#Tradingan – #Liquidity Reversal Model (#LRM): #Strategi Entry Presisi Setelah #Sweeping High/Low – Dalam dunia #trading modern, memahami bagaimana harga bergerak bukan sekadar melihat indikator atau mengikuti arah #tren. Di balik setiap pergerakan signifikan, ada mekanisme #likuiditas yang mengatur arus masuk dan keluarnya order besar. Salah satu konsep #price action yang sangat relevan dengan hal ini adalah Liquidity Reversal Model (LRM)—sebuah pendekatan trading yang fokus menangkap pembalikan harga setelah penyapuan likuiditas pada High atau Low penting.
Baca Juga: Break of Structure Confirmation Strategy (BOS-CS Setup)
Banyak trader profesional menggunakan konsep ini untuk mendapatkan entry yang presisi dengan risiko kecil namun potensi reward besar. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana LRM bekerja, kenapa model ini efektif, dan bagaimana Anda bisa mengaplikasikannya dalam trading sehari-hari.

Apa Itu Liquidity Reversal Model (LRM)?
Liquidity Reversal Model (LRM) adalah strategi yang memanfaatkan momen ketika pasar menyapu likuiditas—atau yang sering disebut sebagai liquidity sweep—di area High atau Low, lalu melakukan pembalikan harga (reversal). Model ini bekerja berdasarkan asumsi bahwa pelaku pasar besar seperti institusi dan market maker membutuhkan likuiditas untuk mengeksekusi order dalam jumlah besar. Untuk mendapatkan likuiditas tersebut, harga sering kali:
- Menembus High atau Low suatu struktur harga,
- Mengambil stop loss trader ritel,
- Mengaktifkan order buy stop atau sell stop,
- Lalu berbalik ke arah berlawanan.
Reversal yang terjadi setelah sweeping High/Low inilah yang menjadi titik entry ideal dalam LRM.
Mengapa Market Melakukan Liquidity Sweep?
Untuk memahami LRM, kita harus memahami eksistensi likuiditas dalam market. Likuiditas adalah “bahan bakar” yang dibutuhkan agar pasar bisa bergerak. Institusi besar tidak bisa masuk pasar secara sembarangan; mereka membutuhkan area yang penuh dengan order di mana mereka bisa mengisi posisi dalam jumlah besar.
Liquidity sweep biasanya dilakukan untuk:
1. Mengambil Stop Loss Trader Ritel
Stop loss biasanya ditempatkan tepat di atas High atau di bawah Low. Itu adalah kumpulan order yang sangat menarik bagi smart money.
2. Mengaktifkan Order Buy Stop atau Sell Stop
Ketika High ditembus, banyak trader breakout akan masuk. Ini menciptakan volume tambahan yang dapat dimanfaatkan institusi.
3. Menciptakan Ilusi “Breakout”
Pasar sering memberi sinyal palsu seolah-olah harga akan terus naik atau turun, padahal sebenarnya hanya mengumpulkan likuiditas.
4. Mengisi Order Besar (Institutional Fill)
Institusi membutuhkan banyak likuiditas untuk entry, sehingga mereka “memaksa” pasar menyapu area tertentu agar order mereka terpenuhi.
Setelah semua itu terjadi, harga sering berbalik arah karena likuiditas sudah tercukupi.
Ciri-Ciri Validnya Liquidity Sweep
Tidak semua penembusan High atau Low dapat dikatakan sebagai sweep. Beberapa karakteristik berikut menandakan sweep yang valid:
1. Wick atau Shadow yang Menembus Level Penting
Semakin signifikan levelnya (PDH, PDL, swing high/low, equal high/low), semakin valid sweep tersebut.
2. Tidak Ada Momentum Lanjutan
Setelah menembus High atau Low, harga cepat kembali masuk ke dalam struktur, menandakan penolakan.
3. Candle Rejection
Bisa berupa pin bar, engulfing, doji rejection, atau pola pembalikan lainnya.
4. Adanya Break of Structure (BOS) atau Change of Character (ChoCH)
Ini adalah konfirmasi bahwa momentum sudah berbalik.
Ketika semua kondisi ini terpenuhi, kemungkinan terjadinya reversal semakin tinggi.
Baca Juga: Bybit Luncurkan LBTC On-Chain Earn Party: Cara Mint LBTC & Dapatkan Hadiah 100.000 BARD
Struktur Dasar Liquidity Reversal Model (LRM)
Untuk menerapkan LRM secara konsisten, trader perlu mengikuti alur logika berikut:
1. Identifikasi Level Likuiditas
Cari area seperti:
- Equal high / equal low
- Previous Day High/Low
- Swing high/low
- Session high/low
- Supply dan demand zone
Level ini adalah tempat likuiditas berkumpul.
