Tradingan – #Standard Chartered memulai #liputan terhadap #token #Chainlink (LINK) dengan #proyeksi #harga yang cukup #agresif. #Bank asal #Inggris tersebut memperkirakan #HargaLINK dapat mencapai US$200 pada akhir 2030, jauh di atas level perdagangan sekitar US$8 yang menjadi acuan dalam laporan tersebut.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, harga LINK berpotensi mengalami kenaikan lebih dari 2.000 persen dalam beberapa tahun ke depan. Prediksi itu didasarkan pada meningkatnya adopsi tokenisasi aset, perkembangan keuangan terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi), serta semakin besarnya kebutuhan institusi terhadap layanan oracle dan interoperabilitas blockchain.
Baca: Mengapa Konsistensi Lebih Penting daripada Profit Besar dalam Trading?
Standard Chartered Prediksi LINK Naik 25 Kali Lipat
Geoff Kendrick, Kepala Global Digital Assets Research Standard Chartered, menilai Chainlink memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekosistem aset digital.
Dalam catatannya, Kendrick menggambarkan Chainlink sebagai salah satu pemimpin pasar dalam menyediakan data bagi jaringan blockchain melalui teknologi decentralized oracle.
Oracle Chainlink memungkinkan jaringan blockchain memperoleh data dari luar blockchain secara aman dan menggunakannya dalam berbagai aplikasi serta transaksi berbasis smart contract.
Menurut analisis Standard Chartered, Chainlink saat ini menyediakan koneksi on-chain untuk sekitar 70 persen pasar DeFi secara global dan lebih dari 80 persen pasar DeFi di jaringan Ethereum.
Nilai transaksi yang difasilitasi melalui ekosistem Chainlink juga disebut telah melampaui US$32 triliun.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Standard Chartered melihat adanya peluang pertumbuhan yang besar bagi LINK seiring semakin luasnya penggunaan blockchain dalam sektor keuangan.
Tokenisasi Aset Diproyeksikan Tumbuh Pesat
Salah satu faktor utama yang menjadi dasar proyeksi Standard Chartered adalah perkembangan tokenisasi aset dunia nyata atau Real-World Assets (RWA).
Kendrick memperkirakan nilai aset yang ditokenisasi di jaringan blockchain dapat meningkat menjadi sekitar US$4 triliun pada akhir 2028, dari sekitar US$340 miliar saat ini.
Tokenisasi memungkinkan aset seperti surat berharga, obligasi, dana investasi, properti, hingga aset keuangan lainnya direpresentasikan dalam bentuk token berbasis blockchain.
Pertumbuhan tersebut dinilai dapat menciptakan kebutuhan yang lebih besar terhadap infrastruktur seperti Chainlink, terutama untuk menyediakan data eksternal, komunikasi lintas jaringan, kepatuhan, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Selain tokenisasi, aktivitas DeFi juga diperkirakan mengalami pertumbuhan sangat besar.
Standard Chartered memproyeksikan aset yang aktif di sektor DeFi dapat meningkat sekitar 37 kali lipat menjadi US$2,7 triliun pada akhir 2030.
Chainlink Dinilai Punya Infrastruktur End-to-End
Standard Chartered menilai Chainlink memiliki keunggulan karena menyediakan berbagai komponen yang dapat mendukung siklus hidup aset yang ditokenisasi.
Dalam analisisnya, Chainlink disebut sebagai salah satu platform yang mampu mendukung kebutuhan aset tokenisasi secara menyeluruh, baik untuk sektor DeFi maupun Traditional Finance (TradFi).
Platform tersebut mencakup sejumlah komponen utama.
Pertama, Onchain Data Protocol, yang memungkinkan data dari luar blockchain dibawa ke dalam jaringan.
Kedua, Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP), yang dirancang untuk memungkinkan komunikasi dan perpindahan informasi maupun aset antarjaringan blockchain.
Ketiga, berbagai perangkat untuk kebutuhan kepatuhan dan privasi, termasuk Automated Compliance Engine.
Keempat, Chainlink Runtime Environment, yang menghubungkan berbagai layanan tersebut dalam satu alur kerja.
Kombinasi berbagai layanan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Standard Chartered optimistis terhadap prospek jangka panjang Chainlink.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Kualitas Entry Tanpa Menambah Indikator
Adopsi Institusi Jadi Katalis Pertumbuhan Chainlink
Selain pertumbuhan DeFi dan tokenisasi aset, Standard Chartered juga menyoroti meningkatnya penggunaan teknologi Chainlink oleh perusahaan serta institusi keuangan besar.
Sejumlah nama yang disebut dalam analisis tersebut antara lain Swift, U.S. Depository Trust & Clearance Corporation, Euroclear, JPMorgan, Mastercard, UBS, Fidelity, dan S&P Global.
Keterlibatan institusi besar dinilai menjadi indikator bahwa teknologi blockchain semakin banyak digunakan untuk kebutuhan infrastruktur keuangan, bukan hanya untuk perdagangan aset kripto.
