Tradingan – Menganalisis Hubungan antara #Penggunaan Protokol dan Nilai #Token – Dalam melakukan #analisis fundamental #aset kripto, harga token bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Di balik sebuah token biasanya terdapat protokol, jaringan #blockchain, atau aplikasi yang memiliki aktivitas dan penggunaan tertentu.
Semakin banyak sebuah protokol digunakan, semakin besar pula aktivitas ekonomi yang terjadi di dalam ekosistemnya. Namun, apakah peningkatan penggunaan protokol selalu membuat nilai token ikut meningkat?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Baca Juga: Cara Menilai Kualitas Tokenomics dari Sisi Permintaan
Hubungan antara penggunaan protokol dan nilai token perlu dilihat melalui beberapa faktor, mulai dari jumlah pengguna, volume transaksi, Total Value Locked (TVL), pendapatan protokol, hingga mekanisme tokenomics dan fungsi token itu sendiri.

Apa Itu Penggunaan Protokol?
Protokol dalam dunia kripto merupakan sistem atau aturan yang memungkinkan berbagai aktivitas berjalan di atas teknologi blockchain.
Protokol dapat memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah:
- Blockchain Layer 1 dan Layer 2.
- Decentralized Exchange (DEX).
- Protokol lending dan borrowing.
- Liquid staking.
- Protokol yield farming.
- Infrastruktur blockchain.
- Aplikasi decentralized finance (DeFi).
Untuk mengetahui seberapa banyak sebuah protokol digunakan, investor dapat melihat beberapa metrik.
Beberapa metrik yang umum digunakan antara lain:
- Jumlah pengguna aktif.
- Jumlah transaksi.
- Volume transaksi.
- Total Value Locked (TVL).
- Trading volume.
- Fees yang dihasilkan.
- Revenue protokol.
- Jumlah aset yang digunakan dalam protokol.
Tidak semua metrik harus digunakan untuk setiap proyek. Indikator yang relevan akan bergantung pada jenis dan model bisnis protokol.
Mengapa Penggunaan Protokol Penting?
Salah satu cara untuk menilai apakah sebuah proyek blockchain memiliki kegunaan nyata adalah dengan melihat aktivitas yang terjadi di dalam protokolnya.
Misalnya, sebuah decentralized exchange mengalami peningkatan volume perdagangan secara konsisten. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa semakin banyak pengguna memanfaatkan layanan yang disediakan oleh protokol tersebut.
Begitu juga dengan blockchain yang mengalami peningkatan jumlah transaksi, pengguna aktif, aplikasi, dan aset yang berada di dalam ekosistemnya.
Namun, aktivitas yang tinggi tetap harus dianalisis lebih lanjut.
Protokol yang ramai digunakan belum tentu menghasilkan nilai ekonomi yang besar bagi tokennya.
Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara penggunaan protokol dan value accrual token.
Penggunaan Protokol Tidak Sama dengan Nilai Token
Kesalahan yang cukup umum dalam analisis kripto adalah menganggap bahwa peningkatan penggunaan protokol secara otomatis akan menyebabkan harga token naik.
Hubungannya sebenarnya tidak selalu seperti itu.
Misalnya, sebuah protokol mengalami pertumbuhan pengguna hingga dua kali lipat. Volume transaksi dan pendapatannya juga meningkat.
Secara fundamental, perkembangan tersebut terlihat positif.
Namun, investor masih perlu mencari tahu:
Apakah token tersebut mendapatkan manfaat langsung dari pertumbuhan protokol?
Jika token tidak memiliki peran penting dalam aktivitas protokol, peningkatan penggunaan mungkin hanya memberikan sedikit dampak terhadap permintaan token.
Sebaliknya, apabila token digunakan untuk staking, membayar biaya, menjadi collateral, atau memiliki mekanisme lain yang menciptakan permintaan, pertumbuhan protokol berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap token.
Dengan kata lain:
Protokol yang sukses belum tentu membuat tokennya sukses.
Hal tersebut sangat bergantung pada desain ekonomi token.
Memahami Value Accrual
Value accrual merupakan konsep penting ketika membahas hubungan antara aktivitas protokol dan nilai token.
