IHSG Anjlok 1,24% ke Level 9.021 Jelang Pengumuman BI Rate, Ini Penyebabnya


Tradingan – #Indeks #Harga #Saham #Gabungan (IHSG) #kembali #mencatatkan #kinerja #negatif #pada #perdagangan #sesi #pertama, Rabu (21/1/2026). Pelemahan ini terjadi menjelang pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Baca juga: Psikologi Trading Saat Market Bergerak Sangat Cepat

IHSG Anjlok 1,24% ke Level 9.021 Jelang Pengumuman BI Rate, Ini Penyebabnya

Berdasarkan data perdagangan, IHSG turun sebesar 113,21 poin atau 1,24% ke level 9.021,48. Pergerakan pasar didominasi oleh tekanan jual, dengan mayoritas saham berada di zona merah.


Mayoritas Saham Melemah, Transaksi Tetap Tinggi

Sepanjang sesi perdagangan, sebanyak 575 saham mengalami penurunan, sementara hanya 143 saham menguat dan 83 saham stagnan. Aktivitas pasar tetap tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp20,9 triliun dari total 38,72 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam lebih dari 2,5 juta transaksi.

Baca Juga: Kenapa Trader Sering Menyesal Setelah Menutup Posisi

Kondisi ini mencerminkan tingginya aksi jual investor yang cenderung mengambil sikap wait and see menjelang keputusan penting dari Bank Indonesia.


Saham LQ45 Jadi Penekan IHSG

Dari jajaran saham unggulan LQ45, beberapa emiten besar menjadi pemberat utama IHSG. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) tercatat sebagai top losers setelah anjlok signifikan. Disusul oleh PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang juga mengalami koreksi tajam.

Di sisi lain, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan, seperti PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).


Sentimen Global dan BI Rate Tekan Pasar

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen global yang masih penuh ketidakpastian. Penguatan dolar AS serta meningkatnya risiko global membuat investor lebih berhati-hati.

Selain itu, pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Sejumlah ekonom memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan di tengah tekanan eksternal, meskipun ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas.


Sektor Saham Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya terjadi pada saham unggulan, tetapi juga merata di berbagai sektor. Sektor properti dan konsumer primer menjadi yang paling tertekan dalam perdagangan kali ini, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.

Baca Juga: Tesla (TSLA) Anjlok 5% Setelah Laporan Pengiriman Q1 2026 Mengecewakan, Ini Penyebabnya


Kesimpulan

Pelemahan IHSG sebesar 1,24% menjelang pengumuman BI Rate menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap kebijakan moneter. Investor cenderung bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian global dan arah kebijakan suku bunga.

Ke depan, keputusan Bank Indonesia akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan IHSG, terutama dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Tinggalkan Komentar

Copyright © 2025 Tradingan.com | Theme by Topoin.com, powered Aopok.com, Sponsor Topbisnisonline.com - Piool.com - Iklans.com.