2. Tunggu Sweeping High/Low
Harga harus menembus level tersebut, idealnya melalui wick panjang atau candle spike.
3. Tunggu Konfirmasi Reversal
Konfirmasi bisa berupa:
- Bos/ChoCH pada timeframe kecil
- Pola pembalikan kuat
- Rejection candle
4. Entry Saat Pullback
Jangan entry pada candle pertama setelah sweep. Tunggu retracement ke area:
- Order Block (OB)
- Fair Value Gap (FVG)
- 50% wick
- Mitigation block
Entry pada pullback membuat risiko lebih kecil dan entry lebih presisi.
5. Stop Loss di Luar Area Sweep
Ini menjaga posisi tetap aman jika ada sweep kedua (liquidity hunt tambahan).
6. Target Take Profit
Umumnya diarahkan ke:
- Liquidity pool di arah sebaliknya
- Area Imbalance
- Swing high/low terdekat
Pendekatan ini sering memberikan rasio 1:3, 1:5, hingga 1:10.
Contoh Skenario Buy Menggunakan LRM
Bayangkan harga sedang downtrend ringan dan membentuk equal lows. Trader banyak menempatkan stop loss di bawah zona tersebut.
- Harga turun menembus equal lows dengan wick kuat.
- Candle berikutnya langsung ditutup bullish, menunjukkan penolakan.
- Terjadi Change of Character di timeframe kecil.
- Harga retrace ke bullish FVG atau bullish Order Block.
- Entry buy dilakukan.
- Stop loss di bawah wick sweep.
- Target pada swing high, imbalance, atau supply zone.
Hasilnya, entry sangat presisi dengan SL kecil dan RR besar.
Contoh Skenario Sell Menggunakan LRM
Skenarionya berlawanan:
- Harga membentuk equal highs atau previous high.
- Market menembusnya, mengambil likuiditas.
- Candle berikutnya menunjukkan penolakan kuat.
- Struktur berubah menjadi bearish (ChoCH).
- Harga retrace ke bearish FVG/OB.
- Entry sell.
- Stop loss di atas swept high.
- Target ke swing low atau liquidity pool di bawah.
Model ini bekerja baik di semua pasangan, termasuk forex, kripto, indeks, dan emas.
Kelebihan Liquidity Reversal Model
✓ Entry Sangat Presisi
Karena menunggu sweep dan pullback, SL biasanya ketat.
✓ Fokus Pada Mecahan Struktur Nyata
Tidak bergantung pada indikator.
✓ Rasio Risiko Berbanding Profit Tinggi
RR besar sangat mungkin dicapai.
✓ Bisa Dipakai di Semua Timeframe
Dari scalping hingga swing trading.
Baca Juga: Apakah Bitcoin Terancam Komputasi Kuantum? Analisis Ancaman, Fakta Terbaru, dan Prediksi Para Ahli
Kekurangan dan Risiko
✗ False Sweep
Terkadang harga terus bergerak mengikuti breakout, sehingga sweep berubah menjadi breakout valid.
✗ Membutuhkan Kesabaran
Trading tanpa konfirmasi sangat berbahaya.
✗ Tidak Cocok Untuk Market Sempit
Sideways kecil membuat sweep kurang efektif.
Tips Trading dengan Liquidity Reversal Model
- Gunakan multi timeframe untuk memahami konteks besar.
- Fokus pada level penting, bukan high/low random.
- Gunakan alert untuk menghindari FOMO.
- Simpan screenshot jurnal untuk melatih intuisi sweeping.
- Jangan entry tanpa konfirmasi, meskipun sweep terlihat jelas.
Kesimpulan
Liquidity Reversal Model (LRM) adalah strategi trading efektif yang memanfaatkan pola sweep and reverse—penyapuan likuiditas lalu pembalikan. Model ini memanfaatkan perilaku alami pasar dalam mencari likuiditas, sehingga entry menjadi lebih presisi, SL lebih kecil, dan potensi profit lebih besar. Dengan mengikuti langkah-langkah mulai dari identifikasi level, menunggu sweep, konfirmasi struktur, hingga entry pullback, trader dapat membangun sistem trading yang efisien, logis, dan adaptif terhadap berbagai kondisi pasar.