Secara sederhana, value accrual berkaitan dengan bagaimana nilai ekonomi yang dihasilkan oleh suatu protokol dapat memberikan manfaat atau menciptakan permintaan terhadap tokennya.
Setiap proyek memiliki mekanisme yang berbeda.
Token dapat memiliki fungsi seperti:
- Digunakan untuk membayar biaya transaksi.
- Digunakan untuk staking.
- Digunakan sebagai collateral.
- Memberikan hak governance.
- Digunakan untuk mendapatkan akses tertentu.
- Mendapatkan manfaat dari mekanisme distribusi pendapatan.
- Mengalami pengurangan suplai melalui mekanisme burn.
Semakin penting peran token dalam ekosistem, semakin menarik untuk melihat apakah pertumbuhan penggunaan protokol dapat menciptakan peningkatan permintaan terhadap token.
Namun, investor tetap harus memeriksa mekanisme aktualnya karena tidak semua token governance, misalnya, memiliki klaim ekonomi terhadap pendapatan protokol.
Perhatikan TVL
Total Value Locked (TVL) merupakan salah satu metrik yang sering digunakan untuk menganalisis protokol DeFi.
TVL menunjukkan jumlah aset yang terkunci atau digunakan dalam sebuah protokol berdasarkan metodologi dan sumber data yang digunakan.
TVL yang tinggi dapat menunjukkan bahwa terdapat banyak modal yang digunakan dalam protokol. Akan tetapi, TVL tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan.
Misalnya:
- Protokol A memiliki TVL US$2 miliar.
- Protokol B memiliki TVL US$500 juta.
Sekilas Protokol A terlihat lebih besar.
Namun, jika Protokol A hanya menghasilkan sedikit aktivitas dan pendapatan, sementara Protokol B memiliki volume transaksi serta revenue yang jauh lebih tinggi, perbandingan tersebut menjadi lebih kompleks.
Karena itu, TVL sebaiknya dianalisis bersama metrik lainnya.
Analisis Volume Transaksi
Volume transaksi dapat memberikan gambaran mengenai seberapa aktif sebuah protokol digunakan.
Pada decentralized exchange, misalnya, volume perdagangan menjadi salah satu indikator yang cukup penting.
Pertumbuhan volume yang konsisten dapat menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pengguna.
Namun, volume yang besar tidak selalu berarti protokol memiliki fundamental yang kuat.
Volume dapat meningkat karena:
- Insentif.
- Aktivitas spekulatif.
- Program reward.
- Kondisi pasar yang sangat bullish.
- Pengguna yang berpindah dari protokol lain.
- Aktivitas jangka pendek.
Oleh karena itu, investor sebaiknya melihat apakah pertumbuhan volume tersebut bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Baca Juga: Mengapa Distribusi Token Awal Penting bagi Investor Kripto?
Perhatikan Fees dan Revenue
Selain volume, fees dan revenue dapat membantu memberikan gambaran mengenai kemampuan sebuah protokol menghasilkan nilai ekonomi.
Sebagai contoh, sebuah protokol menghasilkan volume transaksi sebesar US$1 miliar per bulan.
Namun, angka tersebut belum menunjukkan berapa banyak pendapatan yang sebenarnya diperoleh protokol.
Investor dapat melihat:
Volume → Fees → Revenue
Ketiga indikator tersebut memberikan informasi yang berbeda.
Volume menunjukkan tingkat aktivitas.
Fees menunjukkan biaya yang dibayarkan pengguna.
Revenue menunjukkan bagian ekonomi yang benar-benar diterima protokol berdasarkan definisi dan mekanisme masing-masing proyek.
Semakin jelas hubungan antara aktivitas pengguna dan pendapatan protokol, semakin mudah investor memahami model ekonominya.
Market Cap Perlu Dibandingkan dengan Aktivitas
Kapitalisasi pasar token juga dapat dibandingkan dengan aktivitas ekonomi protokol.
Misalnya:
Market Cap: US$5 miliar
Annualized Revenue: US$50 juta
Secara sederhana, investor dapat melihat rasio:
Market Cap ÷ Annualized Revenue = 100x
Rasio tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan proyek lain yang memiliki model dan kategori serupa.
