Tradingan – #Kasus #runtuhnya #salah #satu #platform #emas #digital di #China #belakangan #ini #memicu #kehebohan di #pasar aset digital global. Peristiwa ini bukan hanya sekadar kegagalan bisnis teknologi finansial, tetapi juga menjadi peringatan penting bagi negara-negara lain—termasuk Indonesia—untuk memperkuat regulasi dan tata kelola sektor investasi digital. Dengan meningkatnya minat terhadap emas digital dan masuknya banyak pemain baru di pasar, pelajaran dari kejadian di China bisa menjadi panduan penting bagi investor dan pembuat kebijakan di Tanah Air.
Baca juga: Harga Emas Dunia Kolaps, Saham ANTM & BRMS Ikut Menderita

Head of Asia Pacific (ex China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council (WGC), Shaokai Fan, menilai insiden di China tidak serta-merta menghentikan perkembangan emas digital secara global.
Namun, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pertumbuhan teknologi keuangan harus dibarengi dengan fondasi regulasi yang kuat, termasuk di Indonesia.
Menurut Shaokai Fan, minat masyarakat terhadap emas digital justru masih menunjukkan tren meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya operator, penyedia layanan, hingga perusahaan teknologi yang mulai masuk ke perdagangan emas berbasis digital di berbagai belahan dunia.
“Saya rasa masa depan dari emas digital ini ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah operator dan juga provider yang menyediakan emas digital. Sebagai contoh pegadaian sudah menawarkan emas secara digital di Indonesia,” kata Head of Asia Pacific (ex China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, dalam Konferensi Pers Laporan Gold Demand Trends Tahun 2025, di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Lebih lanjut, Shaokai Fan menjelaskan, masuknya perusahaan teknologi ke sektor emas digital turut memperluas suplai dan variasi produk di pasar.
Baca juga: Rekor Saham Alphabet GOOGL di $350: Trader Meningkatkan Taruhan Long Menjelang Laporan Keuangan
“Kami memperkirakan bahwa tren ini akan semakin mendorong suplai dari emas digital dan ini menunjukkan bahwa banyak pembeli yang merasa tertarik juga dengan emas digital,” ujarnya.
Perlu Regulasi yang Jelas
Namun demikian, Shaokai Fan menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut harus diiringi dengan kejelasan kepemilikan aset dasar.
Produk emas digital, menurutnya, harus benar-benar didukung oleh emas fisik yang jelas keberadaannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Menurut saya, cara yang lebih baik untuk menjawab itu adalah memastikan ada regulasi yang benar dan framework regulasi yang benar di tempat untuk memperoleh emas digital untuk memastikan kolapsi itu tidak terjadi,” ujarnya.
Prospek Indonesia 2026
Di Indonesia, perdagangan emas digital dinilai memiliki prospek yang cukup menjanjikan pada 2026. Keberadaan Pegadaian sebagai penyedia emas digital, serta dukungan institusi lain yang mengombinasikan emas fisik dan digital, menjadi fondasi awal yang relatif kuat.
Meski begitu, ia menekankan bahwa pembelajaran dari kasus di China harus menjadi perhatian serius. Indonesia perlu memastikan adanya kerangka regulasi yang komprehensif, mulai dari pelaporan kepemilikan emas, mekanisme penyimpanan, hingga kewajiban audit berkala.
Baca Juga: Position Exposure Mapping: Memetakan Risiko Total Akun dalam Trading
“Ada cek dan audit yang benar-benar jadi, memiliki framework regulasi yang benar-benar di tempat menurut saya, lebih kritikal untuk mencegah kolaps. Jadi kembali lagi, saya tekankan bahwa memang kerangka regulasi yang akan menjadi kunci utama,” pungkasnya.




[…] Baca juga: Geger Kasus Emas Digital di China: Pelajaran Penting dan Peringatan untuk Indonesia […]