Jika tren tersebut terus berlanjut, permintaan terhadap layanan oracle, interoperabilitas, data pasar, dan konektivitas blockchain berpotensi meningkat.
Pendapatan Chainlink Diproyeksikan Naik 25 Kali Lipat
Standard Chartered memperkirakan sumber pendapatan Chainlink juga akan mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya penggunaan blockchain oleh institusi keuangan tradisional.
Saat ini, protokol DeFi masih menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan biaya Chainlink. Namun, bank tersebut memperkirakan sektor TradFi akan semakin berperan penting dalam menghasilkan biaya bagi jaringan pada masa mendatang.
Standard Chartered memperkirakan total pendapatan biaya Chainlink dapat meningkat sekitar 25 kali lipat hingga akhir 2030.
Pertumbuhan tersebut diperkirakan berasal dari kenaikan sekitar 20 kali lipat biaya oracle yang berasal dari pelanggan TradFi di luar jaringan serta peningkatan biaya yang berkaitan dengan pertumbuhan aset DeFi.
Dengan asumsi terdapat hubungan linear antara pertumbuhan biaya dan harga token, Kendrick memperkirakan kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi harga LINK untuk meningkat sekitar 25 kali lipat dalam periode proyeksi.
Menurut analisis tersebut, kenaikan tersebut bahkan berpotensi melampaui pertumbuhan harga Bitcoin (BTC) maupun Ethereum (ETH) dalam cakrawala proyeksi Standard Chartered.
Ini Proyeksi Harga LINK hingga 2030
Standard Chartered memberikan target harga LINK secara bertahap hingga akhir 2030. Proyeksi tersebut adalah:
- Akhir 2026: US$13
- Akhir 2027: US$41
- Akhir 2028: US$82
- Akhir 2029: US$133
- Akhir 2030: US$200
Dengan demikian, target US$200 menjadi salah satu proyeksi jangka panjang yang cukup optimistis terhadap token Chainlink.
Namun, target harga tersebut bukan merupakan jaminan bahwa LINK akan benar-benar mencapai level tersebut. Harga aset kripto sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar, likuiditas, sentimen investor, regulasi, perkembangan teknologi, serta tingkat adopsi blockchain.
Risiko yang Bisa Menghambat Harga LINK
Meskipun memberikan proyeksi bullish, Standard Chartered juga mengidentifikasi sejumlah risiko yang dapat menyebabkan target tersebut tidak tercapai.
Salah satunya adalah pertumbuhan tokenisasi institusional yang lebih lambat dari perkiraan. Apabila institusi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengadopsi aset berbasis blockchain, permintaan terhadap layanan Chainlink juga dapat tumbuh lebih lambat.
Risiko berikutnya adalah persaingan dari penyedia layanan lain. Industri blockchain terus berkembang dan Chainlink menghadapi persaingan dari berbagai proyek yang menawarkan layanan oracle, interoperabilitas, data, serta infrastruktur blockchain.
Selain itu, terdapat pula risiko teknis yang dapat memengaruhi perkembangan jaringan maupun penerapan teknologi Chainlink dalam skala besar.
Karena itu, investor tetap perlu melihat proyeksi tersebut sebagai perkiraan berdasarkan sejumlah asumsi, bukan kepastian harga di masa depan.
Prospek Chainlink di Tengah Pertumbuhan Aset Digital
Proyeksi Standard Chartered menunjukkan bahwa prospek Chainlink tidak hanya bergantung pada aktivitas perdagangan aset kripto. Perkembangan tokenisasi aset, DeFi, interoperabilitas blockchain dan masuknya institusi keuangan tradisional menjadi faktor yang berpotensi memperluas penggunaan teknologi Chainlink.
Jika tokenisasi aset dan penggunaan blockchain dalam sektor keuangan berkembang sesuai perkiraan, kebutuhan terhadap infrastruktur yang mampu menghubungkan data dunia nyata dengan jaringan blockchain juga berpotensi meningkat.
Dalam skenario tersebut, LINK dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya penggunaan ekosistem Chainlink.
Meski demikian, investor perlu memahami bahwa investasi aset kripto memiliki risiko tinggi dan harga LINK dapat bergerak sangat volatil. Target harga Standard Chartered sebaiknya digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan, bukan sebagai kepastian keuntungan investasi.
Baca Juga: Pengeboran Sumur Migas dan Teknologi Jadi Kunci Kemandirian Energi RI
Kesimpulan
Standard Chartered memproyeksikan harga Chainlink (LINK) mencapai US$200 pada akhir 2030, dengan target bertahap US$13 pada 2026, US$41 pada 2027, US$82 pada 2028 dan US$133 pada 2029.
Optimisme tersebut didukung oleh potensi pertumbuhan tokenisasi aset, DeFi, penggunaan layanan oracle, serta meningkatnya adopsi teknologi blockchain oleh institusi keuangan.
Namun, proyeksi tersebut tetap memiliki sejumlah risiko, termasuk perlambatan tokenisasi institusional, persaingan industri dan hambatan teknis. Oleh karena itu, perkembangan fundamental Chainlink dan kondisi pasar kripto tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