Namun, rasio ini bukan ukuran pasti bahwa sebuah token murah atau mahal.
Investor tetap perlu mempertimbangkan:
- Tingkat pertumbuhan protokol.
- Kualitas revenue.
- Tokenomics.
- Kompetitor.
- Potensi ekspansi.
- Risiko teknologi.
- Kondisi pasar.
Perbandingan juga sebaiknya dilakukan terhadap proyek yang memiliki model ekonomi serupa, bukan sembarang token.
Waspadai Penggunaan yang Didukung Insentif
Salah satu hal penting dalam menganalisis pertumbuhan protokol adalah mencari tahu dari mana pertumbuhan tersebut berasal.
Sebuah protokol dapat memberikan token sebagai reward untuk menarik pengguna.
Akibatnya, jumlah pengguna, TVL, dan transaksi dapat meningkat dengan cepat.
Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan permintaan organik.
Ketika reward dikurangi atau dihentikan, pengguna mungkin berpindah ke protokol lain yang menawarkan insentif lebih menarik.
Karena itu, investor perlu membedakan:
Pertumbuhan organik
dengan
pertumbuhan karena insentif.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melihat apakah aktivitas tetap bertahan setelah program insentif berkurang.
Perhatikan Tokenomics
Penggunaan protokol yang meningkat tetap dapat menghasilkan performa token yang kurang baik apabila tokenomics-nya buruk.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan jumlah token yang beredar.
Misalnya, sebuah protokol mengalami pertumbuhan pengguna yang cukup besar. Namun, pada saat yang sama terjadi token unlock dalam jumlah besar.
Jika peningkatan permintaan tidak mampu mengimbangi pertumbuhan suplai, token dapat menghadapi tekanan jual.
Beberapa aspek tokenomics yang perlu diperiksa antara lain:
- Circulating supply.
- Total supply.
- Maximum supply.
- Token unlock.
- Inflasi token.
- Emisi token.
- Distribusi token.
- Kepemilikan tim dan investor awal.
- Mekanisme burn.
Dengan demikian, analisis token tidak cukup hanya melihat seberapa banyak protokol digunakan.
Lihat Tren, Bukan Hanya Angka Saat Ini
Satu angka tidak selalu memberikan gambaran yang lengkap.
Misalnya sebuah protokol memiliki TVL sebesar US$2 miliar.
Angka tersebut terlihat besar.
Namun, bagaimana jika enam bulan sebelumnya TVL mencapai US$5 miliar?
Artinya, protokol tersebut sebenarnya sedang mengalami penurunan.
Sebaliknya, protokol dengan TVL US$500 juta mungkin terlihat lebih kecil, tetapi jika enam bulan sebelumnya hanya US$100 juta, terdapat pertumbuhan yang cukup signifikan.
Karena itu, investor sebaiknya melihat perkembangan metrik dari waktu ke waktu.
Beberapa periode yang dapat dibandingkan antara lain:
- 1 bulan.
- 3 bulan.
- 6 bulan.
- 1 tahun.
Dari sana, investor dapat melihat apakah pertumbuhan protokol bersifat konsisten atau hanya terjadi dalam periode tertentu.
Bandingkan dengan Protokol Sejenis
Analisis akan menjadi lebih berguna ketika sebuah protokol dibandingkan dengan kompetitornya.
Misalnya investor sedang menganalisis beberapa DEX.
Metrik yang dapat dibandingkan meliputi:
| Metrik | Protokol A | Protokol B | Protokol C |
|---|---|---|---|
| Market Cap | US$2 miliar | US$4 miliar | US$1,5 miliar |
| Volume Bulanan | US$10 miliar | US$12 miliar | US$8 miliar |
| Fees Bulanan | US$15 juta | US$20 juta | US$12 juta |
| Revenue Bulanan | US$5 juta | US$8 juta | US$4 juta |
| Pertumbuhan Pengguna | 25% | 10% | 40% |
Angka dalam tabel hanya merupakan ilustrasi.
Data tersebut dapat membantu investor menemukan perbedaan antara valuasi token dan aktivitas protokol.
