga Brent Turun Setelah AS Tunda Rencana Serangan ke Iran
Harga futures minyak Brent sempat melemah ke kisaran rendah hingga pertengahan USD 80 per barel setelah Amerika Serikat memutuskan untuk menunda rencana serangan terhadap Iran.
Langkah tersebut diambil guna memberikan ruang bagi proses negosiasi yang disebut sebagai “kesempatan terakhir”. Di saat yang sama, berbagai laporan menyebutkan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir.
Perkembangan ini memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa risiko gangguan pasokan minyak dapat berkurang apabila proses diplomasi berjalan sesuai harapan.
Goldman Sachs Nilai Harga Wajar Brent Sekitar USD 80 per Barel
Dalam analisis terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan nilai wajar (fair value) harga spot Brent berada di kisaran USD 80 per barel.
Perhitungan tersebut didasarkan pada sejumlah indikator, antara lain:
- Tingkat persediaan minyak komersial negara-negara OECD.
- Estimasi permintaan minyak global saat ini.
- Hubungan historis antara tingkat persediaan dan harga minyak spot.
Tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Yulia Zhestkova Grigsby menyebutkan bahwa pasar saat ini baru memperhitungkan premi risiko dalam tingkat yang moderat, meskipun ancaman terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah masih tergolong tinggi.
Artinya, apabila konflik meningkat atau jalur distribusi kembali terganggu, harga minyak masih berpotensi mengalami kenaikan lebih lanjut.
Baca Juga: 25 Kesalahan Trading yang Sering Dilakukan Pemula dan Cara Menghindarinya
Pasar Minyak Fisik Semakin Ketat
Di sisi lain, Goldman Sachs menilai kondisi pasar minyak fisik justru semakin ketat.
Indikator stok global yang digunakan bank investasi tersebut menunjukkan penurunan sekitar 6,3 juta barel per hari selama dua pekan terakhir.
Penurunan tersebut dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
- Berkurangnya aliran minyak dari kawasan Teluk Persia.
- Menurunnya pengiriman melalui Laut Merah.
- Turunnya ekspor minyak Rusia.
- Meningkatnya impor minyak di kawasan Asia, terutama China.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga minyak sempat terkoreksi, keseimbangan antara pasokan dan permintaan global masih berada dalam kondisi yang cukup ketat.
Aliran Minyak dari Teluk Persia Turun Drastis
Goldman Sachs mencatat bahwa aliran minyak dari Teluk Persia kini hanya mencapai sekitar 36 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik, atau sekitar 9 juta barel per hari berdasarkan rata-rata bergerak selama tujuh hari.
Angka tersebut turun signifikan dibandingkan paruh pertama Juli yang masih berada di kisaran hampir 80 persen dari level normal.
Sementara itu, total distribusi minyak melalui Laut Merah, termasuk jalur Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, juga mengalami penurunan sekitar 1,7 juta barel per hari secara mingguan.
Penurunan aktivitas distribusi ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Arab Saudi Alihkan Distribusi Lewat Pipa SUMED
Sebagai upaya mengurangi dampak gangguan distribusi di Laut Merah, Arab Saudi meningkatkan penggunaan pipa SUMED (Suez-Mediterranean Pipeline).
Aliran menuju terminal Ain Sukhna melalui jaringan pipa tersebut meningkat sekitar 1 juta barel per hari dalam satu pekan terakhir.
Strategi ini membantu menjaga kelancaran ekspor minyak menuju kawasan Mediterania meskipun jalur pelayaran utama mengalami hambatan.
Ekspor Rusia Menurun, Impor Asia Justru Melonjak
Goldman Sachs juga melaporkan bahwa ekspor minyak mentah dan kondensat Rusia turun sekitar 1,3 juta barel per hari dalam dua pekan terakhir.
Penurunan ini terjadi setelah pola serangan drone berubah, dari yang sebelumnya menyasar kilang minyak menjadi kapal tanker pengangkut minyak sejak akhir Juni.
Di sisi lain, impor bersih minyak mentah dan kondensat Asia justru meningkat sekitar 5,6 juta barel per hari dalam periode yang sama.
China menjadi kontributor terbesar dengan tambahan impor sekitar 2,3 juta barel per hari.
Menurut Goldman Sachs, lonjakan pembelian tersebut dipengaruhi oleh harga minyak yang relatif lebih rendah pada akhir Juni hingga awal Juli sehingga dimanfaatkan oleh negara-negara Asia untuk meningkatkan cadangan energi mereka.
Baca Juga: Kejar Swasembada Gula, Pemerintah Diminta Optimalkan Lahan Tebu untuk Tingkatkan Produksi Nasional
Prospek Harga Minyak Masih Bergantung pada Geopolitik
Secara keseluruhan, Goldman Sachs menilai prospek harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, terutama hubungan antara Amerika Serikat dan Iran serta kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Selama belum ada kepastian mengenai penyelesaian konflik maupun normalisasi jalur distribusi energi, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi. Di sisi lain, kondisi pasar fisik yang semakin ketat juga berpotensi memberikan dukungan terhadap harga minyak Brent agar tetap berada pada level yang relatif tinggi.

[…] Baca: Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak, Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Penentu […]