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa proyek dengan market cap paling rendah merupakan proyek yang paling murah.
Perlu dilihat juga kualitas pertumbuhan, tokenomics, keamanan, likuiditas, kompetisi, dan prospek jangka panjang.
Buat Kerangka Analisis yang Sederhana
Untuk mempermudah proses analisis, investor dapat menggunakan beberapa pertanyaan berikut.
1. Apakah protokol benar-benar digunakan?
Cari tahu siapa pengguna protokol dan aktivitas apa yang dilakukan.
2. Apakah penggunaannya bertumbuh?
Bandingkan jumlah pengguna, transaksi, volume, TVL, atau metrik lain dari waktu ke waktu.
3. Apakah protokol menghasilkan revenue?
Periksa fees dan revenue serta bagaimana keduanya berkembang.
4. Apa fungsi token?
Cari tahu apakah token memiliki fungsi yang benar-benar penting dalam ekosistem.
5. Bagaimana value accrual-nya?
Tentukan apakah pertumbuhan aktivitas protokol menciptakan permintaan atau manfaat ekonomi terhadap token.
6. Bagaimana kondisi tokenomics?
Periksa suplai, unlock, inflasi, emisi, distribusi, dan mekanisme burn.
7. Bagaimana valuasinya?
Bandingkan market cap atau FDV dengan protokol sejenis.
8. Apa sumber pertumbuhannya?
Cari tahu apakah pertumbuhan berasal dari penggunaan organik atau program insentif.
9. Apa risikonya?
Perhatikan risiko smart contract, keamanan, kompetisi, regulasi, sentralisasi, dan ketergantungan terhadap protokol lain.
Fundamental Tidak Menjamin Harga Naik
Meskipun penggunaan protokol meningkat dan fundamental terlihat kuat, harga token tidak selalu langsung mengikuti perkembangan tersebut.
Pasar kripto dipengaruhi banyak faktor.
Dalam jangka pendek, harga dapat bergerak karena:
- Sentimen pasar.
- Pergerakan Bitcoin.
- Kondisi likuiditas.
- Berita regulasi.
- Listing di bursa.
- Perkembangan makroekonomi.
- Narasi pasar.
- Aktivitas spekulatif.
Karena itu, analisis fundamental lebih tepat digunakan untuk memahami kualitas dan valuasi sebuah aset, bukan sebagai alat untuk memastikan arah harga dalam jangka pendek.
Trader dapat mengombinasikan analisis fundamental dengan analisis teknikal untuk mendapatkan perspektif yang lebih lengkap.
Baca Juga: Cara Menganalisis Jadwal Vesting Token untuk Mengantisipasi Tekanan Jual
Kesimpulan
Hubungan antara penggunaan protokol dan nilai token merupakan salah satu aspek penting dalam analisis fundamental aset kripto.
Peningkatan pengguna, transaksi, TVL, volume, fees, dan revenue dapat menunjukkan bahwa sebuah protokol semakin banyak digunakan. Namun, perkembangan tersebut tidak otomatis membuat nilai token meningkat.
Hal yang lebih penting adalah memahami bagaimana aktivitas ekonomi protokol terhubung dengan token.
Jika token memiliki fungsi penting dan terdapat mekanisme value accrual yang jelas, pertumbuhan protokol berpotensi menciptakan permintaan tambahan terhadap token. Sebaliknya, jika token hanya memiliki hubungan yang lemah dengan aktivitas ekonomi protokol, pertumbuhan penggunaan belum tentu memberikan dampak yang berarti terhadap nilainya.
Oleh karena itu, analisis yang lebih menyeluruh perlu menggabungkan penggunaan protokol, tren pertumbuhan, revenue, fungsi token, value accrual, tokenomics, valuasi, kompetisi, dan risiko.
Dengan pendekatan tersebut, investor tidak hanya melihat apakah sebuah token sedang populer, tetapi juga mencoba memahami apakah terdapat aktivitas ekonomi nyata yang mendukung valuasinya.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai materi edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Aset kripto memiliki risiko dan volatilitas tinggi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan trading atau investasi.

[…] Baca Juga: Menganalisis Hubungan antara Penggunaan Protokol dan Nilai Token […]